Jumat
24 Juli 2026 | 2 : 16

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pilih Pemimpin di Pemilu 2024, Megawati Ingatkan Kader PDI Perjuangan Perhatikan Kriteria Ini

pdip-jatim-230624-bbk-gbk-01

JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr (H.C.) Megawati Sukarnoputri minta para kader dan pengurus Partai, mulai Anak Ranting hingga DPP Partai, untuk senantiasa menjadi benteng Pancasila dan NKRI.

“Jadilah semua benteng Pancasila, benteng kebhinekaan Indonesia, benteng NKRI, dan benteng seluruh rakyat Indonesia,” ujar Megawati di hadapan sedikitnya 80 ribu kader PDI Perjuangan dalam acara puncak peringatan Bulan Bung Karno (BBK) di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (24/6/2023).

Baca juga: Sebut Puncak Peringatan BBK 2023 Konsolidasi Paling Clear, Kanang: Ini Jadi Alat untuk Menang Hattrick Spektakuler

Menurut Megawati, struktural Partai dalam berbagai tingkatannya, memiliki peran dan tanggung jawab yang semua. Dia mengibaratkan anak panah yang melesat, maka anak ranting itu laksana ujung panah.

“Anak ranting itu adalah kalau namanya panah, maka dia itu senjata yang duluan masuk. Jadi jangan mikir kita kecil, kalau tidak ada anak ranting, tidak ada ranting. Kalau tidak ada ranting, tidak ada PAC, begitu juga PAC mendukung yang namanya DPC,” jelasnya.

“Kalau ada DPC yang tidak mau kerja, lapor Ibu! Jangan hanya mau duduk di kursi. Kalau DPD sama juga, DPP lebih sama juga,” imbuhnya.

Presiden ke-5 RI itu juga mengingatkan, bahwa pada Pemilu 2024, tidak boleh salah memilih pemimpinnya. Menurutnya, kesalahan dalam waktu lima menit akan berakibat dalam lima tahun.

“Saya ingatkan, saya ingatkan, saya ingatkan 5 menit coblosnya, 5 tahun ngerasain seneng atau susahnya. Hati-hati loh! Gunakan hak pilihmu sebaik-baiknya. Pak Ganjar Pranowo akan terus berjuang bersama Presiden Jokowi di dalam mendayagunakan bonus demografi bagi percepatan kemajuan bangsa,” tutur Megawati.

Karena itu, Megawati memaparkan kriteria pemimpin yang cocok dan pantas untuk memimpin Indonesia. Memilih pemimpin hendaknya didasarkan pada kemampuannya bekerja, pengalamannya dalam memimpin.

“Kalau mau lihat pemimpin, jangan hanya lihat tampangnya! Kalau pemimpin mesti dilihat lahir batin. Jangan fisik saja. Diperlukan pemimpin yang memiliki pengalaman baik di legislatif maupun eksekutif. Kepemimpinan yang visioner, arif, bijaksana, dan memiliki rekam jejak prestasi yang baik, serta mengakar. Mengakar pada akar rumput,” terangnya.

Kepemimpinan yang baik, tambah Megawati, menjadi kunci membangun Indonesia sebagai bangsa pelopor. Dengan kepeloporan itulah, kemakmuran dan kesejahteraan dapat diwujudkan dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada.

“Kita mesti bangun Indonesia sebagai bangsa pelopor. Jalan kemakmuran kita wujudkan melalui sebuah revolusi mental dan penguasaan iptek dan kedepankan riset dan inovasi,” jelasnya. (set/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pedagang Pasar Baru Magetan Cemas Tergusur Rencana Pembangunan Bioskop, DPRD Turun Tangan

MAGETAN – Kawasan Pasar Baru Magetan kembali menjadi sorotan. Belum usai persoalan penataan parkir, kini muncul ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Mulai Musran-Musanran, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memulai Musyawarah Ranting dan Musyawarah Anak Ranting dari Kecamatan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...