Selasa
13 Oktober 2026 | 1 : 14

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Menghidupkan Marhaenisme di Hutan Jono: Saat Gotong Royong Petani Menjinakkan Paceklik Ekonomi

IMG-20260630-WA0008_copy_660x440

BOJONEGORO – Di tengah bayang-bayang pelemahan ekonomi dan penurunan daya beli yang kian menjepit masyarakat bawah, ratusan petani pinggiran hutan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memilih jalan ke-Indonesian yang terbukti ampuh bertahan melintasi zaman: gotong royong.

​Ratusan petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jati Makmur bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Pertapan Marianto, berbondong-bondong memadati Kawasan Hutan Jono Puro, Desa Jono, Kecamatan Temayang.

Dengan menjunjung tumpeng di kepala, mereka menggelar ritual adat Sedekah Bumi. Sebuah ritus tahunan yang bukan sekadar seremonial, melainkan ruang konsolidasi sosial untuk bertahan hidup.

​Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bojonegoro Amin Thohari, aparat Babinkamtibmas, serta tokoh adat setempat.

​Tameng Menghadapi Ketidakpastian
​Dalam sambutannya di hadapan warga, Amin Thohari menyoroti situasi ekonomi hari ini yang sedang tidak menentu.

Menurutnya, fluktuasi harga komoditas dan melonjaknya biaya produksi pertanian menuntut petani untuk tidak berjalan sendiri-sendiri.

​”Dari kebersamaan, dari kerja kolektif, dan dari saling bantu, lahir ketahanan ekonomi rakyat kecil. Ini adalah esensi kekuatan Marhaen yang sebenarnya. Jangan sampai petani berjuang sendirian,” ujar Amin menekankan pentingnya ekonomi kolektif.

​Amin menambahkan bahwa tradisi Sedekah Bumi di Desa Jono adalah pengejawantahan hidup dari Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.

Namun, persatuan itu tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan melalui permusyawaratan. Semua keputusan tata kelola lahan hutan didengar bersama dan dijalankan bersama.

​Memangkas Biaya Lewat Kerja Bergilir
​Apa yang disampaikan Amin bukan sekadar teori politik di atas kertas. Di Desa Jono, Marhaenisme dan gotong royong mewujud konkret dalam kalkulasi biaya produksi pertanian, terutama saat musim kemarau tiba.

​Ketika tiba musim tanam jagung, para petani menggarap lahan yang berdekatan secara komunal. Pola kerja dari hulu ke hilir—mulai dari pengolahan tanah, penanaman benih, perawatan, hingga masa panen—dilakukan dengan sistem pergiliran kerja (gentian). Hari ini seluruh petani menggarap lahan si A, esok hari berpindah ke lahan si B.

​Sistem komunal ini terbukti memangkas biaya operasional secara signifikan. Penggunaan alat pertanian dan penyediaan benih dilakukan bersama.

​Biaya panen yang biasanya membengkak untuk mengupah buruh dapat ditekan hingga titik terendah karena tenaga kerja disuplai oleh sesama petani secara sukarela.

​”Beban berat menjadi ringan jika dijalankan bersama. Ini bukti nyata bagaimana cara bertahan di tengah situasi ekonomi yang sulit,” tutur Amin.

​Menjaga Iklim Kondusif
​Mariyanto, salah satu tokoh petani Desa Jono, mengungkapkan bahwa ritual Sedekah Bumi dan doa bersama yang dipimpin oleh kyai setempat menjadi momentum krusial untuk merekatkan kembali modal sosial warga.

​Melalui ritus doa ini, hasil pertanian kawasan hutan diharapkan tetap melimpah karena sektor ini menjadi urat nadi utama penopang ekonomi keluarga mereka.

​”Dengan doa bersama ini, kami berharap masyarakat petani hutan Desa Jono mampu menjaga rasa kebersamaan, guyub, rukun, dan toleransi. Jika suasana kondusif, kita bisa fokus bekerja mengelola hutan dengan tenang,” kata Mariyanto.

​Sedekah Bumi di Temayang tahun ini menegaskan satu hal: ketika negara dan pasar sedang melambat, masyarakat adat dan petani hutan punya cara sendiri untuk merawat ketahanan pangan mereka.

Beban dibagi, hasil dinikmati bersama—sebuah potret Marhaenisme yang tetap hidup di bawah naungan tegakan pohon hutan Bojonegoro.(dian/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Traktor Bantuan APBN Diduga Menyimpang, DPRD Jember: Dinas Pertanian Tidak Bisa Memberikan Data

JEMBER – Dugaan penyimpangan bantuan traktor dari APBN 2025 di Kabupaten Jember belum terjawab. Sejumlah kelompok ...
KRONIK

Gema 111.111 Al-Waqiah di Sumenep, Bupati Fauzi Ajak ASN Perkuat Budaya Religius

SUMENEP – Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menginisiasi gerakan pembacaan bersama 111.111 kali Surat Al-Waqiah. ...
KRONIK

Atasi Kekeringan Dampak El Nino, Sonny Salurkan Bantuan Air Bersih ke Siliragung

BANYUWANGI – Dampak musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino mulai dirasakan oleh sejumlah warga di wilayah ...
EKSEKUTIF

Promosi dan Mutasi Pejabat Pemkab Blitar Bakal Berbasis Manajemen Talenta

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto menegaskan promosi dan mutasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) ...
KABAR CABANG

DPC Tulungagung Dorong Media Partai Jadi Penyambung Lidah Rakyat

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung mendorong perombakan mendasar dalam ...
LEGISLATIF

Sampah Sungai Ancam Picu Banjir, Ketua DPRD Kota Malang Dorong Pemasangan Trash Boom

MALANG – Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita mendorong Pemerintah Kota Malang memperkuat ...