Residensi di Kampung Halaman

 855 pembaca

Bagi seorang penulis, mendatangi suatu daerah yang belum dikenal, banyak hal yang membuatnya tertarik. Segala sesuatunya menjadi unik dan menarik untuk ditulis, sehingga kemudian muncul berbagai program pendanaan untuk menempatkan seniman, penulis, dan beberapa kreator untuk tinggal di suatu daerah yang belum pernah didatangi. Mereka tinggal dalam batas waktu tertentu berbaur dengan masyarakat sekitar, dan kemudian menuliskan pengalamannya. Program tersebut banyak dikenal dengan sebutan Residensi.

Program residensi ke Amerika Serikat dilakukan oleh Universitas Iowa dengan mengundang beberapa sastrawan terpilih. Mereka yang diundang tinggal beberapa bulan dan menulis karya kreatif  di tempat tersebut. Beberapa sastrawan Indonesia yang pernah diundang di antaranya Budi Darma, Leon Agusta, Danarto, Okky Mandasari. Mereka tinggal beberapa bulan dan menghasilkan karya kreatif. Diharapkan setelah residensi dilakukan mereka banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan baru, diharapkan bisa menghasilkan karya baru.

Beberapa tahun terakhir beberapa lembaga di Indonesia menyelenggarakan acara yang sama, mengundang beberapa  seniman untuk melakukan residensi dan setelahnya melakukan presentasi di hadapan publik atas residensi yang dilakukan. Di antaranya; Koalisiseni.or.id, Garasi, dan Cemeti Institute, serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Mereka menyeleksi seniman yang akan mengikuti program dan yang terpilih mengikuti program nantinya melakukan presentasi atas residensinya. Sedangkan peserta residensi di Kemendikbud Ristek menuliskan dalam bentuk laporan (buku). Beberapa teman diundang Cemeti Institute untuk melakukan residensi di beberapa daerah dan setelahnya melakukan presentasi di antaranya dengan pertunjukan hasil residensi dan riset yang dilakukannya. Selain itu mereka diberi peluang untuk mengadakan seni pertunjukan di kampung halamannya berkolaborasi dengan seniman lokal (setempat).

Hasil residensi di tempat lain kemudian direfleksikan dengan kondisi budaya setempat di mana seniman berasal. Program ini merupakan hal yang sangat menarik. Sebuah kesempatan bagi seniman setempat untuk menguji ulang atas kondisi lingkungan alam, tradisi dan budaya setempat. Ini saya rasakan saat menjadi bagian dari “Tanglok: Seni Pertunjukan” yang menggali kembali tradisi budaya pesisir di Tanglok. Sebuah  tradisi pesisir yang telah kehilangan jejak, tenggelam di antara derap pembangunan yang tak lagi memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Program residensi ini sangat menarik, karena seniman bisa berinteraksi dengan orang di luarnya dan membangun jejaring yang lebih luas dalam komunikasi dan publikasi.  Sangat terbuka kemungkinan kolaborasi antar seniman setempat sehingga kemungkinan-kemungkinan baru dalam karya dapat tercipta. Terjadinya saling silang antar pengetahuan telah memungkinkan terciptanya seni baru. Setidaknya hasil residensi Royyan Julian di daerah NTB dan hasil residensinya terkumpul dalam buku “Korpus  Ovarium” diganjar penghargaan juara II yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (2021). Artinya residensi itu sangat memungkinkan untuk menemukan hal baru.

Dari sekian bentuk residensi untuk para seniman, banyak yang luput dari perhatian kita, kawan-kawan seniman yang melakukan residensi di kampung halaman mereka. Seniman yang dengan inisiatif sendiri mendokumentasikan hasil interaksinya dengan masyarakat dan dengan seniman lainnya maupun dalam kerja interdisipliner. Kesenian yang mereka jadikan media interaksi yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Sastra yang berhubungan dengan penghijauan.

Seorang penyair di Gresik melakukan residensi di kampungnya berinteraksi dengan masyarakat dengan melakukan gerakan pertanian urban di sisa lahan kompleks Perumahan Suci. Mereka menanam sayur mayur dan dimanfaatkan masyarakat secara langsung sebagai konsumsi gizi. Suatu ketika sang penyair dimintai seorang pengusaha untuk memberikan pengantar dan ulasan terhadap bukunya. Si penyair meminta bayaran tulisannya dibayar dengan alat potong rumput dan dipergunakan oleh warga sekitar.

Dia  bersama warga melakukan penghijauan di kampungnya, dan mengajak warga kampung untuk menuliskan keluhan permasalahan kampung dan suratnya ditembuskan ke  kepala desa. Cara sederhana untuk mempraktikkan literasi bersama warga kampung. Satrawan tersebut yakin bahwa bekerja sastra memiliki cara yang luwes dan  bermanfaat. Dari sebuah tulisan pengantar dalam sebuah buku meminta dibayar mesin potong rumput. Banyak hal yang diceritakan kegiatan di kampungnya dan kebetulan dipilih sebagai ketua RT, ia memanfaatkannya untuk bergerak bersama masyarakat untuk membangun kampung melalui atau dengan sastra.

Di Blitar seniman Bagus Putu Parto  bersama istri tercintanya Endang Kalimasada melakukan gerakan sastra. Bersama dengan beberapa kawannya kerap mengadakan pertunjukan sastra dan musik. Sebuah perayaan yang selalu ditandai dengan menerbitkan buku. Jika dalam ritual keseharian ada selamatan dengan berbagai macam jenis dan kegunaannya. Bagus Putu Parto selalu menandai rasa syukur dengan menerbitkan buku dan mengadakan pertunjukan sastra dan musik. Tidak kurang ada sekitar 14 buku diterbitkan menandai gerakannya di Rumah Budaya Kalimasada.

Sebuah gerakan kesenian yang bersimbiosis dengan industri roti. Sebuah pertalian sastra dengan gastronomi. Sebuah gerakan yang berangkat dari rumah bersama dengan seniman dan anggota masyarakat lainnya. Gerakan yang melepas sekat yang kaku dan menjadikan kesenian sebagai sesuatu yang menyenangkan, menggairahkan dan membangun kebersamaan.

Seorang penulis dan kebetulan seorang guru yang diberi tugas mengelola sekolah pinggiran menjadikan sekolah sebuah tempat untuk mendokumentasikan program dan aktivitas yang dijalankannya. Ia mencatat berbagai hal dan membukukannya. Sebuah dokumen selama tinggal dan mengelola sekolah. Sebuah upaya untuk berkabar dan menganalisis berbagai hal di sekolah tersebut. Sebuah langkah dokumentasi untuk dijadikan dasar penentu kebijakan.

Bagaimana pengaruh dan manfaatnya bagi kehidupan? Tentu sangat menarik ketika selama tinggal di kampung halaman berbagai peristiwa “penting” didokumentasi. Sebuah momen yang tersimpan menandai peristiwa budaya yang berlangsung dan kelak akan menjadikan dokumen tersebut sebagai bagian dari gerak peradaban. Residensi adalah sebuah praktik berkesenian baru yang berpengaruh pada perkembangan artistik seniman. Residensi memberikan ruang dan waktu yang intens kepada seniman untuk berkarya. Seniman tinggal dan berkarya di tempat tertentu agar menemukan pengalaman dan impresi yang baru.

Seandainya praktik ini dijalankan setiap orang (seniman) yang tinggal di kampung halaman, sangat terbuka berbagai dokumen tersebut akan sangat bermanfaat bagi penentu kebijakan dalam menjalankan organisasi maupun dalam menggerakkan masyarakat dan pembangunan yang direncanakan. Di saat ilmu pengetahuan saling bersilang dan tidak berdiri sendiri, maka sangat besar peluang seniman untuk berinteraksi dengan berbagai praktisi sehingga memungkinkan berbagai ruang ekspresi. Salah satunya memanfaatkan interaksi dengan masyarakat kampung tempat tinggal untuk mengasah gagasan-gagasan baru. Bahwa seni ada dan berkembang di tengah masyarakat dan mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Di sini seni kembali ke tengah masyarakat dan memberikan manfaat bagi lingkungan alam, pertanian, pertamanan, gastronomi, dan sebagainya.