Rabu
14 Januari 2026 | 4 : 15

GANEFO; Pertandingan Olahraga Dunia Dimotori Indonesia, Diikuti 51 Negara

Ganefo

“DENGAN ini, GANEFO pertama saya buka,” kata Presiden Sukarno di hadapan seratus ribuan orang di Gelora Bung Karno, Jakarta, 10 November 1963.

Lautan manusia di stadion terdiri dari warga Indonesia serta warga negara asing pendukung para atlet dari 51 negara peserta The Games of the New Emerging Forces (GANEFO). 

Mereka menyaksikan seremoni pembukaan olahraga tingkat dunia itu, dimana para kontingen dari puluhan negara peserta berbaris memasuki stadion.

GANEFO dilangsungkan selama tanggal 10-12 November 1963 diikuti 2.700 atlet mempertandingkan 20 cabang olahraga. GANEFO mengusung jargon Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur) diikuti negara-negara dari Asia, Afrika, dan Eropa timur. GANEFO menjadi tandingan pesta olahraga tingkat dunia lainnya, olimpiade.

Pelaksanaan GANEFO dimotori Indonesia menjadi puncak perlawanan negara ini dan negara-negara berkembang lainnya terhadap hegemoni politik barat melalui bidang olahraga. Dalam hal ini oleh International Olympic Commitee (IOC).

Perseteruan Indonesia dengan IOC bermula sejak 1948. Saat itu, Republik Indonesia yang baru berumur 3 tahun, turut ambil bagian dalam olimpiade di London, Inggris.

Namun, IOC menolak rencana keikusertaan Indonesia dengan sejumlah dalih. Yakni, Indonesia tidak terdaftar sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) sebagai induk seluruh cabang olahraga di Indonesia belum terdaftar sebagai anggota resmi IOC. Dan, Inggris menolak paspor Indonesia. IOC hanya memberikan kesempatan kepada RI sebagai peninjau. Itu pun, delegasinya harus menggunakan paspor Belanda.

Upaya IOC justeru membuat keinginan Pemeritah Indonesia memajukan bidang olahaga semakin terpacu. Buktinya, pemerintah lantas menggelar pekan olahraga nasional (PON) pertama kali diadakan pada 9-12 September 1948 di Solo. PON pertama berlangsung saat Indonesia masih dalam keadaan perang karena agresi militer Belanda pasca kemerdekaan.

Perseteruan Indonesia dengan IOC kembali mencuat pada tahun 1962. Saat itu Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. Indonesia menentang kepesertaan Israel dan Taiwan di Asian Games.

Alasannya, Indonesia menengarai Taiwan terlibat dalam memberikan bantuan persenjataan kepada PRRI-Permesta yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah RI. Untuk Israel, Pemerintah Indonesia menolak keikutsertaaan atlet mereka dengan alasan, Israel menjajah Palestina dan sejumlah negara Arab.

Akibat langkah itu, meski sukses menggelar Asian Games IV, Indonesia ditangguhkan keanggotaannya oleh IOC. Alasannya, Indonesia dinilai melakukan pelanggaran berupa memasukkan pertimbangan politik dalam ajang olahraga.

IOC menangguhkann kepesertaan Indonesia pada Asian Games berikutnya, termasuk olimpiade di Tokyo, Jepang, pada 1964.

Presiden Sukarno tidak terima dengan keputusan IOC. Bagi Soekarno, IOC pun mencampuradukkan politik dan olahraga.

“Mari berkata jujur. Saat mereka (IOC) mengucilkan RRC, apakah itu bukan politik? Saat mereka tak ramah dengan Republik Arab Bersatu, apakah itu bukan politik?” 

“Saat mereka tak ramah pada Korea Utara, itu bukan politik? Saat mereka mengucilkan Vietnam Utara, itu bukan politik? Saya hanya sedang jujur,” katanya sebagaimana tertulis dalam Buletin Ganefo edisi pertama (Juli 1963) seperti dikutip dari tirto.id

Sebelum GANEFO dibuka, Bung Karno menegaskan kepada kontingen Indonesia, bahwa tugas atlet bukan hanya menunjukkan kemampuan mereka di bidang olahraga saja. Juga membina persahabatan dengan atlet atau peserta dari negara lain.

Sikap tersebut menjadi simbol bagaimana bangsa ini memiliki jiwa yang besar yang mampu memimpin pergerakan-pergerakan yang besar pula.

Menolak imperialisme dan kolonialisme ditunjukkan bangsa ini dengan terobosan yang unik. Oleh karenanya, setiap 10 November, diperingati sebagai hari GANEFO. (mtd/hs)

Foto: Defile kontingen Indonesia dalam Ganefo I di Jakarta pada 10-22 November 1963. (Foto: Wikipedia)

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Terkait Sistem Pilkada, Puan Maharani Pastikan Tetap Buka Komunikasi dengan Seluruh Fraksi di DPR

JAKARTA – PDI Perjuangan menolak sistem pilkada melalui DPRD. Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Puan ...
LEGISLATIF

Antisipasi Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan, Eddy Paripurna Sebut Koordinasi Lintas Sektor Sangat Penting

SURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur minta pemerintah provinsi (Pemprov) terus menjaga stabilitas harga ...
KABAR CABANG

Soal Pilkada, Widarto: PDI Perjuangan Berkomitmen Jaga Kedaulatan Rakyat!

JEMBER – “Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan berkomitmen menjaga kedaulatan rakyat!”. Demikian pernyataan Ketua ...
LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan Laporan Kepada Rakyat

MAGETAN – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan menyampaikan “Laporan Kepada Rakyat Tahun 2025” sebagai bentuk ...
KABAR CABANG

Dirikan Rumah Budaya, Rindu Rikat: Wujud Kontribusi PDIP dalam Pengembangan Seni Budaya Daerah

KEDIRI – DPC PDI Perjuangan Kota Kediri berusaha mewujudkan komitmen memajukan seni dan budaya lokal sebagai bagian ...
KRONIK

Kalender Event 2026 Digelar di 27 Kecamatan, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Kolaborasi

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menetapkan 110 kegiatan dalam Kalender Event 2026. ...