MAGETAN – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) saat siswa masuk sekolah di bulan Ramadan ini dikeluhkan sejumlah wali siswa.
Pertama, dianggap tak sesuai anggaran. Yang kedua, berpotensi tak memenuhi standar higienis.
Keluhan ini sampai pada Diana AV Sasa anggota DPRD Provinsi Jawa Timur yang juga ibu dari dua putera yang kebetulan menerima MBG dari sekolahnya di Magetan.
Diana Sasa menyampaikan sebagai Anggota DPRD Provinsi sekaligus warga Magetan dan orang tua murid, dirinya menerima sejumlah laporan masyarakat terkait pelaksanaan program MBG selama bulan Ramadan.
“Saya mengapresiasi tujuan baik program ini. Namun dalam beberapa laporan yang saya terima, terdapat temuan yang memprihatinkan dan tidak bisa diabaikan” kata Sasa.

Beberapa keluhan yang sampai ke Diana Sasa antara lain, roti yang terindikasi berjamur. Telur yang dibagikan dalam kondisi cangkang masih terdapat kotoran hingga telur berbau busuk.
Standar gizi dipertanyakan.
Temuan seperti ini menyangkut aspek mendasar, kebersihan, keamanan pangan, dan perlindungan kesehatan anak-anak.
Menurut Diana Sasa, program publik, terlebih yang menyasar peserta didik, wajib memenuhi standar higienitas dan quality control yang ketat.
“Tidak boleh ada toleransi terhadap kelalaian” tegas Diana Sasa.
Diana Sasa meminta instansi terkait dan pihak pelaksana untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses produksi dan distribusi. Juga memastikan standar sanitasi pangan diterapkan secara disiplin, dan memberikan klarifikasi terbuka kepada masyarakat.
“Sebagai bagian dari fungsi pengawasan, kami akan melakukan monitoring dan koordinasi lebih lanjut agar kualitas pelaksanaan program ini benar-benar sesuai dengan tujuan awalnya,” katanya.
Pengawasan, kata dia, bukan bentuk penolakan terhadap program, melainkan komitmen agar setiap kebijakan yang menyangkut anak-anak dilaksanakan secara bertanggung jawab dan profesional.
“Kesehatan dan keselamatan anak tidak boleh dikompromikan,” pungkas Sasa.(rud/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












