Oleh Nur Hakim
SETIAP 1 Juni, kita ramai-ramai merayakan Hari Lahir Pancasila. Trending di media sosial, upacara digelar, pidato membara, lalu setelah itu? Kita kembali ke rutinitas, seolah Pancasila cukup dikenang sekali setahun, seperti mantan yang hanya diingat di hari ulang tahunnya. Saya tidak sedang bercanda. Saya sedang serius mengajak kita jujur pada diri sendiri.
Coba tanya sembarang orang di jalanan, “Apa isi Pancasila?” Hampir pasti mereka bisa menjawab. Dari anak SD sampai kakek-kakek di warung kopi, sila pertama sampai sila kelima sudah terpatri di kepala. Kita cukup handal menghafal. Tapi coba ganti pertanyaannya, “Apa makna sila ketiga dalam kehidupan sehari-harimu?” Mendadak hening.
Di sinilah masalahnya. Kita terjebak pada Pancasila sebagai teks, bukan sebagai jiwa. Menghafal itu mudah, bisa dilihat dari sistem pendidikan kita sudah sangat lihai mencetak penghafal ulung. Tapi memahami esensinya, menginternalisasi nilainya, lalu menggerakkan tubuh dan pikiran berdasarkan nilai itu masih tertatih-tatih. Nah, ini yang masih jadi pekerjaan yang tak kunjung selesai di tanah air tercinta ini.
Akibatnya nyata. Ketika nilai-nilai Pancasila tidak benar-benar hidup dalam kesadaran seseorang, ia tidak akan merasa terpanggil untuk bertindak sesuai esensinya. Gotong royong berhenti di slogan. Keadilan sosial cuma jadi caption. Persatuan Indonesia hanya indah saat lagu Indonesia Raya dilantunkan. Habis itu kita kembali saling hujat di kolom komentar.
***
Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak Anda melihat dua fenomena yang sedang kita hadapi, bukan untuk mengeluh, tapi untuk menunjukkan bahwa Pancasila sebenarnya punya jawaban, jika kita sungguh-sungguh memahaminya.
Pertama, tekanan ekonomi global. Belakangan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus bergerak liar. Harga kebutuhan pokok merangkak naik, daya beli masyarakat tergerus. Banyak yang panik, banyak yang menyalahkan pemerintah, sebagian lagi pasrah. Tapi coba kita baca sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini bukan sekadar cita- cita. Ini mandat konstitusional. Pasal 33 UUD 1945 dengan tegas menyebut bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Artinya, ketika ekonomi goyah, respons kita seharusnya bukan panik individual, melainkan solidaritas kolektif. Misalnya, beli produk lokal, kuatkan UMKM, jaga rantai ekonomi sesama. Itu Pancasila yang bekerja.
Kedua, pembabatan hutan di Papua. Kasus yang sempat diangkat dalam film dokumenter, Pesta Babi, ini menampar kita keras. Hutan dirampas, masyarakat adat tersingkir, tanah leluhur dijual atas nama ketahanan pangan. Ini bukan hanya masalah lingkungan, ini pelanggaran terhadap esensi sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab, sekaligus sila ketiga: Persatuan Indonesia.
Bagaimana bisa kita bicara persatuan, sementara saudara kita di Papua kehilangan lahan dan identitasnya? Pasal 28H UUD 1945 pun menjamin hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jika nilai Pancasila benar-benar hidup dalam pengambilan keputusan, kebijakan yang merugikan rakyat kecil demi keuntungan segelintir elite tidak akan semudah itu terjadi.
***
Sejenak flash back ke akhir Mei 1945. BPUPKI sedang bersidang, mencari jawaban atas pertanyaan paling krusial, atas dasar apa Indonesia merdeka akan berdiri?
Lalu tepat pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berdiri. Tanpa teks. Tanpa contekan. Hanya dengan kobaran pikiran dan denyut keyakinan yang kuat, ia menyampaikan lima prinsip yang dinamakan Pancasila. Ruangan terpukau. Bukan karena pidatonya indah secara retorika semata, tapi gagasan tentang Pancasila terasa hidup; menggambarkan pergulatan panjang dari seorang anak bangsa yang betul-betul memikirkan nasib rakyatnya.
Bung Karno tidak sedang menghafal.Ia sedang memanggil jiwa bangsa. Inilah yang saya rasa perlu kita bangkitkan kembali hari ini. Bukan sekadar memperingati, tapi mewarisi spirit-nya. Semangat bahwa Pancasila bukan warisan beku yang disimpan di museum, melainkan api yang harus terus dijaga dan dinyalakan ulang oleh setiap generasi.
***
Maka di Hari Lahir Pancasila ini, saya tidak ingin menyajikan ajakan heroik yang muluk-muluk.Saya hanya ingin mengajak kita untuk jujur dan berani, terus terang bahwa kita belum cukup memahami Pancasila lebih dari sekadar lima kalimat, dan berani untuk mulai menghadirkan nilai Pancasila dalam setiap tindakan.
Pancasila bukan tentang seberapa lancar kita mengucapkannya. Pancasila adalah tentang seberapa nyata ia hidup dalam cara kita memperlakukan tetangga, menjaga bumi, membela yang lemah, dan membangun keadilan, mulailah dari satu tindakan kecil setiap harinya.
Bung Karno sudah menyalakan apinya 80 tahun lalu. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau menjadi penerus nyala itu, atau sekadar penonton yang tepuk tangan lalu pulang?Selamat Hari Lahir Pancasila. Bukan sekadar untuk dirayakan, tapi sebagai jalan pulang bangsa Indonesia.
*Nur Hakim, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bangkalan
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












