Kamis
15 Oktober 2026 | 10 : 24

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Saat Bung Karno Gowes dan Bertemu Marhaen

Bung Karno Bersepeda
foto: rosodaras.wordpres.com

SUATU ketika Bung Karno gowes, bersepeda santai di bagian selatan Kota Bandung. Kawasan pertanian dengan petak-petak kecil sekira sepertiga hektar tiap petak.

Hingga pandangannya tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya.

“Dia seorang diri. Pakaiannya sudah lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakyatku,” kata Bung Karno.

Bung Karno menghampiri petani yang kemudian mengenalkan namanya: Marhaen. Keduanya pun mengobrol seperti ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno: “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?”
Marhaen: “Saya, juragan.”

Bung Karno: “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”
Marhaen: “O.. tidak, gan. Saya sendiri yang punya.”

Bung Karno: “Tanah ini kaubeli?”
Marhaen: “Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Bung Karno: “Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga?”
Marhaen: “Ya, gan.”

Bung Karno: “Dan cangkul?”
Marhaen: “Ya, gan.”

Bung Karno: “Bajak?”
Marhaen: “Saya punya, gan.”

Bung Karno: “Untuk siapa hasil yang kau kerjakan?”
Marhaen: “Untuk saya, gan.”

Bung Karno: “Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”
Marhaen: “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang isteri dan empat orang anak.”

Bung Karno: “Apakah ada yang di jual dari hasilmu?”
Marhaen: “Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”

Bung Karno: “Kau mempekerjakan orang lain?”
Marhaen: “Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”

Bung Karno: “Apakah engkau pernah memburuh?”
Marhaen: “Tidak, gan. Saya harus membanting-tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”

Bung Karno kemudian menunjuk sebuah rumah kecil menyerupai gubuk.

Bung Karno: “Siapa yang punya rumah itu?”
Marhaen: “Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”

Bung Karno: “Semua ini engkau
punya?”
Marhaen: “Ya, gan.”

Dari obrolan dengan Marhaen, Bung Karno yang ketika itu berusia  20 tahun, bak mendapat ilham.

“Aku akan memakai nama itu
untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu! Semenjak itu, kunamakan rakyatku, rakyat Marhaen.”

Rakyat Marhaen disebut Bung Karno tak sekadar petani seperti petani yang ia temui dan mengenalkan diri dengan nama Marhaen. Namun dari berbagai bidang pekerjaan.

Seseorang yang menekuni pekerjaan, menjadi majikan karena memiliki alat produksi sendiri, sekaligus menjadi buruh dalam proses produksi yang digeluti. Bung Karno lantas memberikan beberapa contoh Rakyat Marhaen dalam berbagai bidang sebagai berikut:

“Dia menjadi kusir gerobak kudanya, dia menjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerjakan buruh lain.”

“Nelayan-nelayan yang bekerja sendiri dengan alat-alat seperti tongkat kail, kailnya dan perahu  kepunyaan sendiri.”

“Dan begitupun para petani yang menjadi pemilik tunggal dari sawahnya dan pemakai tunggal dari hasilnya.”

Juga penjual sate. Yang tidak punya majikan juga tidak punya pembantu. “Engkau juga seorang Marhaen,” katanya.

“Orang-orang semacam ini meliputi bagian terbanyak dari rakyat kami. Semua menjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri, jadi mereka bukanlah rakyat proletar. Mereka punya sifat khas tersendiri,” jelas Bung Karno. (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Gelar GAS NIKAH di Yayasan Taufiqus Sibyan, Hj. Ansari Tekankan Pentingnya Kepastian Hukum

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, mengingatkan masyarakat agar mencatatkan pernikahan ...
KOLOM

Pendidikan Karakter dan Cinta Tanah Air : Catatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Oleh Susy Cecilia Agustina S.* IBARAT pohon, cinta tanah air tidak tiba-tiba tumbuh, tapi perlu disemai, dipupuk, ...
EKSEKUTIF

Mas Ipin Dorong Anak Muda Trenggalek Jadi Entrepreneur dan Buka Lapangan Kerja

TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mendorong generasi muda menjadi entrepreneur yang mampu ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Minta Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Karhutla

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat yang terdampak kebakaran ...
LEGISLATIF

Kaji Ipuk: Pemkot Surabaya Siapkan 50 Hektare Lahan Makam di Sumberejo

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah menyiapkan lahan cadangan seluas 50 hektare di kawasan ...
MILANGKORI

Dari Desa, Dimas Pratama Merawat Kedekatan dengan Petani Lewat Demang Sambang

TULUNGAGUNG – Bagi petani, persoalan sehari-hari tidak selalu berhenti di sawah. Ada kebutuhan keluarga yang harus ...