Rabu
15 Juli 2026 | 10 : 57

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Konsisten Latih Tari Klasik, Imam: Kita Pasti akan Menjadi Bangsa Maju

PDIP-Jatim-Imam-11102021

NGAWI – Di tengah arus globalisasi, makin banyak generasi muda yang mulai melupakan budaya bangsa. Ada gejala, sebagian besar generasi muda ini menyukai budaya impor demi mengejar tren dan gaya.

Kendati demikian, Kabupaten Ngawi beruntung memiliki banyak budayawan dan seniman yang masih konsisten nguri-uri budaya pun melestarikan seni dan budaya kepada generasi masa kini.

Imam Joko Sulistyo, seniman yang memiliki sanggar tari Suryo Budoyo, memiliki perhatian serius untuk melatih generasi muda dengan tari tradisional.

“Kita memang fokus pada tari etnis mataraman, gaya Solo. Dan itu termasuk jenis tari klasik,” katanya kepada pdiperjuangan-jatim.com, Senin (11/10/21).

Pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPC PDI Perjuangan Ngawi ini menuturkan, sangar tari Suryo Budoyo yang dibentuk pada tahun 2005, memang fokus melatih anak-anak muda. Lebih khusus bagi anak usia sekolah dasar, menengah, hingga remaja.

Terkait anak muda sebagai sasaran peserta tari di sanggarnya, ia memiliki misi khusus. Yakni, ia ingin anak-anak Ngawi, setelah dewasa nantinya bisa berbudaya dengan pernah berlatih, dan belajar kebudayaan, khususnya pada seni tari.

“Untuk melestarikan budaya kita, karena budaya kita itu luar biasa. Seperti yang dikatakan Raja Mataram, rum kuncaraning bangsa, gumantung ana ing budaya (kebesaran suatu bangsa bergantung terhadap budayanya, red),” jelasnya.

“Kalau kita mau nguri-uri budaya, melestarikannya, kita pasti akan menjadi bangsa yang maju. Sudah banyak negara maju, tapi tetap melestarikan budayanya,” tambah Imam.

Saat ini, Imam memiliki 100 lebih anak murid. Anak-anak ini berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Ngawi. Pelatihan tari di sanggar milik Imam biasa digelar setiap hari Senin hingga Sabtu. Waktu pelaksanaannya, mulai pagi hari, siang dan sore, bergantung pada kelas yang diikuti siswa.

Sementara untuk tari yang diajarkan, kreator tari Reco Banteng itu mengatakan, kebanyakan tari klasik dari Jawa Tengah.

“Untuk anak cewek biasanya, Bondan, Golek, Gambyong, Gambir Anom. Untuk cowok, tari Kuda-kuda, Wanoro, kiprah ratu sewu, pedang tameng. Tujuan saya untuk melestarikan budaya kita,” ujarnya. (Mmf/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

DPRD Trenggalek Minta Peningkatan PAD Tak Membebani Rakyat

DPRD Kabupaten Trenggalek meminta pemerintah daerah meningkatkan PAD secara kreatif tanpa membebani masyarakat, ...
EKSEKUTIF

Harga Telur dan Daging Ayam di Ngawi Merangkak Naik, Pemkab Gelar Pasar Murah

NGAWI – Pemerintah Kabupaten Ngawi menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai langkah menjaga stabilitas harga ...
KABAR CABANG

DPC Magetan Mulai Musran dan Musanran, Diana Sasa: Panaskan Mesin Partai, Perkuat Pengabdian Untuk Rakyat

MAGETAN – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Magetan resmi memulai pelaksanaan Musyawarah Ranting ...
KABAR CABANG

DPRD Jember Kaji Obligasi Daerah untuk Perkuat Fiskal di Tengah Berkurangnya Transfer Pusat

DPRD Jember mulai mengkaji penerapan obligasi daerah atau municipal bond sebagai alternatif pembiayaan pembangunan ...
KRONIK

Perkuat Sinergitas Antarlembaga, Komisi I DPRD Banyuwangi Kunker ke Lapas

BANYUWANGI – Komisi I DPRD Banyuwangi melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Banyuwangi ...
KRONIK

Gen Z dan Karang Taruna Motor Ekonomi Kreatif Kampung, Anas: Beri Kesempatan Seluas-luasnya

SURABAYA – Generasi muda dinilai memiliki peran krusial dalam memperkuat pembangunan berbasis masyarakat. Karang ...