Perempuan, Kecantikan dan Kosmetik

 1,636 pembaca

BARANGKALI, di negeri rayuan pulau kelapa ini, tak ada perempuan yang segila Dewi Ayu. Di saat semua perempuan dan keturunannya mendamba wajah cantik bak bidadari, perempuan asal Halimunda, berdarah Belanda itu, justru sebaliknya. Ia mendamba keturunannya lahir buruk rupa. Ia melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya itu.

Maka sebuah “ritual” ganjil dilakukan putri pasangan Ted Stemler dan Aneu Stemler itu untuk mewujudkan impiannya. Dewi Ayu berdoa tiap hari semasa kehamilannya agar anak yang bakal lahir buruk rupa. Ia melanggar semua pantangan bagi perempuan yang tengah mengandung. Ada kepercayaan bahwa perempuan hamil pantang memikirkan segala sesuatu yang buruk dan menjijikkan karena itu akan berpengaruh pada wajah dan sifat anak yang bakal dilahirkannya. Tapi Dewi Ayu melakukannya. Dan berhasil. Anak keempatnya lahir. Bentuknya benar-benar menyerupai seonggok tai, dengan hidung seperti colokan listrik dan telinga seperti gagang panci.

Betapa girang Dewi Ayu melihat wujud anak keempatnya itu. Meski buruk rupa, Dewi Ayu tetap menamai anak keempatnya dengan nama Si Cantik.

Apa yang membuat Dewi Ayu menginginkan anaknya buruk rupa? Kala itu masa penjajahan kolonial Jepang. Perempuan-perempuan berparas cantik di negeri jajahan Jepang digiring ke lembah nista paling dalam; jadi Jugun Ianfu. Perempuan pemuas birahi tentara Jepang. Tak terkecuali Dewi Ayu. Sebagai perempuan cantik keturunan Belanda, Negara yang kalah perang dalam perang dunia II, dan tinggal di Indonesia yang kala itu dijajah Jepang, ia ikut terhisap dalam pusaran kehidupan paling nista bagi perempuan. Ia baru terbebas dari birahi tentara Jepang setelah Indonesia merdeka.

Tapi keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam mulut singa. Kemerdekaan tak sepenuhnya memberi kebebasan bagi Dewi Ayu. Ia masih menjadi pelacur. Menjajakan “daging mentah” di kota kelahirannya, Halimunda. Bahkan, berkat kecantikannya yang tak tertandingi, ia jadi pelacur idola yang diburu setiap lelaki hidung belang. Selama bertahun-tahun, ia hidup dari pelukan banyak laki-laki hingga ia punya tiga anak gadis; Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Semua berwajah cantik. Tapi kecantikan tak membuatnya bahagia. Sebaliknya justru jadi petaka. Akibat kutukan dan dosa yang ditanggung Dewi Ayu, ketiga anaknya menjalani hidup penuh kepedihan sampai akhirnya jadi janda semua. Suami-suami mereka mati mengenaskan. Keinginan Dewi Ayu punya anak buruk rupa tak juga membebaskan dirinya dari kutukan kepedihan hidup. Hidup jadi perempuan dalam masyarakat pascakolonial memang memedihkan dan deritanya tiada akhir.

Sepenggal kisah diatas adalah fiksi belaka. Sebuah kisah surealis dalam Novel Eka Kurniawan berjudul “Cantik itu Luka.” Novel tebal yang berkali-kali mengalami cetak ulang. Kisah Dewi Ayu dalam novel yang pertama kali diterbitkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Penerbit Jendela pada 2002 silam itu seolah menyindir perempuan yang dimangsa kecantikan. Semua perempuan ingin cantik luar dalam. Kalau bisa tujuh turunan. Tidak seperti Dewi Ayu. Kecantikan adalah segalanya. Karenanya segala jalan akan ditempuh untuk jadi bidadari. Tapi hidup memang tak pernah selalu baik-baik saja. Sebab kita tak sedang tinggal di surga.

Beberapa waktu lalu perempuan Indonesia dibuat terhenyak. BPOM melansir sejumlah temuan produk yang dinilai berbahaya. Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM merilis daftar 16 kosmetik berbahaya hasil pengawasan sepanjang Oktober 2021-Agustus 2022. Belasan kosmetik tersebut positif mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang karena menggunakan jenis pewarna Merah K3 dan Merah K10. Kosmetik ini ada yang berupa perona pipi atau blush on, cat kuku, lipstik berpelembap atau lip balm, sampai eye shadow.

Menurut BPOM, pewarna Merah K3 dan Merah K10 yang digunakan sebagian kosmetik tersebut berisiko menyebabkan kanker atau bersifat karsinogenik. Setelah mendapatkan temuan tersebut, BPOM melalui otoritas resminya di seluruh Indonesia telah menertibkan produksi sampai distribusi produk berbahaya tersebut, termasuk dengan patroli siber di platform penjualan daring.

Membaca berita itu jelas ada rasa khawatir yang mendalam dalam benak banyak perempuan. Sebab kosmetik bagi perempuan ibarat kebutuhan. Ia harus ada, ketiadaannya membuat banyak perempuan seolah tidak berguna. Komestik yang mulanya hanya jadi pelengkap, kini berubah jadi kebutuhan. Hidupnya seakan terancam oleh jalan kecantikan yang ditempuhnya sendiri. Tak seperti Dewi Ayu yang merasa terluka atas takdir kecantikan yang dimilikinya, perempuan-perempuan kelas menengah kita justru hidupnya jadi gelap gulita jika keburukan menempel di wajahnya. Maka kosmetik dan operasi plastik adalah ‘dewa penolong’ mereka.

Berlomba-lombalah produsen kosmetik membuat beragam kosmetik. Dan melalui iklan seolah mendorong perempuan sedunia untuk berkompetisi menjadi cantik. Kecantikan yang sebenarnya dibentuk dari luar dirinya. Iklan televisi, kontes-kontes kecantikan, majalah dan artis serta stereotip laki-laki atas kecantikan sebagai tolak ukurnya. Menjadi cantik seolah jadi candu. Sebagian hidup perempuan dihabiskan untuk berias di depan cermin hanya untuk bersaing dengan perempuan lain. Padahal kecantikan itu relatif. Setiap tempat, setiap budaya punya standar kecantikannya sendiri-sendiri. Herannya, relativitas itu tumbang di hadapan gilda-gilda kapital.

Ya. Jauh di luar kamar rias perempuan, sebuah sistem kapitalisme melalui pabrik kosmetik terus menderu. Cerobong asapnya tak berhenti mengepul. Mesin-mesin pembuat kosmetik berderik diantara ribuan buruh yang diupah murah. Buruh-buruh yang diantaranya perempuan itu hidup di rumah kumuh beralaskan tanah. Produk-produk itu dilempar ke pasar, bersamaan dengan iklan dan model-model perempuan semi telanjang yang menunjukkan wajah mulus, berbadan sintal hanya untuk menjawab krisis over produksi sekaligus menundukkan perempuan.

Perempuan diasingkan dari cara merawat kecantikan dengan alamiah yang konon kerap dilakukan nenek moyang. Perempuan disandera dalam konsumerisme tanpa henti. Tubuh perempuan yang mengandung aura kehidupan, kekuasaan, kebenaran redup. Dan kosmetik adalah ‘senjata’ yang ampuh mengkerdilkan aura perempuan. Memupuk subur individualistik, menghidupkan kompetisi tubuh tanpa henti. Sekaligus mengubur dalam-dalam solidaritas sosial. Semangat yang dulu pernah hidup di era tumbuhnya semangat pergerakan di zaman kolonialisme. Semangat anti penjajahan, semangat membangun kesadaran politik dan kesadaran kritis dengan beroganisasi secara progresif demi membebaskan masyarakat yang tertindas. Semangat perlawanan, semangat tak tunduk pada cengkraman modal asing yang banal.

Di hadapan kosmetik, perempuan kelas menengah menjadi asing dengan dunia yang melingkupinya. Mereka berpupur dan berlama-lama di muka cermin seolah-olah di luar cermin tak ada dunia. Padahal di luar cermin mereka  perempuan sebaya mereka yang jadi TKW tengah meneteskan darah dari selangkangannya karena diperkosa di Malaysia dan mati disiksa di Arab Saudi. Sementara di negeri sendiri gizi buruk, anak putus sekolah, pernikahan dini dan jerat pelacuran terus memakan korban perempuan karena tidak adanya keberpihakan Negara pada nasib perempuan.

Sebagai penutup, saya terkenang pada adegan dalam novel itu saat Si Cantik terus-menerus berdiri di muka cermin. Memandangi wajahnya sembari tersenyum mengenang pernyataan Kristan, keponakannya sendiri yang mau menidurinya; “cantik itu luka.” Tapi ia sendiri tak sadar wajahnya yang mirip monster itu tak lebih suatu kutukan paling kejam, kutukan pada perempuan yang terus kalah ditingkap raksasa modal. (*)