Rabu
04 November 2026 | 4 : 50

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pilkada Senyap, Kehadiran Pemilih Bisa Anjlok

pdip jatim - agatha fraksi jatim
pdip jatim - agatha fraksi jatim
Agatha khawatirkan pilkada senyap

SURABAYA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jatim Agatha Retnosari menyoroti pelaksanaan pilkada serentak, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo yang terkesan asal-asalan. Meski menghabiskan anggaran seratus miliar lebih, ‘pesta demokrasi’ di dua daerah ini tidak nampak gebyarnya.

“Sunyi sepi dan senyap, itu gambaran pelaksanaan pilkada serentak kali ini,” kata Agatha, saat di Posko Pemenangan Cawali-cawawali Risma-Whisnu, Jalan Kapuas 68, Kamis (26/11/2015).

Meski uang rakyat yang terpakai dalam pelaksanaan Pilkada di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo dari APBD total lebih Rp 100 miliar, jelas Agatha, tapi sosialisasi tidak nampak. “KPU-Panwaslu masih terjebak sosialisasi model klasikal,” ujarnya.

Legislator PDI Perjuangan dari Dapil Surabaya-Sidoarjo ini menambahkan, penempatan baliho-spanduk yang buruk, juga rusaknya alat peraga kampanye tanpa segera diganti, semakin menguatkan bahwa sosialisasi pilkada dilaksanakan asal-asalan. “Itu uang rakyat lho yang dipakai. Mbok ya jangan asal-asalan,” pintanya.

Perempuan yang juga Bendahara DPC :PDI Perjuangan Kota Surabaya ini mengkhawatirkan, sosialisasi yang dilaksanakan dengan cara kuno, klasikal dan asal-asalan, secara nyata akan berpengaruh terhadap kehadiran pemilih di TPS saat coblosan pilkada 9 Desember depan.

“Bisa dipastikan, bila dalam dua minggu ini KPU dan Panwaslu sebagai penyelenggara pemilu tidak memperbaiki diri, maka kehadiran pemilih di TPS akan turun,” ujar dia.

Keyakinannya pemilih di TPS akan turun itu juga sudah terlihat dari hasil survey. “Sesuai survey internal yang kami lakukan, persepsi masyarakat terhadap tanggal dilaksanakan Pilkada saja baru 67% yang mengetahui. Ini belum lagi tentang pemahaman pentingnya pilkada yang hanya mencapai 54%, termasuk rendahnya pemahaman pemilih tentang visi misi dan program yang diusung calon. Ini benar-benar mengkhawatirkan,” kata Agatha.

Kreativitas KPU, imbuh Agatha, menjadi sorotan karena Peraturan KPU dengan jelas mengatur bahwa pasangan calon dan tim kampanye dilarang memasang iklan di media elektronik.

“KPU Surabaya dan Sidoarjo harus kreatif, seharusnya sejak jauh hari memanfaatkan viral persebaran lewat jalur sosial media atau media elektronik yang tidak memakan banyak biaya, tapi efektif dalam mendorong kehadiran pemilih, terutama pemilih pemula,” tuturnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Siapkan Intervensi Ekonomi di Kawasan Rawan Narkoba Surabaya

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyiapkan intervensi ekonomi dan pemberdayaan UMKM di kawasan rawan ...
LEGISLATIF

Polemik Jam Operasional Pasar Buah Tanjungsari, Syaifuddin Zuhri Buka Peluang Revisi Perda

SURABAYA – Polemik pembatasan jam operasional Pasar Buah Tanjungsari mendorong DPRD Surabaya membuka peluang revisi ...
KRONIK

Kemiskinan Banyuwangi Terus Menyusut, 5 Tahun Turun dari 8,07 Jadi 5,6 Persen

BANYUWANGI – Upaya penanggulangan kemiskinan yang menjadi salah satu prioritas Bupati Banyuwangi, Ipuk ...
LEGISLATIF

Reses di Purwodadi, Eko Herdiyanto Soroti Kebutuhan Pompa Air untuk Atasi Banjir

MALANG – Kebutuhan pompa air untuk mengatasi genangan banjir di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, menjadi ...
LEGISLATIF

Novita Hardini Dorong Pemuda Trenggalek Produksi Film untuk Angkat Potensi 157 Desa Kreatif

TRENGGALEK – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mendorong generasi muda Trenggalek memanfaatkan kreativitas ...
KRONIK

Ratusan Juta Dugaan Pungli KHDPK Dikembalikan, Widarto Minta Perjuangan Petani Tak Berhenti

JEMBER – Pengembalian uang Rp138 juta yang diduga dipungut dalam pengurusan akses pengelolaan kawasan hutan menjadi ...