Pohon Sukarno di Padang Arafah, Perisai Jemaah Haji dari Sengat Matahari

Loading

TITIK-titik hijau rimbun pohon menghias tandusnya Padang Arafah, Arab Saudi. Pohon-pohon itu, warga Arab menyebutnya: Syajarah Sukarno atau Pohon Sukarno.

Pohon-pohon itu tersebar di padang seluas 1.250 hektar dengan suhu 38 sampai 42 derajat celcius kala musim panas, seperti dikutip dari situs Kementerian Agama RI.

Pohon Sukarno menjadi semacam perisai bagi jutaan jamaah haji yang melaksanakan wukuf di tempat tersebut saban tahunnya.

Pohon Sukarno sejatinya adalah pohon Mimba atau Mindi. Nama latinnya adalah Melia Azedarach. Namun pemerintah maupun warga Arab Saudi menamainya sebagai pohon Sukarno. Koq begitu?

Cerita bermula ketika Bung Karno melaksanakan ibadah haji pada 1955. Saat wukuf, sang proklamator kemerdekaan RI itu merasakan langsung sengat matahari Arafah. Ia pun mengusulkan kepada Raja Arab ketika itu, untuk menanam pohon. Alhasil disetujui.

Bung Karno saat berhaji pada 1955. Foto atas: Padang Arafah. (Sumber: tribunnews.com)

Beberapa waktu kemudian, Presiden Sukarno mengirimkan ribuan bibit pohon Mimba ke Arab. Termasuk para ahli pertanian untuk menanam dan mengurusnya. Maka, sejak tahun 1960, padang Arafah tak lagi tandus. Pohon juga ditanam di sudut-sudut kota Mekkah dan lainnya.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa Sukarno, pengagum Presiden Pertama RI itu, Raja Fahd bin Abdulaziz al Saud lantas menamakan pohon-pohon tersebut dengan nama Syajarah Sukarno atau Pohon Sukarno pada 1980.

Bersahabat dengan Alam Sejak Kecil
Kepedulian Sukarno untuk menghijaukan bumi bukan saja tampak di Arab Saudi. Berbagai catatan sejarah menyebutkan, Bung Karno bahkan menyempatkan menanam pohon dan berkebun di sela kesibukannya menjadi presiden.

Dikabarkan oleh Historia.id, kecintaan Bung Karno pada tanaman diakui oleh mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, Maulwi Saelan. Menurut Maulwi, untuk mengisi waktu senggang selain membaca dan bercengkrama, Bung Karno gemar berkebun.

Di berbagai tempat, Presiden RI Pertama itu biasa menyempatkan menanam sebuah pohon. Di Berastagi, misalnya, saat ia dibuang ketika agresi militer kedua, Bung Karno pernah menaman pohon beringin di perkarangan rumah tahanannya.

Pada 1960, dirinya juga menanam pohon beringin di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pohon ini hingga sekarang dikenal dengan nama Beringin Soekarno.

Pun, pada 3 April 1961, di kampus Institute Pertanian Bogor (IPB), Soekarno menaman pohon tusam pinus merkusii. Hingga kini pohon anggota famili Pinaceae berumur setengah abad ini masih berdiri tegak.

Hingga di Istana Negara, lahannya tidak luput dari penanaman Bung Karno. Beberapa pohon beringin yang ditanamnya masih ada hingga saat ini. Bung Karno pun sering berkeliling taman-taman Istana untuk memperhatikan pohon.

Bila ada pohon yang telantar dan rusak, Bung Karno akan sangat marah. Biasanya ia akan segera memanggil tukang kebun untuk merawat pohon tersebut, selain itu bertanya alasan mengapa pohon ini bisa rusak.

Kecintaan Bung Karno terhadap keasrian lingkungan tak lepas dari masa kecilnya yang bersahabat dengan alam. Masa kanak-kanak hingga remaja di Mojokerto, Sukarno kerap bermain dengan menggunakan bahan dari pepohonan. Juga bermain di sungai.

Politik Hijau PDI Perjuangan
Sebagai penganut ajaran perjuangan Bung Karno, tak heran jika kebiasaan menanam pohon dilanjutkan oleh  kader-kader PDI Perjuangan.

Program PDI Perjuangan bertajuk politik hijau, melestarikan dan merawat bumi, kerap diterjemahkan  dengan aksi nyata berupa gerakan tanam pohon.

Gerakan dilakukan secara massal dan serentak di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Di Jawa Timur, hampir saban tahun dilakukan penanaman pohon. Awal tahun 2023 ini misalnya, saat peringatan HUT ke-50 PDI Perjuangan.

Penanaman dilakukan oleh DPD PDI Perjuangan Jawa Timur di area tangkapan mata air Banyubiru, Desa Sumberrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (28/1/2023).

Gerakan serupa dilakukan 38 DPC se-Jatim dengan menanam pohon di kabupaten atau kota masing-masing.

Hal serupa juga dilakukan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2021 hingga 2022, kader-kader PDI Perjuangan Tulungagung, berhasil mencapai taget penanaman pohon sebanyak 49 ribu pohon di hutan setempat.

Pada tahun yang sama, kader-kader di Gresik menanam 1.100 pohon di sekitar Stadion Gelora Joko Samudro. (ftr/hs)

Artikel ditulis oleh Fathir dalam program magang jurnalistik kehumasan di Unit Media DPD PDI Perjuangan Jatim.