BOJONEGORO – Alunan musik campursari dan gelak tawa warga membahana di Lapangan Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro.
Ratusan warga dari berbagai kalangan usia memadati lapangan untuk menikmati Pagelaran Musik Campursari “Tombo Ati”, sebuah ikhtiar menjaga tradisi agar tak tergerus zaman.
Acara yang diinisiasi oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, Ony Setiawan, S.E., bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur ini menjadi wadah melestarikan kesenian campursari sekaligus memberi ruang ekspresi bagi para pelakunya.

Ony Setiawan menegaskan bahwa musik campursari bukan sekadar hiburan pemuas dahaga seni, melainkan identitas kultural yang sarat akan nilai luhur.
”Campursari dengan perpaduan instrumen kendang dan gitar ini bukan sekadar musik pelipur lara, tetapi telah menjelma sebagai kultur budaya,” katanya.
“Melalui pagelaran ini, kita merawat dan melestarikan budaya agar masyarakat, khususnya generasi muda, tetap mencintai warisan bernilai tinggi ini,” imbuh Ony di sela-sela kegiatan.

Panggung Ekspresi dan Penggerak Ekonomi
Hal senada disampaikan oleh perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur yang juga Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Haryono.
Menurutnya, kesenian daerah butuh ruang tampil yang berkelanjutan agar regenerasi penikmat maupun pelaku seni dapat berjalan dengan baik.
”Pelestarian ini memberi ruang tampil bagi seniman daerah untuk memajukan kebudayaan serta meneguhkan peran generasi muda. Kesenian daerah harus terus diperhatikan melalui panggung ekspresi dan fasilitasi bersama,” kata Deddy.
Tak hanya berdampak pada aspek kebudayaan, pagelaran seni tradisional ini juga membawa dampak positif bagi perekonomian warga lokal. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, Bambang Sutriyono, menyoroti adanya perputaran ekonomi yang dirasakan langsung oleh seniman dan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi.
”Kegiatan peninggalan leluhur ini membuat kita tetap berkepribadian dan berkebudayaan. Selain hiburan, ada aliran ekonomi yang mengalir untuk para seniman dan UMKM,” ungkap Bambang.

Tampilkan Tari Serampat khas Sambongrejo
Kemeriahan malam itu kian lengkap dengan penampilan Tari Serampat yang dibawakan langsung oleh warga Desa Sambongrejo.
Tarian ini merupakan ikon khas desa yang kerap dibawakan dalam ritual adat maupun peringatan momen penting warga setempat.
Kepala Desa Sambongrejo, Eko Prasetyono, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas dipilihnya Desa Sambongrejo sebagai pusat gelaran seni tersebut. Terlebih, acara ini bertepatan dengan rangkaian hajatan tradisi desa, Grebek Suro.
”Kami sangat berterima kasih karena desa kami dipilih menjadi tempat pagelaran ini. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Sambongrejo,” tutur Eko.
Melalui sinergi antara pemerintah, legistatif, dan warga, Pagelaran Campursari “Tombo Ati” menjadi bukti nyata bahwa kesenian tradisional di Bojonegoro masih tetap hidup, lestari, dan dicintai lintas generasi.(dian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













