Selasa
20 Oktober 2026 | 4 : 04

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Konsisten Latih Tari Klasik, Imam: Kita Pasti akan Menjadi Bangsa Maju

PDIP-Jatim-Imam-11102021

NGAWI – Di tengah arus globalisasi, makin banyak generasi muda yang mulai melupakan budaya bangsa. Ada gejala, sebagian besar generasi muda ini menyukai budaya impor demi mengejar tren dan gaya.

Kendati demikian, Kabupaten Ngawi beruntung memiliki banyak budayawan dan seniman yang masih konsisten nguri-uri budaya pun melestarikan seni dan budaya kepada generasi masa kini.

Imam Joko Sulistyo, seniman yang memiliki sanggar tari Suryo Budoyo, memiliki perhatian serius untuk melatih generasi muda dengan tari tradisional.

“Kita memang fokus pada tari etnis mataraman, gaya Solo. Dan itu termasuk jenis tari klasik,” katanya kepada pdiperjuangan-jatim.com, Senin (11/10/21).

Pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPC PDI Perjuangan Ngawi ini menuturkan, sangar tari Suryo Budoyo yang dibentuk pada tahun 2005, memang fokus melatih anak-anak muda. Lebih khusus bagi anak usia sekolah dasar, menengah, hingga remaja.

Terkait anak muda sebagai sasaran peserta tari di sanggarnya, ia memiliki misi khusus. Yakni, ia ingin anak-anak Ngawi, setelah dewasa nantinya bisa berbudaya dengan pernah berlatih, dan belajar kebudayaan, khususnya pada seni tari.

“Untuk melestarikan budaya kita, karena budaya kita itu luar biasa. Seperti yang dikatakan Raja Mataram, rum kuncaraning bangsa, gumantung ana ing budaya (kebesaran suatu bangsa bergantung terhadap budayanya, red),” jelasnya.

“Kalau kita mau nguri-uri budaya, melestarikannya, kita pasti akan menjadi bangsa yang maju. Sudah banyak negara maju, tapi tetap melestarikan budayanya,” tambah Imam.

Saat ini, Imam memiliki 100 lebih anak murid. Anak-anak ini berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Ngawi. Pelatihan tari di sanggar milik Imam biasa digelar setiap hari Senin hingga Sabtu. Waktu pelaksanaannya, mulai pagi hari, siang dan sore, bergantung pada kelas yang diikuti siswa.

Sementara untuk tari yang diajarkan, kreator tari Reco Banteng itu mengatakan, kebanyakan tari klasik dari Jawa Tengah.

“Untuk anak cewek biasanya, Bondan, Golek, Gambyong, Gambir Anom. Untuk cowok, tari Kuda-kuda, Wanoro, kiprah ratu sewu, pedang tameng. Tujuan saya untuk melestarikan budaya kita,” ujarnya. (Mmf/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Buleks Minta Pemkot Surabaya Tindak Tegas Provider Kabel Utilitas yang Melanggar

SURABAYA – Anggota Komisi B DPRD Surabaya Budi Leksono meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengawasi dan ...
LEGISLATIF

634 Titik Panas Terdeteksi di Jatim, Eddy Paripurna Desak Kesiapsiagaan Karhutla Diperkuat

SURABAYA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Eddy Paripurna, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) ...
KABAR CABANG

DPC Tuban Terima Kedatangan KPU, Koordinasi Hal SIPOL

TUBAN — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tuban terus memperkuat konsolidasi dan tata kelola kelembagaan ...
KRONIK

Amithya Dorong Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas Urban di Kota Malang

MALANG – Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita mendorong penerapan ekonomi hijau ...
KRONIK

Gandeng Kementerian Kehutanan, Sonny Edukasi Warga Cegah Kebakaran Hutan

SITUBONDO – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, mendorong keterlibatan masyarakat sekitar kawasan ...
KABAR CABANG

PAC PDI Perjuangan Kalianget Gelar Lomba Layangan Tenong, Hadiah Mobil dan Paket Umrah

SUMENEP – Pimpinan Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, sukses menggelar lomba ...