Sabtu
05 September 2026 | 7 : 03

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Raih Kalpataru, Ketua PAC Campurdarat Komit Edukasi Penyelamatan Lingkungan

pdip-jatim-karsi-pac-campurdarat-1

KESUKSESAN meraih Piala Kalpataru pada tahun 2018 tidak lantas membuat Karsi Nerro Soethamrin berpuas diri. Ketua PAC PDI Perjuangan Campurdarat Kabupaten Tulungagung ini sekarang justru sibuk menebar dan menyebarkan edukasi pada semua lapisan masyarakat untuk ikut dalam menjaga serta menyelamatkan lingkungan hidup.

“Kami terus memberi edukasi pada semua masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa. Betapa pentingnya saat ini dan seterusnya menjaga serta menyelamatkan lingkungan,” ujarnya, Rabu (24/3/2021).

Disamping itu, Karsi pun terus pula menggalang warga untuk sama-sama peduli dengan keberadaan sampah. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan pendirian sejumlah bank sampah. “Sebentar lagi menyusul dengan pembentukan koperasi bank sampah,” sambungnya. 

Memang pria yang identik rambut gondrong dan berkopiah ini selalu sibuk dengan kepeduliannya dengan lingkungan hidup. Bahkan kerap juga menjadi pembicara atau narasumber dalam seminar atau lokakarya tentang pemeliharaan air dan lingkungan hidup.

Namun demikian, meski sudah berprestasi di bidang lingkungan hidup, Karsi masih merasa belum puas juga. Ia mengatakan masih perlu pembinaan, utamanya sebagai kader PDI Perjuangan. 

“Mungkin ada program pembinaan atau apalah bagi kader yang seperti kami ini,” tuturnya. 

Karsi yang menjabat sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Campurdarat untuk kedua kalinya sampai tahun 2025 juga terus berkiprah di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Tulungagung sebagai ketua dan sebagai pengurus di Pokdarwis Provinsi Jatim. 

Selain juga sebagai Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Tulungagung. Di Pokdarwis ini Karsi mengelola Telaga Buret yang mengantarkannya membawa pulang Piala Kalapataru yang diperolehnya di Bitung Sulawesi Utara pada tahun 2018 silam. 

Telaga Buret berada di Desa Sawo Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Saat ini, taman pelestarian lingkungan hidup tersebut jadi jujukan sebagai tempat wisata ekologi. 

Hawanya sejuk dan bisa melihat hewan kera ekor panjang serta sepasang rusa yang sedang ditangkarkan. Selain juga dapat memandang geliat sejumlah ikan yang berada di telaga berukuran sekitar 40 x 30 meter.

Telaga Buret cukup nyaman dijadikan tempat untuk sekedar bersantai di hari libur. Ada 170 jenis pohon tumbuh di tempat seluas 22 hektar itu.

Menurut Karsi, ekologi di Telaga Buret semakin berkembang dengan baik di tengah masa pandemi Covid-19. Konservasi lingkungan hidup di sana justru malah berkembang dengan bagus, tatkala tidak tersentuh oleh pengunjung.

“Sejak pandemi dan dilakukan penutupan obyek wisata di Tulungagung konservasi malah bagus. Termasuk kesan angker yang sudah ter-mindset oleh masyarakat semakin membuat ekologi di Telaga Buret terjaga,” papar pria yang menjadi pembaca teks Pancasila saat Rakornas PDI Perjuangan di Jakarta tahun 2018.

Keangkeran Telaga Buret yang mistis, lanjut dia, justru membuat kawasan yang sekarang setara dengan hutan lindung itu menjadi terjaga. 

“Sampai sekarang tidak ada yang berani mengganggu kelestarian lingkungan di Telaga Buret. Tidak ada yang berani menebang pohon. Masyarakat sekitar hanya memungut ranting pohon yang jatuh, tidak berani menebang pohon,” katanya.

Keengganan masyarakat menebang pohon ini karena sudah tersebar cerita mistis bagi yang menebang pohon di Telaga Buret akan celaka. “Itu cerita mistis dari nenek moyang,” terang Karsi.

Lebih lanjut, pria yang juga sempat menjadi nominator peraih Piala Kalpataru tahun 2015 lalu itu menyatakan cerita tentang keangkeran tersebut juga efektif untuk menjaga kelestarian Telaga Buret dalam mengaliri areal persawahan di empat desa di Kecamatan Campurdarat. 

“Kalau sampai lingkungan Telaga Buret tidak terjaga dan banyak penebangan pohon bisa jadi tidak ada lagi air untuk mengaliri sawah di empat desa,” tuturnya lagi.

Karsi menyebut dengan terjaganya lingkungan di sekitar Telaga Buret, dari dulu sampai sekarang air yang mengalir dari telaga tersebut tidak pernah surut sekalipun musim kemarau. 

Air dari Telaga Buret tetap mengalir ke areal persawahan milik warga di Desa Sawo, Desa Ngentrong, Desa Gedangan dan Desa Gamping. (atu)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Di Tempat Hasto Dilahirkan, Demokrasi Dibicarakan Lewat Gamelan dan Tarian

YOGYAKARTA – Tidak ada kemewahan ruang pertemuan hotel. Tidak ada pendingin udara yang membuat suasana malam terasa ...
LEGISLATIF

Puan Dukung Penegakan Hukum 21 Badan Usaha Terkait Karhutla, Minta Prosesnya Transparan

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mendukung langkah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melakukan penegakan hukum ...
KRONIK

Hasto Ingatkan Ancaman Populisme Otoriter, Dorong Lima Agenda Ketahanan Demokrasi

YOGYAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengingatkan menguatnya populisme otoriter dapat ...
KRONIK

Pantau Langsung Kebakaran Kawah Ijen, Bupati Ipuk Ajukan Helikopter Water Bombing

BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memantau langsung lokasi kebakaran di Kawsan Pegunungan Ijen, ...
KRONIK

Bupati Fauzi Lantik 4 Kepala OPD, Tekankan Integritas dan Pelayanan Terbaik untuk Rakyat

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melantik empat pejabat pimpinan tinggi pratama (JPTP) di ...
KABAR CABANG

Formasi Baru Terbentuk, Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Pagerwojo Siap Menangkan Pemilu 2029

TULUNGAGUNG – Pengurus Ranting dan Anak Ranting PDI Perjuangan se-Kecamatan Pagerwojo masa bakti 2026-2031 resmi ...