oleh

Meditasi Topeng Gulur dari Ritual ke Visual

-Ruang Merah-50 kali dibaca

Seseorang dengan pakaian pesak dan gombor mengendalikan sepasang sapi yang tengah membajak  tanah dan di belakangnya diiringi beberapa orang berpakaian putih menggeggam benih jagung dan menaburkannya di lahan yang telah diolah. Sebuah pembuka pada pertunjukan ”Meditasi Topeng Gulur”  yang disutradarai Anwari dan melibatkan anak muda Martajun, Dasuk, Sumenep. Pertunjukan ini berlangsung secara daring pada tanggal 18 Nopember 2021, merupakan helat ke-10 Borobudur Writing and Culture Festival (BWCF). Pertunjukan Anwari sangat menarik, dan selalu membawa dan menjadikan Madura sebagai basis kreativitasnya. Karena ini pula penulis merasa perlu untuk menulis karena ada perubahan kebudayaan yang secara esensial tidak dirasakan. Perubahan yang berlangsung secara sistemis dan dinamis.

Topeng Gulur merupakan tarian yang awalnya dilakukan di musim panen di desa Larangan  Barma Gresik Putih Sumenep. Tarian yang dilakukan oleh keluarga dan diakukan secara turun-temurun. Lambat lau tarian ini sudah tidak ada lagi yang menarikan karena tradisi  dan ritual hasil panen jarang dilakukan. Tarian ini aslinya penarinya berguling-guling (agulur) di permukaan tanah sebagai bentuk penyatuan terhadap bumi yang telah memberikan kesuburan bagi para petani.

Pertunjukan “Meditasi Topeng Gulur”  ada empat babak yang sangat penting. Pertama, adegan mempertunjukkan menanam bibit jagung. Sebuah Visual yang menggambarkan tradisi menanam bagi orang Madura dengan peran sepasang sapi sebagai pengolah tanah. Sampai saat ini di beberapa tempat tradisi ini masih dilakukan. Sebuah simbol peran sapi dalam kehidupan keluarga petani Madura. Meski pada saat ini sudah banyak yang menggunakan hand traktor ketika ngolah tanah.

Kedua, adegan menari di bukit kapur. Sebuah bukit gersang dan dikelilingi batu bata yang indah. Penari menari di atas hamparan batu dengan gerakan yang monoton dan terlihat kontras penari dengan latar yang semuanya putih. Kemudian penari bergulir di atas batu secara perlahan. Adegan berguling di atas bukit kapur, seperti geak mengitari hamparan batu yang tandus.

Pada adegan ketiga penari begulingan di atas pasir pantai (Pantai Badur). Sebuah pantai yang indah dan komposisi penari yang melingkar dengan tubuh terlentang di tanah dan pakaian putih membuat kontras dengan pantai. Sorot kamera menjauh kemudian mendekat menyorot para penari. Sebuah keindahan yang eksotik. Pada adegan ini selain menampilkan gerak tubuh sutradara ingin menampakkan eksotika pantai Badur dan konon di sekelilingnya telah dikuasai para investor. Suatu kondisi yang sebenarnya sudah tidak seindah yang ditarikan.

Keempat, penari berada di sebuah rumah tua dengan latar dua orang perempuan lanjut usia. Ketuaan juga disimbolkan rumah yang beralaskan tanah dan dua nenek yang tengah meronce sedang menginang.  Setua ini topeng gulur berada dan tengah tergusur oleh perubahan yang berlangsung secara sistemik. Pada adegan ini seorang penari keluar dari sebuah pintu. Lamat terdengar suara Puna’i mamaca. Penari bergulir di atas tanah  mengerakan tangan dan kaki dan seekali duduk dengan menggerakkan kedua tangan. Dua nenek itu memakai topengnya berada di sudut ruang. Kemudian gerakan beralih pada penari yang bergerak mengitari ruang dengan bergulir. Ada beberapa orang lelaki yang berbeda usia dari usia kanak sampai usia dewasa melpas dan memasang openg bergantian.

Dari dalam rumah penari beranjak ke halaman rumah. Tiga orang penari dan seorang penari degan topeng berwarna merah bergulingan dan sesekali bertumpu pada ke dua lutut. Dua penari dengan warna pakaian polos berjongkok menatap ke arah depan. Saat penari bertopeng merah mencium tanah, kedua penari berdiri dan melenggokan tubuh.

Sebuah tarian yang eksotis, enak dipandang. Gerakanya lentur dan lembut serta seting pertunjukan sangat eksotis. Tradisi menanam telah berganti, tidak banyak orang menggunakan sapI dan nanggala untuk mengolah tanah. Pertanian kita telah digantikan hand traktor yang lebih praktis dan hanya memberi makan bensin. Budaya menanam telah beralih menjadi sebuah industri yang mempertimbangkan efisiensi dan untung rugi. Hidup yang terus bergerak dan kebudayaan yang terus bergulir, tumbuh sampai akhir.

Berubahnya tradisi menanam dengan perubahan perkembangan teknologi yang mengikuiti petani tak butuh lagi ritual panen dan semacamnya. Pertanian sebagai salah satu industri yang memberikan keuntungan secara ekonomis telah menghilangkan berbagai tradisi yag dianggap kurang efisien. Kegiatan mengarah kepada produksi dan tidak lagi menjadikan tradisi sebagai bagian penting dalam bidang pertanian. Kalau  ada hanya sebuah pertunjukan yang sudah diadaptasi dan disepakati sebagai sebuah tontonan yang telah kehilangan sakralitas dan filosofinya.

“Meditasi Topeng Ghulur” secara eksotis telah mampu menunjukkan sebuah pertunjukan yang mampu memadukan antara ornamen-ornamen topeng dalam sebuah petunjukan. Tradisi bercocok tanam, telah mengingatkan tradisi menanam masyarakat Madura dan menjadikan sapi sebagai hewan peliharaan yang sangat dibutuhkan petani. Bagaimana sapi diperlakukan sehingga bernilai sebagai pekerja dan sebagai investasi kaum tani. Sapi yang memiliki arti penting dalam masyarakat Madura baik dalam siklus kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Budaya bercocok tanam telah digantikan dengan teknologi sehingga sapi telah banyak berperan sebagai invesasi dan konsumsi. Sapi tidak lagi membajak sawah dan ladang tetapi sebagai pedaging untuk memenuhi kebutuhan gizi. Kebutuhan akan konsumsi dan peningkatan ekonomi telah terjadi perubahan pada sapi lokal Madura. Persilangan dengan sapi Limosin telah melahirkan varietas “Madrasin”. Saat ini mulai banyak dipelihara dan diperjual belikan. Budaya ternak memasuki teknologi rekayasa dengan silang genetik adalah niscaya dan yang tradisional telah ditinggalkan.

Genetika sapi Madrasin (Silang sapi Madura dan Limosin) merupakan identitas baru yang memadukan lokalitas dengan yang asing, dan memberikan keuntungan secara ekonomi. Namun dari sisi adaptasi tidak dapat menandingi sapi Madura yang tahan panas dan kekeringan. Juga rasa daging yang kesat tak tergantikan dalam daging Madrasin.

Ketiga, persoalan eksistem. Hal yang sangat menarik bahwa ekosistem di Madura telah banyak berubah. Pantai telah bersolek menjadi destinasi wisata dengan  berbagai aksesoris dan keindahan yang ditata secara artifisial. Ekosistem pantai, telah banyak kehilangan ekosistemnya baik untuk pemukiman atau yang telah dirambah sebagai destinasi wisata. Di samping ada beberapa pantai telah dijadikan tempat pembuangan limbah karena di sekitarnya telah dikepung tambak udang. Persoalan ekosistem yang tidak dirasakan dan telah berlangsung secara sistemik. Ketika tanah di sekitar pesisir telah dikuasai oleh investor.

Reprsentasi ‘Meditasi Topeng Ghulur’ mampu menyajikan visual yang sangat bagus. Sebuah visual meditasi yang mengagungkan keindahan gerak namun kehilangan esensi persoalan yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekitarnya. Terasa kontras saat menyaksikan “Meditasi Topeng Ghulur” dibandingkan dengan tari “Topeng Ghulur” yang diangkat Koreografi Moh. Hariyanto (lebih dikenal dengan Hari Ghulur ) pada pementasan di teater Salihara (2017). Pada pementasan tersebut seluruh ruang dilapisi seng gelombang dan bahkan pintu masuk dihampari seng, sehingga penonton yang hadir marasakan kebisingan, gaduh dan merasa  tidak nyaman. Sebuah simbol yang dikedepankan Hari mengenai “pembangunan” dan ketidaknyamanan yang dirasakan. Dialog antara tubuh dengan tanah. Dialog yang terejawantah dalam gerak bergulung-gulung, tapa bertumpu kepada dua kaki dengan gerakan melompat, merayap dan bergulung. Gerakan terjatuh berulang yang menimbulkan bising karena jatuh di hamparan seng.

Apakah kontras ini dilandasi niat Anwari untuk melestarikan tari topeng ghulur dari masyarakat Larangan  Barma – Batu Putih ke masyarakat di desa Martajun – Dasuk – Sumenep sebagai yang disampaikan pada pengantar awal pertunjukan. Tentu pencangkokan ini membawa berbagai konsekuensinya. Tari yang semula mejadi ritual sebagai rasa syukur terhadap keberlimpahan terhadap bumi menjadi hanya visual sebuah pertunjukan  yang mampu memindahkan realitas konkrit ke atas panggung.

Topeng Ghulur yang renta dan sudah tidak ada lagi Meditasi Topeng Ghulur  pelanjutnya. telah kehilangan rohnya dalam pertunjukan. Sebuah pertunjukan yang secara visual merepresentasikan gerak dan olah tubuh dengan seting yang indah. Sebuah keberuntuntangan dari perunjukan secara virtual sehingga bisa memanfaatkan berbagai seting yang mampu menyajikan pertunjukan secara videografis mampu menyajikan keindahan bukit kapur dan pantai Badur secara eksotis.  

Apakah Topeng Ghulur akan tumbuh dan berkembang di anak-anak muda Martajun yang melakukan pembiakan dan pelaku topeng ghulur dalam pertunjukan ini? Pertanyaan yang tidak mudah dijelaskan sebab daya hidup itu membutuhkan waktu dan kesungguhan. Sebab ia kini tidak lagi hidup dalam lingkungannya secara alamiah tetapi dalam habitusnya yang baru dan telah kehilangan tradisinya. Topeng Ghulur saat ini hidup dari panggung yang telah kehilangan momen ritualnya di lahan pertanian saat panen tiba. Sebab, seni tradisional mula hidup karena berkenaan dengan kebiasaan yang dilakukan masyarakatnya.

Persoalan paling krusial bahwa telah banyak perubahan di lingkungan masyarakat pemiliknya sehubungan dengan berbagai persoalan lahan pertanian yang sudah sangat sulit untuk tetap melaksanakan ritual “Topeng Ghulur” sebagai rasa syukur atas  keberlimpahan bumi. Eksotika yang ditawarkan berseberangan dengan keberadaan lahan yang banyak dikuasai para pemilik modal. Tanah yang tak lagi nyaman, tanah yang tak lagi milik masyarakat kampungnya.