oleh

Pemkab Kediri Ancang-ancang Uji Coba PTM

-Eksekutif-20 kali dibaca

KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri merencanakan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) mulai 14 September.

“Insya Allah tanggal 14 sudah ada beberapa titik yang akan mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka. Untuk persiapannya, hari Minggu (12/9/2021) kita rapatkan lagi,” kata Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Sabtu (11/9/2021).

Kabupaten Kediri sekarang berada di level 2 PPKM sehingga boleh melakukan uji coba PTM secara langsung. Syarat utama yang harus dilaksanakan yakni pelajar harus sudah tervaksinasi.

Pemerintah Kabupaten Kediri sendiri sudah melaksanakan vaksinasi bagi para pelajar.

“Dosis vaksin bagi pelajar sudah siap, jenisnya Sinovac. Karena vaksin Sinovac yang telah mendapat izin untuk vaksinasi anak di usia 12 tahun,” jelas kader PDI Perjuangan yang akrab disapa Mas Bup ini.

Menurutnya, penyerapan vaksin bagi pelajar sudah mencapai sekitar 20 persen. Dalam waktu waktu 2 minggu ini, pihaknya bakal menggenjot vaksinasi bagi para pelajar.

Sementara untuk guru pengajar sudah dilakukan vaksin secara menyeluruh. “Kalau kemarin kita menyediakan, kalau secara vial hampir 4 ribu,” beber Mas Bup.

Sekedar diketahui, kasus akibat pandemi Covid-19 di wilayah Kabupaten Kediri saat ini cenderung mengalami grafik penurunan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Sujud Winarko kepada wartawan saat meninjau pelaksanaan vaksinasi di SMPN 1 Ngasem membeberkan, untuk tahapan uji coba PTM langsung akan dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, sesuai prosedur pelaksanaan dari kementerian pendidikan.

Siswa yang boleh datang maksimal hanya 30 persen dari jumlah keseluruhan dalam satu kelas sehingga prosesnya masih sangat terbatas.

Beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh daerah jika akan menyelenggarakan PTM antara lain, tenaga pengajar dan staf sekolah harus sudah tervaksin, pun pelajar sudah tervaksin.

Selain itu, saat proses pembelajaran wajib menggunakan masker, memakai faceshield, menjaga jarak dan tidak boleh berkerumun serta durasi pembelajaran tidak boleh melebihi empat jam.

“Kita simulasikan nanti setiap hari yang masuk hanya 30 persen dari jumlah siswa keseluruhan untuk SD dan SMP. Pelaksanaannya nanti sambil kita koordinasikan bersama. Kita berdoa, mudah-mudahan setelah ini tidak diperpanjang lagi dan wilayah kita diturunkan di level 2,” ujarnya. (putera/pr)