Senin
06 Juli 2026 | 2 : 03

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Merawat Seni Tiban dari Blitar hingga Tulungagung, Jejak Kepedulian Guntur Wahono

pdip-portal-1770707651334

BLITAR — Malam itu, Joglo Serbaguna Dusun Tambakboyo, Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan hanya karena agenda reses anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, tetapi karena ruang itu menjadi titik temu kepedulian terhadap sebuah warisan budaya rakyat: seni tradisi tiban.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, memanfaatkan masa Reses Sidang II Tahun 2025–2026 untuk menyapa para pelaku seni tiban sekaligus memperkuat eksistensi kesenian yang tumbuh dari akar masyarakat tersebut. Kegiatan yang digelar Senin (9/2/2026) malam itu dihadiri perwakilan 20 paguyuban tiban se-Blitar Raya.

Bagi Guntur, reses bukan sekadar agenda politik formal. Forum itu juga menjadi ruang kebudayaan, terlebih karena dirangkaikan dengan reorganisasi kepengurusan Paguyuban Tiban Blitar Raya Tahun 2026. Sebagai pembina paguyuban, ia memimpin langsung jalannya musyawarah dengan suasana yang cair dan demokratis.

Melalui mufakat bersama, forum menetapkan Sokeh sebagai Ketua Paguyuban Tiban Blitar Raya, Tukimin sebagai Sekretaris, dan Faisul sebagai Bendahara. Keputusan diterima seluruh peserta dengan lapang, menandai proses organisasi yang terbuka dan partisipatif.

Dalam sambutannya, Guntur menaruh harapan besar pada kepengurusan baru. Baginya, penguatan seni tiban tak hanya soal pentas, tetapi juga pengelolaan organisasi yang sehat.

“Harapan saya, ke depan paguyuban tiban di Blitar Raya bisa lebih rapi. Manajemennya baik, program kerjanya jelas, dan antaranggota semakin kompak,” ujarnya.

Menariknya, dalam forum tersebut sempat muncul wacana pemilihan ulang pembina paguyuban. Meski mayoritas peserta tetap menghendaki Guntur Wahono melanjutkan peran tersebut, ia justru menegaskan sikap terbukanya terhadap proses demokrasi.

“Ini forum demokratis. Jangankan seratus suara, sepuluh suara, bahkan satu suara pun harus kita dengar. Kalau memang ada yang ingin maju, saya siap,” tegas anggota Komisi C DPRD Jatim itu.

Sikap itu, menurut sejumlah peserta, mencerminkan cara Guntur merawat seni tiban: tanpa dominasi, tanpa intervensi, memberi ruang tumbuh bagi para pelaku seni itu sendiri.

Perjalanan panjang mendampingi seni tiban juga membuahkan hasil nyata. Guntur mengisahkan, saat pertama kali terlibat dalam organisasi, paguyuban tiban di Blitar hanya berjumlah empat grup. Kini, jumlahnya berkembang pesat menjadi 20 grup.

“Di Tulungagung juga berkembang. Dari yang awalnya hanya dua grup, sekarang sudah menjadi sebelas grup. Harapan kami, seni tiban bisa terus berkembang hingga Trenggalek,” ungkapnya.

Perkembangan itu, menurut Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar tersebut, menjadi penanda bahwa seni tiban masih sangat dicintai masyarakat. Setiap gelaran tiban selalu dipenuhi antusiasme warga, menjadi ruang kebersamaan yang mengikat identitas budaya rakyat.

Tak berhenti di tingkat lokal, paguyuban tiban juga memiliki agenda lawatan budaya Blitar–Lampung yang kini berkembang hingga Lampung Tengah. Bahkan, mulai mengemuka gagasan membentuk kepengurusan seni tiban tingkat nasional sebagai wadah bersama lintas daerah.

Dalam sesi penyerapan aspirasi, para anggota paguyuban menyampaikan harapan agar organisasi semakin aktif, mulai dari intensitas rapat, penyusunan program kerja, hingga evaluasi rutin setiap event.

Menjawab pertanyaan wartawan, Guntur menjelaskan bahwa dukungannya terhadap seni tiban juga diwujudkan melalui fasilitasi sarana pendukung dari APBD Provinsi Jawa Timur.

“Kami fasilitasi panggung besar, gamelan, terop, sound system, hingga mobil operasional. Harapannya, saat ada event besar, teman-teman tidak lagi kesulitan sarana,” jelasnya.

Fasilitas tersebut telah dimanfaatkan bersama, termasuk saat lawatan ke Trenggalek yang melibatkan tidak kurang dari 45 unit kendaraan.

Melalui reses yang menyatu dengan denyut kebudayaan rakyat, Guntur Wahono berharap seni tradisi tiban tidak hanya lestari, tetapi tumbuh semakin kokoh sebagai identitas budaya yang hidup—dirawat bersama, dari Blitar, Tulungagung, hingga ke daerah-daerah lain. (arif/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Dewanti Rumpoko Minta Reboisasi Jadi Prioritas Mitigasi Bencana di Malang 

Anggota Komisi D DPRD Jatim Dewanti Rumpoko meminta Pemprov Jatim memprioritaskan program reboisasi sebagai ...
LEGISLATIF

DPRD Jatim Minta Pemprov Pastikan Skema Kredit Berbunga Murah bagi UMKM Tetap Tersedia

DPRD Jawa Timur meminta Pemprov memastikan tetap tersedia skema kredit berbunga murah bagi UMKM meski Program ...
LEGISLATIF

Doding Rahmadi: Meski Daerah Efisiensi, Pemkab Harus Kreatif Dongkrak PAD demi Penuhi Aspirasi Warga

Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menegaskan efisiensi anggaran tidak boleh menghambat pembangunan. DPRD ...
KRONIK

Kolaborasi Unair-Pemkab Banyuwangi, Perkuat Pendidikan Dokter Spesialis dan Layanan Kesehatan

BANYUWANGI – Universitas Airlangga (Unair) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) ...
LEGISLATIF

Reses Erna Sujarwati, Warga Minta Pengerukan Sungai Keradenanrejo dan Sidomlangean

LAMONGAN – Agenda reses anggota legislatif bukan sekadar pemenuhan kewajiban formal, melainkan ruang krusial untuk ...
UMKM

Turnamen Sepak bola Tarkam di Kabupaten Pasuruan Selesai, Pedagang Es Jus Raup Laba Jutaan

KABUPATEN PASURUAN – Turnamen sepak bola antar-kampung (tarkam) bergengsi, Bulat Cup 2026 Piala Bupati, resmi ...