Kamis
23 Juli 2026 | 6 : 38

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

PDIP-Jatim Martin Rachmanto 01062026

Oleh Martin Rachmanto

ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum disekat oleh kecurigaan politik yang tebal. Di sana, Bung Karno kerap duduk di rumput, dikerubuti anak-anak kecil yang tertawa tanpa beban.

Proklamator kita, lelaki dengan tatapan sebuas elang itu, mendadak luruh menjadi seorang bapak yang hangat. Bagi Soekarno, anak-anak bukanlah sekadar objek statistik dalam sensus penduduk, melainkan fajar yang sedang menyingsing.

“Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia,” pekiknya yang legendaris itu bukanlah sebuah metafora kosong. Kalimat itu adalah sebuah iman kebudayaan.

Bung Karno tahu benar, pemuda yang bisa mengguncang dunia bukanlah mereka yang lidahnya kelu meniru-niru gaya hidup Barat,atau yang jiwanya rapuh terjebak dalam pusaran arus kebudayaan luar yang mencabut mereka dari akar tanah airnya.

Bung Karno memimpikan generasi yang mandiri, yang berkepribadian dalam kebudayaan. Sebuah generasi emas yang berdiri tegak di atas kaki sendiri, menatap modernitas tanpa harus kehilangan jati diri sebagai manusia Indonesia.

Namun, hari ini, menjelang Hari Anak Nasional, kita sering kali menyempitkan arti “mempersiapkan generasi” menjadi sekadar urusan biologis dan mekanis.

Di panggung-panggung politik dan baliho kebijakan, kita jamak mendengar bahwa jalan pintas menuju Generasi Emas 2045 adalah dengan mengisi lambung-lambung yang kosong.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diagungkan seolah-olah ia adalah tongkat sihir yang seketika bisa melenyapkan ketertinggalan bangsa.Tentu, kita tidak boleh menolak pentingnya nutrisi; anak yang lapar tidak akan bisa mengeja kata dengan baik.

Tetapi, memperlakukan masa depan anak-anak kita sebatas perkara kalori dan protein adalah sebuah penyederhanaan yang mencemaskan. Manusia bukan sekadar ternak yang asal kenyang lalu menjadi unggul.

Jika kita hanya sibuk memberi makan tanpa menyalakan api di dalam kepala mereka, kita sebenarnya sedang membangun sebuah generasi dengan tubuh yang kekar, namun berjiwa kerdil dan berpikiran kosong.

Di sinilah kita harus memanggil kembali bayang-bayang Tan Malaka dari kegelapan sejarah. Sang Pacar Merah, pemikir sosialis yang hidupnya habis dalam pelarian dan kesunyian, memiliki pemahaman yang jauh lebih radikal dalam arti yang paling mendasar tentang arti kemerdekaan.

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan sejati tidak dimulai ketika bendera asing diturunkan, melainkan ketika sebuah bangsa berhasil memerdekakan dirinya dari dua hantu kembar: kebodohan dan kemiskinan.

Dan senjata utama untuk menumbangkan kedua hantu itu bukanlah bantuan sosial yang karitatif, melainkan pendidikan yang membebaskan. Pendidikan, dalam nalar Tan Malaka, adalah sebuah pondasi yang menguatkan dialektika berpikir.

Ia adalah proses membuka mata anak-anak rakyat agar mereka sadar akan posisinya, mampu menganalisis ketimpangan, dan bergerak keluar dari lumpur kemiskinan struktural dengan kekuatan rasionya sendiri.

Ketika kita menghadapkan konsep Makan Bergizi Gratis dengan visi pendidikan Tan Malaka, kita melihat sebuah jurang konseptual yang menganga. Mengandalkan makanan gratis sebagai instrumen utama pembangunan manusia adalah tindakan memoles cangkang luar, sementara isinya dibiarkan keropos.

Jika sekolah-sekolah di pelosok negeri masih kekurangan guru yang kompeten, jika perpustakaan kita hanya berisi buku-buku berdebu yang tak menarik minat baca, dan jika kurikulum kita hanya mencetak robot-robot penghafal yang gagap menghadapi perubahan zaman, maka pemenuhan gizi hanya akan menghasilkan penonton yang sehat di pinggiran sejarah.

Pendidikan adalah arsitektur jiwa. Tanpa pendidikan yang bermutu, anak-anak kita hanya akan menjadi konsumen pasif di era digital, menjadi pasar yang gemuk bagi algoritma global, persis seperti apa yang paling ditakuti oleh Bung Karno: menjadi bangsa tempe yang kehilangan kedaulatan budayanya.

Menciptakan generasi emas menuntut kita untuk berani berinvestasi pada hal-hal yang tidak segera menghasilkan foto sirkus politik yang indah. Ia menuntut perbaikan fasilitas sekolah, kesejahteraan guru, akses internet yang merata, dan ruang-ruang kreatif yang memicu daya kritis anak.

Kita harus memberi mereka makan, ya, tetapi yang lebih utama adalah memberi mereka instrumen untuk bisa mencari makan sendiri di masa depan, yaitu ilmu pengetahuan dan karakter yang kokoh.

Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan kembali isi kepala dan dada anak-anak kita, bukan sekadar menghitung berapa banyak kotak susu yang telah dibagikan.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat apakah kita adalah generasi orang dewasa yang bertanggungjawab atau sekadar sekumpulan orang tuay ang malas.

Generasi emas tidak akan pernah lahir dari rahim kebijakan yang instan dan dangkal. Ia lahir dari ruang-ruang kelas yang menghidupkan rasa ingin tahu, dari guru-guru yang menginspirasi, dan dari lingkungan yang menjaga agar api nasionalisme ala Soekarno dan ketajaman berpikir ala Tan Malaka tetap menyala dalam sanubari setiap anak.

Mari kita penuhi meja makan mereka, tetapi jangan pernah biarkan otak mereka kelaparan akan kebenaran, ilmu, dan martabat. Sebab di sana, di dalam ruang gelap bernama masa depan, merekalah yang akan memegang kemudi republik ini. Selamat Hari Anak Nasional!

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...
KRONIK

Hari Anak Nasional 2026, PDI Perjuangan Tegaskan Komitmen Wujudkan Generasi Emas

JAKARTA — PDI Perjuangan menyampaikan pesan penting dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Partai ...
KRONIK

Banyuwangi Asri, Ribuan Warga Bergerak Bersihkan Pantai Ancol Plengsengan

BANYUWANGI – Lebih dari seribu orang bergerak membersihkan pantai di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Minta Pemeriksaan Dugaan Penyimpangan Dana Rp8 Miliar di KBS Dituntaskan

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta proses pemeriksaan dugaan penggunaan dana tidak wajar sekitar Rp8 ...
LEGISLATIF

Perkuat Tata Kelola Pengadaan, Candra Minta Pemkab Jember Tindak Lanjuti Rekomendasi MCP KPK

JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, meminta Pemerintah Kabupaten Jember segera menindaklanjuti ...
LEGISLATIF

Puan Dorong Pemenuhan Hak Anak Jadi Indikator Utama Keberhasilan Pembangunan Nasional

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong pemerintah menjadikan pemenuhan hak anak sebagai indikator utama ...