BANYUWANGI – Tingginya harga pupuk dapat menyebabkan lonjakan biaya produksi yang akan memberatkan petani karena menekan nilai keuntungan yang diterima. Mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi saat ini mendorong produksi pupuk Nitrogen Pospor Kalium (NPK) cair yang berasal dari limbah dapur.
Di antaranya kulit nanas, kacang kedelai, kacang ijo hingga tetes tebu yang dicampur dengan dekomposer dalam prosesnya dan menghasilkan pupuk NPK cair sebanyak 100 liter dalam sekali produksi yang membutuhkan waktu kisaran 21 hari.
“Semakin banyak jenis hama yang menyerang, semakin banyak teknologi yang diciptakan,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat mengunjungi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rogojampi dalam kunjungan kerja Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) Lemahbangdewo, Rogojampi, Kamis (4/7/2024).
BPP Rogojampi sebagai pengampu 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Rogojampi dan Blimbingsari, memberikan pelatihan setahun 3 kali kepada petani pegiat organik di 20 desa, yang masing-masing desa terdapat 5 perwakilan petani untuk mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk NPK cair.
Menurut Bupati Ipuk, dengan ilmu yang telah dikuasai, petani dapat mempraktikkan sendiri pembuatan pupuk NPK cair serta dapat menyebarkan ilmu yang dimiliki kepada petani lainnya.
“Petani jangan berhenti belajar, jangan berhenti membuat inovasi,” tutur politisi PDI Perjuangan itu kepada puluhan petani milineal yang juga hadir di BPPP Rogojampi.
Koordinator BPP Rogojampi, Feby Cahayaningrum, mengatakan bahwa saat ini dengan pelatihan yang dilakukan BPP, petani mulai mengurangi dosis atau bahkan benar-benar beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik.
“Sebanyak 3 dari 87 kelompok tani yang ditampu, terdiri atas 2 kelompok tani sertifikasi pada organik di Desa Watukebo dan di Desa Patoman serta 1 kelompok petani sertifikasi gula kelapa di sukojati kini benar-benar beralih menggunakan pupuk organik,” urai Feby.
Menurutnya, berkat inovasi yang merupakan arahan dari Dinas Pertanian Banyuwangi agar berimprovisasi untuk mengurangi ketergantungan kepada pupuk tersebut input produksi petani dapat turun antara 30 hingga 50 persen yang berpengaruh langsung pada peningkatan keuntungan bagi petani.
Selain itu, BPP Banyuwangi juga terus berupaya untuk menekan biaya yang dikeluarkan petani dengan memangkas rantai penjualan hasil panen yang biasanya cukup panjang dari petani hingga ke tangan pembeli.
“Kita pangkas. Saat ini petani padi langsung kerjasama dengan Bulog untuk hasil panennya sementara petani cabai diarahkan agar dapat berkomunikasi langsung pedagang di pasar,” ujar Feby.
Feby juga menjelaskan, hasil tanaman pangan yang menjadi unggulan di Kecamatan Rogojampi dan Kecamatan Blimbingsari adalah padi, jagung dan ubi jalar. Sementara keunggulan holtikultura dan perkebunan di wilayah tersebut adalah cabai, kelapa dan tembakau. (ftr/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












