Oleh Set Wahedi*
(1)
21 Agustus 2021. Kabar meninggalnya Prof Budi Darma, membuat saya tertegun. Saya membayangkan, Rafilus, Olenka, Kritikus Adinan, Orang-Orang Bloomington, dan tokoh-tokoh ceritanya yang lain juga pada tertegun. Mungkin mereka melongo, sambil berharap si pengarang seperti Rafilus yang mati dua kali. Tapi itu tidak akan terjadi. Lini massa dipenuhi ucapan duka dan rasa kehilangan dari para kolega, terutama mereka yang jatuh cinta pada Olenka, Orang-orang Bloomington, Rafilus, Ny. Talis, dan seabrek karyanya.
Kematian mungkin batas ‘takdir yang dijemput’ Prof Budi Darma sebagai seorang penulis. Tapi ia bukan akhir dari cerita tentangnya. Jika selama ini kita terpukau pada Prof Budi Darma lewat Rafilus, Olenka, Orang-Orang Bloomington, Kritikus Adinan, Ny. Talis, kematian justru membuka keterpukauan yang lain: betapa Prof Budi Darma telah memberi kita keberanian untuk mengungkapkan berbagai yang berkelebat dan andaian di dalam kepala kita. Segala artefak kenangan tentang ceritanya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana ia bersikap, berbicara, respek pada orang, dan sebagainya.
Semua orang memang pantas merasa kehilangan, terutama para pembaca cerpen atau esainya di akhir pekan. Mereka tidak hanya kehilangan sesosok guru besar. Akan tetapi pendongeng yang menjaga nalar waras kemanusiaan kita lewat amatannya yang tajam.
(2)
Pertemuan pertama saya dengan Prof Budi Darma terjadi pada suatu siang yang berkilat di Jalan Semarang Surabaya. Waktu itu, kecuali Pramoedya Ananta Toer, saya belum begitu akrab dengan beberapa pengarang Indonesia. Pun Prof Budi Darma. Siang itu, terik panas menakik-nakik. Buku di ujung bibir kios tidak mampu menahan debu dan angin yang menggerayanginya. Si penjual pun hanya bertopang dagu. Dengan membenamkan kepalanya pada petak teka-teki, keringatnya dibiarkan lesap begitu saja. Mengering begitu saja.

Gerah. Sungguh siang yang gerah. Olenka. Budi Darma. Ketika kutanya harganya, penjaga kios itu menyebutkan angka 20 ribu. Saya keberatan. Saya tawar dengan harga terjun bebas. 7.500. Tawaran kurang ajar. Mata penjaga kios segera mengabaikan mulut saya. Batinnya setengah mengumpat, dasar! Aku coba bertahan, melemparkan tawaran berikutnya: 10.000. Penjaga kios itu seperti menyimpan kepercayaan akan keseriusan. Rasa ibanya melumuri kata-katanya ketika mengatakan buku itu bagus. Jadilah, Budi Darma dalam tasku.
Siang itu di tahun 2006. Membaca “Olenka”, saya seperti mendapati suara-suara tanpa beban. Tokoh-tokoh dalam “Olenka” berbicara dengan hasrat yang menggebu-gebu, kadang nyeleneh. Fanton Drummond. Drummond Fanton. Menjadi frase yang menyegarkan untuk mengenali tokoh di setiap percakapan. Kliping berita di koran, surat panjang, dan percakapan-percakapan yang kadang menukik, telah menjadikan novel “Olenka” semacam perayaan. Seperti sebuah pesta. Tapi berbagai jalin-kelindan peristiwa itu, belum bisa saya percayai terjadi di Amerika. Dalam sangka saya, peristiwa itu terjadi di Indonesia. Kekocakan tokoh-tokoh dalam “Olenka” tidak jauh berbeda dengan kekonyolan orang-orang di kampungku.
(3)
Suatu siang, saya tiba di Bungurasih setelah hampir tujuh jam menempuh perjalanan dari Jogja. Saya langsung menuju Gedung Pascasarjana di Ketintang. Setelah beberapa hari kami berbalas sms. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Prof Budi Darma secara fisik. Meski berulang bertemu dengannya dalam forum-forum sastra, saya belum bisa menjadi tokoh ceritanya yang menemukan nomor telepon di dinding toilet, menghubunginya, mencari orangnya, dan mengajaknya kawin.
Dalam forum-forum sastra bersama Prof Budi Darma, saya hanya duduk diam, menikmati cara berceritanya dari sudut kursi belakang. Ya, meski dia menyampaikan makalah ilmiah, ulasan novel, atau ceramah sastra, saya merasakan dia sedang bercerita. ‘Cerita’ sudah melekat dalam dirinya. Dan setiap ceritanya memang membutuhkan ruang bersemayam dalam diri saya.
Di ruang dosen gedung Pascasarjana, Prof Budi Darma begitu bersahaja. Dia memanggil saya dengan “Mas”. Cerita ketertarikan saya pada poskolonial di sekolah pascasarjana beberapa minggu sebelumnya, ternyata mendapatkan perhatiannya. Setelah memberi satu-dua patah kata sambutan pertemuan, dan nasihat untuk belajar sungguh-sungguh, dia memberi saya buku “Teori Poskolonial Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat” karya Leela Gandhi. Saya sedikit terbata. Bukankah hadiah terbaik adalah buku? Pekik saya dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Prof,” saya hampir mengucapkan kalimat itu dengan berteriak. Untungnya pintu berderit. Prof Suyatno lalu memecahkan kesenyapan yang sesekali mengambang di antara saya dan Prof Budi Darma. Prof Suyatno pun mengambil juru kemudi percakapan. Nyaris satu jam lebih, Prof Budi Darma hanya melemparkan pertanyaan-pertanyaan ringan pada Prof Suyatno. Siang itu, saya menjadi mahasiswa yang baik. Tidak ingin banyak bertanya. Hanya mendengarkan Prof Suyatno bercerita dan sambil menikmati Prof Budi Darma membiarkan lawan bicaranya mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan rasa bangga.
(4)
14 Februari 2018 saya memutuskan berhenti bekerja dari sebuah kampus. Di tahun itu, saya hampir bersumpah untuk tidak kembali ke dunia kampus. Pengalaman mendapatkan intrik dan keterpaksaan menyerang balik di dunia kampus benar-benar memuakkan. Perseteruan di dunia kampus ternyata lebih berkecamuk di banding dunia politik. Perseteruan dunia kampus melibatkan persoalan manusia yang komplek: iri, dengki, materi, ideologi, ketololan, kerakusan, ketamakan, kemunafikan, dan lainnya.
Sampai suatu siang 24 Desember 2018, saya melihat akun Facebook Prof Budi Darma aktif. Saya sapa beliau. Dan seperti pada permulaan suatu cerita, Prof Budi Darma membalas pesan saya dengan kalimat sederhana, “Kepada Mas Slamet Wahedi saya sampaikan salam, mudah-mudahan Mas Slamet Wahedi bisa segera melanjutkan studi lagi.” Kalimat yang membuat saya menghela nafas. Begitu santunnya beliau, meski pada mahasiswanya. Kemudian saya merespon doanya dengan amin. Saya girang. Hati kecil saya berkata, kemungkinan saya akan kuliah lagi. Akan kembali ke dunia kampus lagi.
Dan di tahun 2020, Allah mengabulkan doa Prof Budi Darma. Saya diberi kesempatan dan kekuatan untuk kuliah lagi. Sayangnya, setahun kemudian, Prof Budi Darma meninggalkan kita semua. Padahal saya ingin sekali sit in di kelasnya, mendengarkannya bercerita tentang poskolonial. Semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya, Prof. (*)
*Set Wahedi, nama pena dari Salamet Wahedi, esais dan dosen STKIP PGRI Sumenep
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS











