Senin
31 Agustus 2026 | 4 : 47

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Tulis Namaku: Sukarno, Bukan Soekarno

20250606_025348_copy_532x339
Foto dan nama Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta dalam uang pecahan seratus ribu rupiah.

KONTROVERSI melekat pada diri bapak bangsa, Bung Karno. Dari soal sepak terjangnya yang merepotkan penjajah nusantara, hingga pemikiran-pemikirannya yang mengguncang dunia.

Bahkan ejaan penulisan namanya, juga mengandung kontroversi. Sukarno atau Soekarno? Menggunakan U atau OE?

Polemik soal ejaan bahkan berlangsung sepeninggal bapak bangsa kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu hingga kini. Misalnya nama bandara Soekarno – Hatta, jalan Soekarno, hingga uang pecahan Rp 100.000 terkini yang memuat gambar proklamator dengan tulisan Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta.

Dari OE ke U
Penggunaan huruf OE untuk pelafalan vokal U merujuk pada ejaan Van Ophuijsen. Selain OE, penggunaan huruf Tj untuk bunyi konsonan C, dan J untuk Y.

Ejaan tersebut diciptakan Charles Adriaan van Ophuijsen, seorang ahli bahasa Belanda. Berlaku sejak tahun 1901 hingga 1947.

Pasca Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1947, Menteri Pendidikan Soewandi merumuskan ejaan Indonesia. Ciri ejaan ini diantaranya penggantian huruf OE menjadi U. Misal Soekarno menjadi Sukarno. Dalam  perkembangannya, ejaan ini berlaku hingga tahun 1972.

Pasca itu, penyempurnaan ejaan terus disempurnakan pemerintah.

Pesan Bung Karno
Lalu, bagaimana dengan Bung Karno soal ejaan namanya, Soekarno atau Sukarno.

Baca juga:Sukarno Lahir di Rumah Kontrakan Dekat Sungai Peneleh, Surabaya 

Berbagai literasi sejarah menyebutkan, Bung Karno menyatakan penulisan namanya dengan ejaan: Sukarno.

Suatu ketika, tahun 1965, Bung Karno memprotes seorang wartawan Jerman yang menuliskan namanya dengan ejaan Soekarno.

“Tapi kenapa kamu tulis nama saya dengan ejaan OE?” Protesnya kepada sang wartawan.

“Tapi nama saya dengan ejaan SU. Ini yang benar,” kata Bung Karno.

Baca juga:Salat Iduladha, Presiden Sukarno Ditembak dari Jarak Dekat

Hal serupa juga ditegaskan Bung Karno sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Menurut Bung Karno, ejaan OE adalah peninggalan Belanda.

“Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” kata Bung Karno.

Sementara untuk tandatangannya, Bung Karno masih menggunakan ejaan OE seperti halnya dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno mengakui, tak mudah baginya untuk merubah tandatangan pada usianya yang menginjak 50 tahun saat membahas Sukarno atau Soekarno. (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Apresiasi Kerja Bakti Nasional LDII, Bupati Fauzi: Rawat Semangat Gotong Royong

SUMENEP – Sebanyak 200 orang turun ke lapangan untuk membersihkan area pasar dan makam di Desa Paberasan, Kecamatan ...
KABAR CABANG

Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Boyolangu Tergetkan Menang Tebal pada Pemilu 2029

TULUNGAGUNG – Musyawarah Ranting (Musran) dan Musyawarah Anak Ranting (Musranran) PDI Perjuangan se-Kecamatan ...
KABAR CABANG

140 Pelajar Bubutan Terima PIP, PDIP Ingatkan Bantuan Bukan untuk Kepentingan Orang Tua

SURABAYA — Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang diterima pelajar harus benar-benar digunakan untuk kebutuhan ...
KRONIK

Di Balik Ramainya Muktamar NU, Ada Kisah Jedar dan Robert yang Dapat Pertolongan di Posko Baguna

JOMBANG — Di tengah padatnya aktivitas Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum ...
KRONIK

Banyuwangi Shrimp Fiesta, Upaya Bupati Ipuk Kampanyekan Potensi Udang

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi memiliki beragam potensi perikanan yang terus dikembangkan. Salah satunya ...
KRONIK

Agung Priyanto Soroti Persoalan Desil, Minta PAC dan Ranting Aktif Dampingi Warga

PONOROGO – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Ponorogo, Agung Priyanto, menyoroti persoalan data desil ...