Jumat
26 Juni 2026 | 3 : 27

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ibu Kita Kartini

pdip-jatim-raden-ajeng-kartini

HIDUP bukan bagai pisang berkubak, tidak disajikan serba jadi oleh ”the invisible hand” kepada kita. Setiap kali sesudah melangkah, kita harus bersiap menentukan langkah selanjutnya.

Maka, setiap orang, pada suatu ketika, di sesuatu tempat, harus mengambil keputusan—mengenai esensial—di antara banyak perbuatan yang harus dilakukan manusia di dalam perjalanan hidupnya.

Orang tak dapat mengelakkannya dengan dalih apa pun. Sebab, pada asasnya, tidak mengambil sesuatu keputusan dalam dirinya sudah merupakan satu keputusan dan yang terburuk dalam jenisnya.

Keputusan ini dapat menyangkut kepentingan diri sendiri, bisa pula melibatkan nasib, bahkan hidup-matinya orang lain ataupun orang-orang lain.

Semakin banyak jumlah orang yang secara langsung terkena oleh keputusan yang diambil seseorang, semakin beratlah sifat keputusan tadi.

Apabila kita perhitungkan pula mekanisme yang tidak langsung, dapat kiranya dikatakan bahwa tak ada satu pun keputusan yang tidak langsung tidak akan menyinggung keadaan orang lain.

Peran pendidikan

Harus diakui, sesuatu keputusan acap kali tak hanya didasarkan pikiran, pertimbangan nalariah. Hati, pertimbangan perasaan, juga ikut berperan.

Filosof-matematikawan Pascal pernah berujar, ”le coeur a sa raison que la rasion ne peut pas expliquer”—the heart has its reason when reason cannot explain; hati punya penalarannya sendiri jika nalar tidak bisa menjelaskan.

Berarti hati dengan perasaannya, bahkan naluri dekat juga ditata dan dibuat rasional, melalui membaca, menulis, belajar berpikir teratur, dan latihan penalaran secara sadar dan sengaja adalah intisari dari usaha manusia yang lazimnya disebut ”pendidikan”.

Dari sini terlihat betapa penting usaha pendidikan yang dapat membantu manusia mampu mengambil keputusan secara sadar dan berimbang.

Pendidikan merupakan usaha yang dikembangkan oleh Raden Ajeng (RA) Kartini dengan sekuat tenaganya.

Bahwa usaha pendidikan ini secara eksplisit ditujukan ke arah kaumnya, yaitu kaum perempuan, membuat usahanya ini punya makna sangat fundamental, lebih-lebih jika ia dilihat dalam rangka situasi kehidupan perempuan ketika itu.

Usaha pendidikan perempuan yang dipelopori dan dikembangkan Kartini, secara esensial, membantu kaum perempuan mengambil keputusannya sendiri, menentukan langsung derajat kebebasannya.

Sebab, ada-tidaknya kebebasan bukanlah fungsi dari ada-tidaknya kesempatan memilih, tetapi bergantung ada-tidaknya kemampuan orang untuk mengambil sendiri keputusan yang pada satu ketika harus dilakukannya.

Jadi sebenarnya makna dari usaha pendidikan perempuan yang dikembangkan Kartini tak hanya berdasarkan pembangkitan kebiasaan membaca, menulis, dan belajar secara teratur.

Makna itu jadi lebih besar dan menentukan bagi jalannya kehidupan kaum perempuan meningkatkan kemampuannya mengambil keputusan dan melalui kemampuan itu meningkatkan derajat kebebasannya.

Kebebasan dalam arti mampu mengambil sendiri keputusan yang harus diambilnya, dan tak diambilkan orang lain di luar dirinya—apakah itu ”orangtua”, ”paman”, ”abang”, ”suami” atau ”siapa saja”—hanya dengan dalih bahwa dia ”perempuan” karenanya tergolong ”kaum lemah” yang, per definisi, ”harus dilindungi”, dengan sendirinya ”perlu perlindungan” tanpa ditanya atau diminta.

Dengan begini menjadi jelas betapa besar makna dan peranan pendidikan bagi kaum perempuan yang dipelopori dan dikembangkan Kartini di zamannya. Tidak hanya bagi ”kebebasan perempuan”, tetapi bagi ”manusia Indonesia” itu sendiri.

Pertama, karena pengertian kebebasan riil hanya berhubungan dengan makhluk manusia, bukan dengan makhluk binatang berhubung yang harus mengambil keputusan secara sadar adalah manusia dan bukannya hewan.

Kedua, karena manusia, termasuk perempuan, dapat memperbesar kebebasannya hanya melalui kesanggupannya memasukkan ”pertimbangan rasional dan penalaran” ke dalam setiap keputusan yang akan diambilnya di dalam sesuatu situasi tertentu.

Melalui pertumbuhan kebebasan ini, manusia—termasuk perempuan—bergerak ke arah menyempurnakan dirinya.

Ketiga, penalaran dan melalui penalaran ini, rangkaian keputusan yang diambil oleh seorang ibu menentukan sekali bagi pembinaan karakter dan mentalitas anak-anaknya sendiri.

Bukankah kinerja di dalam diri seseorang bergantung pada rangkaian tantangan dan dorongan, dalam bentuk tuntutan pencapaian usaha serta kepercayaan pada diri sendiri, yang diputuskan dan dihadapkan pada dirinya oleh orangtuanya, terutama oleh ibunya.

Keempat, masyarakat berkepentingan tidak hanya memiliki warga yang bersedia mengabdi, juga warga yang punya kesanggupan mengabdi, melalui kemampuan untuk mengambil keputusan, terutama keputusan yang membantu perkembangan karakter dan penalaran anak- anak yang diharapkan kelak dapat menjamin kesinambungan hidup masyarakat bersangkutan.

Hidup yang singkat

Perasaan Kartini tentang kesengsaraan hidup dan nasib kaum perempuan di zamannya dan pikiran serta cita-citanya untuk memperbaiki hal itu melalui pendidikan diungkapkannya dalam surat kepada teman-temannya di Belanda.

Kepada Stella Zeenhandelaar, misalnya, dia bahkan menyatakan harapan Indonesia akan merdeka suatu ketika kelak. Dia juga menulis tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh suatu pemerintah kolonial, serta membicarakan hal-hal yang menyakiti hati bangsa Indonesia.

Hidup Kartini sangat singkat. Lahir 21 April 1879 sebagai anak bupati Jepara dan kawin— lebih tepat ”dikawinkan”—dengan bupati juga, bupati Rembang.

Dapat dibayangkan betapa sakit hatinya ketika kemudian suaminya mengambil ”selir” tiga orang dan hidup bersama di bawah satu atap meski dia tetap istri ”padmi”, istri utama.

Justru poligami ini yang selamanya ditentang Kartini. Untung dia masih sempat mewujudkan cita-citanya, kegiatan mendidik anak-anak rakyat, termasuk anak perempuan di rumahnya. Dia meninggal di usia sangat muda, 25 tahun, sesudah melahirkan anak pertama.

Tujuh tahun sesudah Kartini meninggal, pada 1911, seorang pejabat Belanda yang mengenalnya dan keluarga bupati Jepara dari dekat, Mr JR Abendanon, berhasil mengumpulkan 106 dari surat-surat Kartini yang ditulis dalam bahasa Belanda.

Surat-surat itu diterbitkan berupa buku berjudul Door Duisternistot Licht. Buku ini mendapat sambutan positif yang luas di kalangan para intelektual Barat, bukan hanya Belanda, melainkan juga Inggris, Perancis, dan Amerika.

Berbagai ulasan dengan judul yang berbeda diterbitkan di Belanda, Inggris, Perancis, dan Amerika.

Di Indonesia sendiri, edisi berbahasa Indonesia, lebih tepat untuk saat itu bahasa Melayu, terbit tak lebih awal daripada 1922, dalam seri ”Volkslectuur”, berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Judul ini tetap dipertahankan pujangga Armijn Pane dalam terjemahan yang terbit ulang pada 1938.

Komponis Wage Rudolf Supratman, pencipta himne ”Indonesia Raya” dan kemudian memperdengarkannya dengan biola yang digeseknya sendiri, di sidang penutup Kongres Pemuda Indonesia di Batavia pada tanggal 28 Oktober 1928, telah menggubah pula satu lagu guna memperingati jasa-jasa RA Kartini, berjudul ”Ibu Kita Kartini”.

Dengan Keputusan Presiden RI No 108, tanggal 2 Mei 1964, RA Kartini ditetapkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Daoed JOESOEF

Alumnus Universitas Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne

 

Sumber: Kompas

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Atasi Kemacetan, DPRD Banyuwangi Dorong ASDP Tambah dan Upgrade Kapasitas Dermaga Pelabuhan Ketapang

BANYUWANGI – Komisi IV DPRD Banyuwangi mendorong ASDP Indonesia Ferry untuk membangun dermaga baru dan mengupgrade ...
KRONIK

Mbak Nia Salurkan Beasiswa untuk 40 Mahasiswa di Dapil I Sumenep

SUMENEP – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep, Nia Kurnia Fauzi, kembali menyalurkan bantuan beasiswa kepada ...
KRONIK

Wakil Bupati dan Ketua DPRD Temui Massa Aksi Demo Mahasiswa 6+5 Ngawi

NGAWI – Aliansi mahasiswa di Kabupaten Ngawi menggelar aksi demonstrasi dengan membawa 11 tuntutan terkait isu ...
LEGISLATIF

DPRD Jember Ingatkan Dugaan Penyelewengan Retribusi Pasar Bisa Ganggu Target PAD

DPRD Jember mengingatkan dugaan penyelewengan retribusi pasar harus ditelusuri serius karena berpotensi mengganggu ...
KRONIK

BBHAR Jatim Kawal Kasus Pencabulan terhadap Santriwati di Sidoarjo

SIDOARJO – Seorang pengajar di salah satu pesantren di Kabupaten Sidoarjo, inisial UJF, ditahan pihak kepolisian ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Genjot Pelatihan Media Sosial untuk Kader Muda di 14 PAC

DPC PDI Perjuangan Trenggalek menggelar pelatihan media sosial dan digital marketing bagi kader muda dari 14 PAC. ...