Selasa
19 Mei 2026 | 7 : 17

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Tulis Namaku: Sukarno, Bukan Soekarno

20250606_025348_copy_532x339
Foto dan nama Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta dalam uang pecahan seratus ribu rupiah.

KONTROVERSI melekat pada diri bapak bangsa, Bung Karno. Dari soal sepak terjangnya yang merepotkan penjajah nusantara, hingga pemikiran-pemikirannya yang mengguncang dunia.

Bahkan ejaan penulisan namanya, juga mengandung kontroversi. Sukarno atau Soekarno? Menggunakan U atau OE?

Polemik soal ejaan bahkan berlangsung sepeninggal bapak bangsa kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu hingga kini. Misalnya nama bandara Soekarno – Hatta, jalan Soekarno, hingga uang pecahan Rp 100.000 terkini yang memuat gambar proklamator dengan tulisan Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta.

Dari OE ke U
Penggunaan huruf OE untuk pelafalan vokal U merujuk pada ejaan Van Ophuijsen. Selain OE, penggunaan huruf Tj untuk bunyi konsonan C, dan J untuk Y.

Ejaan tersebut diciptakan Charles Adriaan van Ophuijsen, seorang ahli bahasa Belanda. Berlaku sejak tahun 1901 hingga 1947.

Pasca Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1947, Menteri Pendidikan Soewandi merumuskan ejaan Indonesia. Ciri ejaan ini diantaranya penggantian huruf OE menjadi U. Misal Soekarno menjadi Sukarno. Dalam  perkembangannya, ejaan ini berlaku hingga tahun 1972.

Pasca itu, penyempurnaan ejaan terus disempurnakan pemerintah.

Pesan Bung Karno
Lalu, bagaimana dengan Bung Karno soal ejaan namanya, Soekarno atau Sukarno.

Baca juga:Sukarno Lahir di Rumah Kontrakan Dekat Sungai Peneleh, Surabaya 

Berbagai literasi sejarah menyebutkan, Bung Karno menyatakan penulisan namanya dengan ejaan: Sukarno.

Suatu ketika, tahun 1965, Bung Karno memprotes seorang wartawan Jerman yang menuliskan namanya dengan ejaan Soekarno.

“Tapi kenapa kamu tulis nama saya dengan ejaan OE?” Protesnya kepada sang wartawan.

“Tapi nama saya dengan ejaan SU. Ini yang benar,” kata Bung Karno.

Baca juga:Salat Iduladha, Presiden Sukarno Ditembak dari Jarak Dekat

Hal serupa juga ditegaskan Bung Karno sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Menurut Bung Karno, ejaan OE adalah peninggalan Belanda.

“Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” kata Bung Karno.

Sementara untuk tandatangannya, Bung Karno masih menggunakan ejaan OE seperti halnya dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno mengakui, tak mudah baginya untuk merubah tandatangan pada usianya yang menginjak 50 tahun saat membahas Sukarno atau Soekarno. (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Nyalakan Semangat Kader, Pelantikan PAC Se-Sidoarjo Diwarnai Pagelaran Tari Tradisional dan Musik Elektronik

SIDOARJO – Suasana meriah dan sarat akan makna budaya mewarnai pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan ...
KABAR CABANG

Ribuan Kader Banteng Akan Hadiri Pelantikan PAC PDIP Bojonegoro

PDIP Bojonegoro bakal melantik 1.300 kader dan pengurus PAC dengan dominasi kader muda dan perempuan. BOJONEGORO — ...
EKSEKUTIF

Hotline ‘Lapor Cak Eri’ Dibanjiri Ratusan Aduan, dari Jalan Berlubang hingga Curhat Rumah Tangga

Hotline “Lapor Cak Eri” dibanjiri ratusan aduan warga Surabaya, mulai jalan berlubang hingga curhat rumah tangga. ...
KRONIK

PDIP Jatim Dorong Anak Muda Jadi Penggerak Komunikasi Politik Digital

PDI Perjuangan Jatim dorong anak muda aktif membangun komunikasi politik digital dan citra partai di media sosial. ...
KABAR CABANG

PDIP Lamongan Siap Tuntaskan Kepengurusan di Tingkat Dusun dan RW

PDIP Lamongan menargetkan pembentukan kepengurusan hingga tingkat ranting dan anak ranting di 1.400 dusun. LAMONGAN ...
HEADLINE

PDIP Jatim Pastikan Anak Muda Terlibat Langsung dalam Pengambilan Keputusan Partai

PDIP Jatim membuka ruang besar bagi generasi muda agar terlibat langsung dalam pengambilan keputusan partai. ...