Kamis
18 Juni 2026 | 6 : 54

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ini, Kunci Sukses Bupati Ipuk Dorong Anak Muda Banyuwangi Berkreasi di Pertanian

PDIP-Jatim-Ipuk-Fiestiandani-01052026

BANYUWANGI – Sejak menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, salah satu program prioritas Ipuk Fiestiandani adalah sektor pertanian. Berbagai program pertanian digulirkan, utamanya regenerasi petani di Banyuwangi. Hasilnya, kini banyak anak muda Banyuwangi terjun ke sektor pertanian dengan berbagai inovasi.

“Banyuwangi memiliki potensi sangat besar di pertanian. Karena itu sektor ini menjadi salah program prioritas kami. Bagi Banyuwangi sektor pertanian menjadi salah satu perhatian dan perlu dipikirkan regenerasinya, agar anak-anak muda tertarik dengan pertanian,” ujar Ipuk, saat mengunjungi green house melon hidroponik premium milik Paul Corneles Hariyono di Desa/Kecamatan Purwoharjo, pada Kamis (30/4/2026).

Kabupaten Banyuwangi memiliki banyak program yang mendukung munculnya petani-petani usia muda. Salah satunya, program Jagoan Tani. Dalam program tersebut, pemkab mendampingi, mendatangkan mentor dan praktisi, memberi stimulus modal, agar para muda-mudi untuk berwirausaha di sektor pertanian.

Digagas sejak 2021, Jagoan Tani telah menelurkan ratusan petani milenial daerah. Mereka eksis mulai dari sisi hulu hingga hilir pertanian. Mulai dari terjun langsung menanam hingga memasarkan produk olahan.

“Program pertanian kami salah satunya untuk anak-anak muda, karena kami sadar dengan kreatifitas dan jiwa muda, mereka adalah tulang punggung pangan ke depan,” jelas Ipuk.

“Selain itu, pertanian juga termasuk penggerak utama ekonomi daerah,” imbuh Wakabid Pemerintahan dan Otonomi Daerah DPD PDI Perjuangan Jatim itu.

Hasilnya, di desa-desa Banyuwangi banyak anak-anak muda tergerak untuk terjun di pertanian, dan berinovasi menghasilkan berbagai hasil pertanian yang berkualitas.

Paul Corneles Hariyono salah satunya. Sarjana Teknik Sipil asal Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo ini sukses mengembangkan green house melon hidroponik premium di desanya.

Meski nihil pengalaman dan pengetahuan tentang pertanian, Neles tertarik terjun ke sektor pertanian karena melihat potensi yang begitu besar di Banyuwangi.

“Kita punya lahan yang subur, sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, dan iklim yang baik untuk pertanian. Sangat sayang kalau disia-siakan,” ujarnya.

Baginya, ilmu bisa dipelajari dari banyak sumber. Itulah alasan dia optimis terjun ke bisnis pertanian meski tidak memiliki background pendidikan pertanian.

“Saat ini dunia sudah terbuka luas. Kita bisa belajar apa saja, dari mana saja. Saya sendiri belajar pengembangan green house melon hidroponik ini dari sosmed,” jelasnya.

Neles mulai mengembangkan green house melon Hidroponik “Virgin Farm” sejak tiga bulan lalu. Di sana, Neles menanam 550 batang melon varietas premium, seperti sweet lavender, sweet honey, dan dalmatian.

Varietas melon yang dia budidaya tersebut memiliki rasa yang lebih legit dengan daging buah yang lebih renyah. “Rasanya lebih premium. Makanya di pasaran harganya juga lebih tinggi di kisaran 30-45 ribu per kilogram,” ujarnya.

Tak sekadar budidaya, Neles juga berencana mengembangkan green house melon hidroponik-nya menjadi destinasi wisata.

“Saat ini usia melon sudah 49 hari, sisa tiga minggu lagi akan panen. Rencananya akan kami buka untuk wisata petik buah untuk warga,” ujarnya.

Selain Neles, juga ada Rega, pemuda berusia 29 tahun asal Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo yang sukses mengembangkan sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) dalam satu lahan pertanian.

Pada lahan seluas 1 hektare, Rega berhasil mengembangkan tanaman jeruk dan jagung, peternakan domba, serta budidaya ikan nila.

Rega memelihara lebih dari 100 ekor domba di sebagian lahan miliknya itu. Ada berbagai jenis domba, di antaranya cross merino, cross texel, hingga cross batur. Selain itu, juga ada kambing etawa dan domba.

Kotoran dan urine domba tersebut tidak dibuang begitu saja. Melainkan diproses menjadi pupuk organik. Sementara batang tanaman jagung yang telah dipanen, akan diproses menjadi silase (pakan ternak). Begitu juga dengan air dari kolam ikan nila digunakan sebagai nutrisi tanaman.

“Hasil prosesing limbah tersebut saya manfaatkan untuk pemupukan di sawah sehingga bisa mengurangi dosis pemakaian pupuk kimia sehingga lebih hemat dan ramah lingkungan,” urai Rega.

Setelah empat tahun menerapkan integrated farming, Rega mengaku sangat terbantu karena tidak perlu repot dalam menyediakan pakan ternak maupun pupuk untuk tanamannya. (ars/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Novita Hardini Dorong Turonggo Yakso Tampil di Korsel, Perkuat Diplomasi Budaya dan Pariwisata Trenggalek

Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mendorong promosi budaya dan ekonomi kreatif Trenggalek melalui ...
KABAR CABANG

DPC Lamongan Gelar Lomba Sinematografi AI, Begini Cara Daftarnya

LAMONGAN – Menyambut Bulan Bung Karno 2026, DPC PDI Perjuangan Lamongan akan Gelar Lomba Video AI (Artificial ...
LEGISLATIF

Ketua DPRD Surabaya Ajak Media Perkuat Edukasi Publik dan Kepercayaan terhadap Lembaga Legislatif

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri mengajak media memperkuat edukasi publik dan menjaga kepercayaan masyarakat ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Hentikan Sementara Proyek Box Culvert se-Surabaya Usai Insiden Lansia Tewas

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menghentikan sementara proyek box culvert se-Surabaya pasca insiden yang menewaskan ...
KRONIK

Said Abdullah Tegaskan PDIP Tidak Terlibat Aksi Mahasiswa, Dorong Pemerintah Lebih Terbuka Terhadap Kritik

Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah menegaskan PDIP tidak terlibat dalam aksi demonstrasi mahasiswa. Ia juga ...
KABAR CABANG

Siap Gelar RedTalk 2026, PAC PDIP Prajurit Kulon Ajak Pemuda Naik Kelas Jadi Pemimpin Masa Depan

PAC PDI Perjuangan Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, akan menggelar RedTalk 2026 sebagai forum diskusi ...