JAKARTA – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak terseret dalam ingar-bingar politik dan pragmatisme perebutan kepemimpinan. Ia mendorong NU kembali menguatkan jati dirinya sebagai kekuatan moral, kultural dan keumatan.
Pesan tersebut disampaikan Said menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Menurut Said, perjalanan NU yang telah berusia lebih dari satu abad menunjukkan kekuatan organisasi tersebut tidak semata-mata bertumpu pada struktur jam’iyah, tetapi juga pada kiai, pesantren dan komunitas jamaah yang menjadi subkultur NU.
“NU bisa berkembang sedemikian besar karena NU ditopang oleh kiai dan komunitas pesantren sebagai subkultur,” kata Said, dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Ia menilai kekuatan tersebut perlu terus dirawat agar NU tidak kehilangan karakter yang selama ini menjadi sumber keteladanannya.
Said menyebut NU memiliki tradisi keilmuan dan landasan epistemologis Asy’ariyah yang terus dikontekstualisasikan sehingga mampu menjawab perubahan zaman. Di sisi lain, nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi dan kearifan lokal juga tumbuh secara organik dalam kehidupan warga NU.
Menurut dia, modal sosial tersebut harus menjadi kekuatan utama NU dalam menghadapi tantangan ke depan.
“Jangan sampai NU tergoda dalam hingar-bingar politik. Termasuk jangan pula membawa suksesi kepemimpinan NU seperti layaknya suksesi pemimpin politik yang berwatak pragmatis-transaksional,” ujarnya.
Said berharap peserta Muktamar ke-35 NU tidak menghabiskan energi pada persoalan perebutan kepemimpinan. Menurutnya, ada persoalan yang jauh lebih mendesak di tengah masyarakat dan membutuhkan perhatian NU.
Di antaranya kemiskinan, pengangguran, krisis sektor pertanian, persoalan lingkungan hingga berbagai persoalan global yang berdampak terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.
“Sebagai jamaah, kami mengharapkan Muktamar NU jangan dihabiskan energinya untuk perebutan sebagai pemimpin. Ada banyak problema besar di akar rumput NU,” katanya.
Said menilai tantangan tersebut membutuhkan kekuatan intelektual yang dimiliki NU. Selain tradisi intelektual yang tumbuh di lingkungan pesantren, NU kini memiliki banyak sarjana yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.
Menurut dia, kekuatan tersebut membuat NU tidak lagi hanya dapat dipandang sebagai kekuatan subkultur yang berakar di komunitas pesantren dan pedesaan.
“NU bukan lagi kekuatan subkultur, saat ini NU adalah kekuatan diasporik yang punya peran menjawab persoalan peradaban,” ujarnya.
Dorong Tradisi Keilmuan dan Bahtsul Masail
Said juga mendorong agar tradisi keilmuan NU semakin dikedepankan dalam Muktamar. Salah satunya melalui hasil-hasil Bahtsul Masail, sebagai forum musyawarah keilmuan ulama dan intelektual NU.
Menurutnya, forum tersebut memiliki posisi penting untuk menunjukkan kemampuan NU dalam menjawab berbagai persoalan kontemporer dengan perspektif keislaman dan keilmuan.
Ia mencontohkan perkembangan peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah yang menurutnya tidak semata ditopang oleh kekuatan politik, tetapi justru berkembang melalui tradisi ilmu pengetahuan.
Pada periode tersebut, berbagai bidang ilmu berkembang, mulai dari filsafat, matematika, kedokteran, astronomi hingga ekonomi. Sejumlah ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Al-Haitham dan Ibnu Rusyd lahir dari tradisi keilmuan tersebut.
“NU akan semakin besar dan membesarkan peradaban Islam bila tetap lurus di jalan keumatan. Ikut berkontribusi besar bagi penyelesaian persoalan umat dan masalah-masalah peradaban,” tegas Said.
Ia berharap hasil pemikiran dan keputusan Muktamar nantinya mampu memperkuat posisi NU sebagai organisasi yang relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Lebih jauh, Said mengingatkan pentingnya menjaga keteladanan para muassis atau pendiri NU dalam kehidupan organisasi.
Menurutnya, para pendiri NU membangun organisasi melalui proses panjang yang tidak hanya mengandalkan pertimbangan organisatoris, tetapi juga tirakat dan laku spiritual.
Ia menilai sikap tersebut juga tercermin dalam tradisi para kiai ketika menyikapi persoalan kepemimpinan. Para ulama terdahulu justru cenderung menghindari ambisi untuk menjadi pemimpin karena merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar terhadap amanah tersebut.
“Para kiai takut kuwalat kepada para muasis, apalagi jika sampai memimpin NU ada kekeliruan. Inilah sumber keteladanan yang harus terus dihidupkan oleh para peserta Muktamar,” katanya.
Said juga menilai NU memiliki posisi strategis dalam menghadirkan wajah Islam Indonesia yang moderat sekaligus memperkuat demokrasi dan kehidupan negara bangsa.
“NU adalah wajah Islam Indonesia, tempat saat ini dunia bisa berkiblat, karena NU bisa membawakan wajah Islam yang moderat, sekaligus ikut memupuk nilai-nilai demokrasi, bahkan ikut melahirkan negara bangsa bernama Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, Said berharap Muktamar ke-35 NU dapat menjadi momentum memperkuat kembali jalan moral, spiritual, intelektual dan sosial organisasi.
“Sebagai bagian jamaah NU yang sejak lahir, kecil hingga tumbuh dewasa di lingkungan NU, saya berharap NU teguh di jalan keteladanan moral, spiritual, dan sosial,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan selamat bermuktamar kepada seluruh peserta Muktamar ke-35 NU.
“Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi NU,” tutup Said Abdullah. (goek)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













