Senin
12 Oktober 2026 | 5 : 55

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Tulis Namaku: Sukarno, Bukan Soekarno

20250606_025348_copy_532x339
Foto dan nama Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta dalam uang pecahan seratus ribu rupiah.

KONTROVERSI melekat pada diri bapak bangsa, Bung Karno. Dari soal sepak terjangnya yang merepotkan penjajah nusantara, hingga pemikiran-pemikirannya yang mengguncang dunia.

Bahkan ejaan penulisan namanya, juga mengandung kontroversi. Sukarno atau Soekarno? Menggunakan U atau OE?

Polemik soal ejaan bahkan berlangsung sepeninggal bapak bangsa kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu hingga kini. Misalnya nama bandara Soekarno – Hatta, jalan Soekarno, hingga uang pecahan Rp 100.000 terkini yang memuat gambar proklamator dengan tulisan Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta.

Dari OE ke U
Penggunaan huruf OE untuk pelafalan vokal U merujuk pada ejaan Van Ophuijsen. Selain OE, penggunaan huruf Tj untuk bunyi konsonan C, dan J untuk Y.

Ejaan tersebut diciptakan Charles Adriaan van Ophuijsen, seorang ahli bahasa Belanda. Berlaku sejak tahun 1901 hingga 1947.

Pasca Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1947, Menteri Pendidikan Soewandi merumuskan ejaan Indonesia. Ciri ejaan ini diantaranya penggantian huruf OE menjadi U. Misal Soekarno menjadi Sukarno. Dalam  perkembangannya, ejaan ini berlaku hingga tahun 1972.

Pasca itu, penyempurnaan ejaan terus disempurnakan pemerintah.

Pesan Bung Karno
Lalu, bagaimana dengan Bung Karno soal ejaan namanya, Soekarno atau Sukarno.

Baca juga:Sukarno Lahir di Rumah Kontrakan Dekat Sungai Peneleh, Surabaya 

Berbagai literasi sejarah menyebutkan, Bung Karno menyatakan penulisan namanya dengan ejaan: Sukarno.

Suatu ketika, tahun 1965, Bung Karno memprotes seorang wartawan Jerman yang menuliskan namanya dengan ejaan Soekarno.

“Tapi kenapa kamu tulis nama saya dengan ejaan OE?” Protesnya kepada sang wartawan.

“Tapi nama saya dengan ejaan SU. Ini yang benar,” kata Bung Karno.

Baca juga:Salat Iduladha, Presiden Sukarno Ditembak dari Jarak Dekat

Hal serupa juga ditegaskan Bung Karno sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Menurut Bung Karno, ejaan OE adalah peninggalan Belanda.

“Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” kata Bung Karno.

Sementara untuk tandatangannya, Bung Karno masih menggunakan ejaan OE seperti halnya dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno mengakui, tak mudah baginya untuk merubah tandatangan pada usianya yang menginjak 50 tahun saat membahas Sukarno atau Soekarno. (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Dewanti Rumpoko: Keselamatan Penumpang Penyeberangan Harga Mati, Bukan Kompromi Bisnis

SURABAYA – Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Dewanti Rumpoko menegaskan keselamatan jiwa pengguna jasa transportasi ...
LEGISLATIF

Yuzar Rasyid Beber Jalur Koreksi Desil Bansos, Warga Kediri Bisa Ajukan Pemutakhiran Data

KEDIRI – Anggota Komisi B DPRD Kota Kediri Yuzar Rasyid mengingatkan warga agar memeriksa data kesejahteraan yang ...
KRONIK

RSUD Blambangan Raih Tiga Penghargaan NHR, Bupati Ipuk: Tolok Ukur Berbenah Tingkatkan Layanan

BANYUWANGI – RSUD Blambangan Banyuwangi meraih tiga penghargaan dalam ajang National Hospital Ranking (NHR) yang ...
KRONIK

Bupati Fauzi Upayakan Pemulangan 9 Nelayan Sumenep yang Ditahan di Australia

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengupayakan pemulangan sembilan ...
HEADLINE

HUT ke-81 Jatim, Deni: Pembangunan Berhasil Jika Rakyat Ikut Maju dan Merasakan Manfaatnya

SURABAYA – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Deni Wicaksono menegaskan keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari ...
KRONIK

Ratusan Kendaraan Dinas “Raib”, Andi PDIP Sebut Pemda Berpotensi Tanggung Kewajiban Pajak

BONDOWOSO – Sebanyak 409 kendaraan dinas milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab0) Bondowoso tidak diketahui ...