Senin
31 Agustus 2026 | 6 : 15

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Saat Bung Karno Gowes dan Bertemu Marhaen

Bung Karno Bersepeda
foto: rosodaras.wordpres.com

SUATU ketika Bung Karno gowes, bersepeda santai di bagian selatan Kota Bandung. Kawasan pertanian dengan petak-petak kecil sekira sepertiga hektar tiap petak.

Hingga pandangannya tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya.

“Dia seorang diri. Pakaiannya sudah lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakyatku,” kata Bung Karno.

Bung Karno menghampiri petani yang kemudian mengenalkan namanya: Marhaen. Keduanya pun mengobrol seperti ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno: “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?”
Marhaen: “Saya, juragan.”

Bung Karno: “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”
Marhaen: “O.. tidak, gan. Saya sendiri yang punya.”

Bung Karno: “Tanah ini kaubeli?”
Marhaen: “Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Bung Karno: “Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga?”
Marhaen: “Ya, gan.”

Bung Karno: “Dan cangkul?”
Marhaen: “Ya, gan.”

Bung Karno: “Bajak?”
Marhaen: “Saya punya, gan.”

Bung Karno: “Untuk siapa hasil yang kau kerjakan?”
Marhaen: “Untuk saya, gan.”

Bung Karno: “Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”
Marhaen: “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang isteri dan empat orang anak.”

Bung Karno: “Apakah ada yang di jual dari hasilmu?”
Marhaen: “Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”

Bung Karno: “Kau mempekerjakan orang lain?”
Marhaen: “Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”

Bung Karno: “Apakah engkau pernah memburuh?”
Marhaen: “Tidak, gan. Saya harus membanting-tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”

Bung Karno kemudian menunjuk sebuah rumah kecil menyerupai gubuk.

Bung Karno: “Siapa yang punya rumah itu?”
Marhaen: “Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”

Bung Karno: “Semua ini engkau
punya?”
Marhaen: “Ya, gan.”

Dari obrolan dengan Marhaen, Bung Karno yang ketika itu berusia  20 tahun, bak mendapat ilham.

“Aku akan memakai nama itu
untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu! Semenjak itu, kunamakan rakyatku, rakyat Marhaen.”

Rakyat Marhaen disebut Bung Karno tak sekadar petani seperti petani yang ia temui dan mengenalkan diri dengan nama Marhaen. Namun dari berbagai bidang pekerjaan.

Seseorang yang menekuni pekerjaan, menjadi majikan karena memiliki alat produksi sendiri, sekaligus menjadi buruh dalam proses produksi yang digeluti. Bung Karno lantas memberikan beberapa contoh Rakyat Marhaen dalam berbagai bidang sebagai berikut:

“Dia menjadi kusir gerobak kudanya, dia menjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerjakan buruh lain.”

“Nelayan-nelayan yang bekerja sendiri dengan alat-alat seperti tongkat kail, kailnya dan perahu  kepunyaan sendiri.”

“Dan begitupun para petani yang menjadi pemilik tunggal dari sawahnya dan pemakai tunggal dari hasilnya.”

Juga penjual sate. Yang tidak punya majikan juga tidak punya pembantu. “Engkau juga seorang Marhaen,” katanya.

“Orang-orang semacam ini meliputi bagian terbanyak dari rakyat kami. Semua menjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri, jadi mereka bukanlah rakyat proletar. Mereka punya sifat khas tersendiri,” jelas Bung Karno. (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Jadi Juara Pemilu 2024, PDI Perjuangan Ngantru Komitmen Jaga Kesolidan

TULUNGAGUNG – Pengurus Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, masa bakti 2026-2031 ...
KRONIK

Apresiasi Kerja Bakti Nasional LDII, Bupati Fauzi: Rawat Semangat Gotong Royong

SUMENEP – Sebanyak 200 orang turun ke lapangan untuk membersihkan area pasar dan makam di Desa Paberasan, Kecamatan ...
KABAR CABANG

Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Boyolangu Tergetkan Menang Tebal pada Pemilu 2029

TULUNGAGUNG – Musyawarah Ranting (Musran) dan Musyawarah Anak Ranting (Musranran) PDI Perjuangan se-Kecamatan ...
KABAR CABANG

140 Pelajar Bubutan Terima PIP, PDIP Ingatkan Bantuan Bukan untuk Kepentingan Orang Tua

SURABAYA — Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang diterima pelajar harus benar-benar digunakan untuk kebutuhan ...
KRONIK

Di Balik Ramainya Muktamar NU, Ada Kisah Jedar dan Robert yang Dapat Pertolongan di Posko Baguna

JOMBANG — Di tengah padatnya aktivitas Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum ...
KRONIK

Banyuwangi Shrimp Fiesta, Upaya Bupati Ipuk Kampanyekan Potensi Udang

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi memiliki beragam potensi perikanan yang terus dikembangkan. Salah satunya ...