SIDOARJO – Asap membubung disertai jerit kesakitan menyeruak dari dalam Kantor sekretariat DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Minggu (26/7/2026) sore. Peristiwa tersebut merupakan salah satu adegan dalam acara teatrikal kolosal detik-detik pengambilalihan paksa kantor DPP PDI di Jakarta atau yang dikenal dengan peristiwa kerusuhan dua puluh tujuh Juli (Kudatuli) 1996.
Teatrikal mengambil latar kantor DPP PDI, dimulai dengan adegan seorang aktivis berorasi dalam acara mimbar bebas. Mereka menyatakan, Megawati adalah Ketua Umum PDI yang sah sesuai hasil kongres luar biasa di Surabaya pada 1993.
Tak seberapa lama, dari ujung jalan, sekelompok massa datang. Mereka meneriakkan yel-yel, Ketua Umum PDI adalah Soerjadi sebagaimana hasil Kongres di Medan.
Suasana memanas. Saling dorong pagar antara masa dari luar dan dalam tak terhindarkan. Massa dari luar melakukan pelemparan batu. Pagar roboh. Massa merangsek ke dalam dan melakukan pengrusakan. Korban pun berjatuhan. Adegan ditutup dengan sejumlah orang yang ditandu relawan kesehatan. Sementara pelataran kantor berserakan batu.
Asisten sutradara yang juga aktivis DPC Repdem Sidoarjo menyampaikan, seluruh properti yang digunakan dalam teatrikal adalah benda-benda tiruan.
“Untuk tiruan batu, kita pakai kertas bekas yang diremas jadi bulatan. Demikian pula asap, kami buat dari bahan yang tidak membahayakan,” katanya.

Anak Muda Melek Sejarah
Teatrikal dibesut anak-anak muda dari sejumlah sanggar seni. Juga melibatkan tim produksi serta kru dari komunitas perfilman. Sementara peran massa aksi sebagian besar adalah kader-kader muda PDI Perjuangan perwakilan dari 18 kecamatan.
Beberapa jam sebelum mengikuti teatrikal, anak-anak muda tersebut mengikuti kelas pendidikan politik dengan tema sejarah berdemokrasi di negeri ini, dimana Kudatuli menjadi salah satu bagiannya.
Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Hari Yulianto, menjelaskan, Kudatuli sebagai peristiwa yang memalukan sekaligus memilukan dalam perjalanan sejarah berdemokrasi di Indonesia.
“Memalukan karena dalam proses berdemokrasi ada pihak yang melakukan intervensi bahkan dengan cara-cara kekerasan. Memilukan karena Kudatuli menyebabkan sejumlah nyawa manusia melayang, ratusan korban luka, dan puluhan orang hilang,” katanya.
Hari Yulianto yang juga anggota DPRD Jawa Timur berharap, agar peristiwa serupa tak pernah lagi terjadi di negeri ini.

Doa Bersama dan Kesaksian Pelaku Sejarah
Pada hari yang sama, DPC PDI Perjuangan Sidoarjo juga menggelar kegiatan ketiga dalam rangkaian peringatan Kudatuli.
Puluhan senior partai sejak era banteng segilima (PDI), berkumpul di kantor sekretariat DPC. Mereka membagikan pengalamannya bagaimana berorganisasi atau berpartai di era 90-an yang penuh tekanan dan intervensi dari aparatur negara kala itu.
“Peristiwa yang lalu tidak saja untuk dikenang. Tapi bagaimana harus menjadi pelajaran dan titik pijak untuk melangkah ke depan dengan berbagai tantangannya,” kata Sanyoto, Sekretaris DPC PDI era 90-an. (hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










