oleh

Orang Miskin Dilarang Naik ke Borobudur?

-Ruang Merah-39 kali dibaca

Candi Borobudur mendadak menjadi perbincangan publik. Bukan  karena peristiwa terorisme berupa pengeboman yang—mengakibatkan sembilan stupa hancur—didalangi “Ibrahim” alias Muhammad Jawad alias “Kresna” pada 21 Januari 1985 silam kembali terulang. Bukan.  Melainkan karena Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan bahwa naik ke Candi Borobudur akan dikenakan tarif Rp 750.000 untuk wisatawan lokal. Sedangkan, untuk turis mancanegara dikenai 100 dollar AS per orang atau sekitar Rp. 1.400.000. Jelas harga yang tidak bisa dibilang murah untuk dompet sebagian besar orang Indonesia.

Luhut menuturkan, penerapan tarif naik Candi Borobudur ini diberlakukan untuk membatasi jumlah pengunjung. “Juga Akan ditetapkan kuota bagi wisatawan yang bisa naik ke bangunan Candi Borobudur sejumlah 1200 orang perhari. Jumlah tersebut setara dengan 10-15% persen rata-rata perhari jumlah wisatawan ke Candi Borobudur sebelum masa pandemi,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (6/6/2022) sebagaimana dilansir okezone.com.

Rencana tersebut membuat publik terpecah menjadi dua kubu. Sebagian orang setuju dengan ide tersebut. Pasalnya, berdasarkan hasil monitoring dari Balai Konservasi Borobudur terkait pelestarian Candi Borobudur, telah ditemukan bagian dengan kondisi keausan batu dan kerusakan beberapa bagian relief. “Pembebanan pengunjung yang berlebihan juga dikhawatirkan akan berdampak pada kelestarian Candi Borobudur, termasuk penurunan kontur tanah Candi Borobudur,” kata Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (PT TWC) (tempo.co, 6 Juni 2022). Dugaan lain, membludaknya jumlah pengunjung juga berdampak para tindakan vandalisme seperti pengrusakan pada relief.

Namun banyak juga yang tak setuju dengan usulan tersebut. Sebab banyak bangunan bersejarah dan punya makna penting bagi spiritualisme di belahan negara lain harganya tidak ‘segila’ rencana tiket masuk Candi Borobudur versi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves). Sebut saja Angkor Wat di Kamboja. Bangunan percandian terbesar di dunia (menempati lahan seluas 162,6 hektar (1,626 km²)) itu menggratiskan biaya masuk ke dalam kuil untuk orang Kamboja. Sedangkan untuk wisatawan asing hanya dikenai biaya $37 atau setara Rp. 538.276,- (angkorfocus.com).

Kapel Sistina, sebuah tempat bersejarah sekaligus spiritual yang dibangun pada 1483 yang merupakan tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan maupun kenegaraan lembaga kepausan di Vatikan, Roma, Italia, yang kesakralannya sama dengan Borobudur, biayanya jauh lebih murah. Dilansir dari roma.net, tiket masuk untuk pengunjung dewasa hanya dikenai $17 atau setara Rp. 247.316. Sedangkan untuk wisata menggunakan pemandu di lokasi di mana terdapat lukisan masterpiece Michelangelo itu hanya dikenai biaya $50 atau setara Rp. 727.400. Mau masuk gratis karena tak punya biaya? Tenang. Pada hari Minggu terakhir setiap bulan, Kapel Sistina terbuka gratis untuk semua orang.

Dari perbandingan harga masuk dengan dua bangunan spiritual di atas, sebenarnya tidak ada alasan untuk menaikkan harga tiket masuk ke Candi Borobudur setinggi itu, kecuali mungkin agar orang miskin dilarang naik candi. Padahal tidak semua orang Indonesia, apalagi yang beragama Buddha (terutama umat Buddha perdesaan yang jumlahnya cukup banyak di Jawa Tengah) mampu membayar biaya tersebut seandainya ingin melakukan ibadah di puncak candi. Lagipula apakah rencana tersebut juga telah dibicarakan dengan perwakilan pada biksu Buddha di Indonesia? Jika tidak, muncul kesan seolah rencana menaikkan tarif Borobudur itu sebagai upaya komersialisasi candi belaka.

Candi Borobudur indah dipandang bukan saja karena kemegahannya mengesankan. Tapi juga karena di tempat itu aura spiritual jelas terpancar. Di candi besar peninggalan Dinasti Syailendra, yang terletak di Magelang, Jawa Tengah itu, yang namanya, menurut J.L Moens, berarti “kota Buddha”, umat Buddha membenamkan diri dalam laku spiritual; puja, doa, dan meditasi. Mereka khusuk di antara puluhan stupa dan arca-arca. Tegasnya, Borobudur, bukan sekadar bangunan dengan arsitektur megah buatan tangan manusia masa lampau, tetapi juga merupakan tempat spiritual. Rumah ibadah. Bedanya, selain rumah ibadah, Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia pada 1991 silam itu, juga merupakan salah satu bangunan purba yang menyimpan banyak pengetahuan.

Sebagai rumah ibadah purba, Borobudur mestinya terbuka untuk semua orang. Dapat diakses semua orang. Bahkan meski dikenai tarif pun harganya harus terjangkau banyak dompet. Sebagai rumah ibadah tentu saja setiap orang yang naik ke puncak wajib berlaku hormat sebagaimana ia menghormati rumah ibadahnya sendiri. Menghormati rumah ibadah agama lain merupakan sebuah kebajikan. Bukankah semua agama mengajarkan kebajikan pada semua orang tanpa memandang perbedaan keyakinan?

Sialnya, masih banyak orang menganggap Candi Borobudur hanya sekedar keindahan arsitektur belaka. Seolah-olah sekadar batu yang disusun berpola sebagai obyek wisata. Mereka naik seenaknya, membuang sampah seenaknya di dalam candi, bahkan saat naik ke puncak stupa tertinggi tanpa pernah mempertimbangkan bahwa yang sedang mereka pijak adalah rumah ibadah tempat umat Buddha melakukan ‘puja’ dan ‘pradaksina’.

Kemegahan Borobudur yang dilihat mata masih sekadar kulitnya saja. Untuk mengetahui ‘isi’ kebajikan yang tertanam di Borobudur  kita harus mula-mula didampingi oleh guide candi tersebut. Sebagai bangunan ibadah purba, bahkan batu purnama punya makna. Jalan memutar, berundak, yang dikelilingi stupa dan relief hingga ke puncak tertinggi di mana panorama indah terpampang dan hawa sejuk menjalar punya kearifan dan mampu memberi ketenangan jiwa. Pengalaman batin semacam itu tidak akan didapat jika hanya sekedar melihat Bobudur dari bawah atau naik ke puncak hanya demi konten atau selfie untuk diposting di media sosial.

Rasa spiritual itu akan punya daya jika memandang Borobudur mula-mula bukan sebagai bangunan wisata belaka, tapi sebagai bangunan religi seperti misalnya Ka’bah di Mekkah.  Tanpa pengalaman spiritual yang kuat, Gua Hira, tempat Nabi Muhammad menyepi, mendalami laku spiritual dan akhirnya menerima wahyu kenabian, akan dianggap sebagai geronggang tanah belaka. Di tangan orang-orang macam itu situs yang disakralkan rawan dirusak. Dan perbuatan vandalisme sama sekali tidak berbanding lurus dengan isi dompet.

Jadi, percuma menaikkan harga tiket naik ke Borobudur sedemikian mahal, jika pemerintah masih meletakkan posisi Borobudur dalam paket wisata biasa tanpa menyertakan makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Karenanya mengunjungi Borobudur harus diikuti keinginan menghayatinya sebagai rumah spiritual dengan merekam sumber-sumber kearifan yang terkandung di dalamnya. Lewat motif itu masyarakat kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru. Dan sebagaimana umumnya sumber kearifan masa lampau yang dibuat, dipertahankan, dan dijaga, baik melalui kitab maupun bangunan kuno, sejatinya agar menjadi ruang belajar bagi orang banyak.

Karena itu rencana menaikkan tarif Borobudur jelas memotong akses pengetahuan orang banyak. Makin menjauhkan masyarakat untuk memahami ajaran-ajaran tentang kebajikan hidup dari Buddha. Bukankah dengan memahami ajaran kebajikan hidup agama lain justru makin memperkuat sikap toleran kita pada orang yang berbeda keyakinan? Makin kuat pemahaman kita pada toleransi maka makin sulit kita terjebak dalam konflik-konflik dangkal akhir-akhir ini kerap terjadi.

Memang setelah publik terpecah dan saling serang di media sosial akibat rencana tersebut, pemerintah memutuskan menunda pemberlakukan tarif baru itu. Semoga penundaan itu bisa menghasilkan keputusan yang tidak merugikan publik luas. Sebab daripada menaikkan tarif, jika memang penurunan kontur tanah jadi alasan paling mengkhawatirkan, alangkah bijak jika memberlakukan penerapan kuota pengunjung untuk naik ke puncak Borobudur. Penerapan pembatasan kuota jelas tidak membatasi orang banyak mendapatkan pengetahuan dari Borobudur. Orang bisa datang lain waktu dengan tiket murah jika kuota terpenuhi hari itu. Sebab pengetahuan yang tersimpan di dalam Borobudur tidak elitis. Ia diciptakan dan bertahan dari amuk zaman tentu saja agar bisa diakses orang banyak. ()