MANGGARAI BARAT – Jajaran DPP PDI Perjuangan tidak menunggu pagi untuk menemui warga terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Begitu tiba di Labuan Bajo, Minggu (16/8/2026) sore, rombongan langsung bergerak malam harinya menuju lokasi pengungsian di Desa Golosepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.
Rombongan tersebut terdiri dari Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini, Ketua DPP Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah Ganjar Pranowo, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kerakyatan Sri Rahayu, serta Ketua DPP Bidang Kesehatan Ribka Tjiptaning.
Kehadiran mereka merupakan tindak lanjut instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar jajaran partai bergerak membantu masyarakat yang terdampak gempa Flores.
Di Desa Golosepang, rombongan melihat langsung kondisi warga yang terpaksa meninggalkan rumah akibat kerusakan bangunan. Sejumlah keluarga sementara bertahan di tenda-tenda sederhana yang didirikan di sekitar permukiman.
Tidak datang dengan tangan kosong, rombongan membawa kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Bantuan tersebut antara lain beras, minyak goreng, mi instan, telur, biskuit, air mineral, terpal, serta kebutuhan untuk anak-anak dan perempuan.
Tim dokter dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan turut dibawa untuk mendukung penanganan warga terdampak.
Kehadiran tim kesehatan menjadi bagian penting dari respons di tengah kondisi pascagempa, ketika warga tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan tetap terpantau.
Kedatangan jajaran DPP sekaligus memperkuat kerja kemanusiaan yang sebelumnya telah dilakukan struktur PDI Perjuangan di Flores.
Jajaran DPD PDI Perjuangan NTT dan struktur partai di sejumlah kabupaten telah lebih dulu membuka posko, mendampingi pengungsi, serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Di Kabupaten Sikka, sekretariat DPC PDI Perjuangan bahkan telah dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian sementara. Sekitar 50 warga terdampak menggunakan rumah partai tersebut untuk berlindung.
Sementara di Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, PDI Perjuangan mendirikan tiga posko pengungsian.
Posko Mose Sama menampung 11 kepala keluarga (KK), Posko Watu Laming 24 KK, dan Posko Amana 13 KK. Total sedikitnya 48 KK ditampung di tiga posko tersebut.
Dengan demikian, kedatangan jajaran DPP bukan menjadi awal gerakan kemanusiaan, melainkan memperkuat kerja yang telah berjalan di tingkat daerah.
Fokus penanganan diarahkan pada kebutuhan mendesak warga, mulai dari tempat tinggal sementara, distribusi logistik, layanan kesehatan hingga pendampingan selama masa darurat.
Bagi PDI Perjuangan, bencana menjadi momentum untuk menguji sejauh mana struktur organisasi mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Instruksi dari tingkat pusat diterjemahkan dalam gerak nyata di lapangan: posko dibuka, rumah partai menjadi tempat berlindung, bantuan didistribusikan, dan tim kesehatan diterjunkan.
Di Flores, politik untuk sementara menemukan bentuknya yang paling sederhana: datang ketika rakyat membutuhkan, membawa apa yang bisa dibawa, dan tinggal bersama mereka yang sedang berjuang melewati bencana.
Menangis dan tertawa bersama rakyat. (dav/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













