TULUNGAGUNG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur, Erma Susanti, meluncurkan “Ruang Muda” di salah satu coffee shop Kelurahan Tertek, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, pada Jumat (13/2/2026) malam.
Kegiatan peluncuran ini diisi dengan diskusi bersama para generasi muda Kabupaten Tulungagung yang mengusung tema “Ekspresi, Aksi, dan Aspirasi Anak Muda Hari Ini”, dengan pemantik diskusi Ketua Dema UIN Satu Tulungagung 2025, Muhammad Ikhsanudin, dan pegiat industri kreatif, Christina Dery Hariani.
Pada kesempatan itu, Erma membeberkan tantangan masa depan yang harus dipahami oleh anak muda, khususnya Gen Z, agar bisa menyiapkan diri karena masa depan anak muda harus diciptakan mereka sendiri.
“Masa depan anak muda harus dikreasi dan direbut olehnya sendiri, bukan menyerah pada keadaan,” ujar Erma.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung ini menambahkan, teknologi saat ini sudah men-trigger atau menjadi pemicu masa depan ekonomi Indonesia. Otomatisasi dan robotisasi banyak mengganti manusia dalam berbagai sektor.

Sehingga, angkatan kerja industri secara alamiah akan semakin mengecil, baik di sektor industri formal maupun sektor industri jasa karena robot dan AI nantinya akan menggantikan manusia pada pekerjaan-pekerjaan di sektor jasa.
“Ekonomi politik sangat dipengaruhi oleh geopolitik, sampai saat ini masih menggambarkan bagaimana instabilitas tidak hanya proxy-war, tapi riil perang,” terangnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lanjut Erma, diketahui ada sebesar 10 juta pengangguran di Indonesia dan didominasi oleh Gen Z. Industri saat ini hanya mampu menyerap 400 ribu pengangguran, padahal hampir 1,7 juta warga Indonesia fresh graduate berebut lapangan pekerjaan.
Menurutnya, puncak dari kondisi ekonomi Indonesia adalah saat tiba pada titik bonus demografi. Di mana peluang ekonomi dunia telah terbuka, akses informasi juga semakin terbuka dan teknologi semakin membantu manusia.
“Dalam kondisi ini, akan ada banyak peluang yang bisa dikreasikan anak muda untuk mengembangkan ekonomi,” ucapnya.
Erma mengungkapkan, kelemahan dari anak muda atau Gen Z, pertama adalah dikenal sebagai generasi stroberi. Yakni, generasi yang pintar tapi memiliki mental yang lemah, memiliki karakter serba instan dan pola pandang pendidikan yang berubah.
Kedua, Gen Z memiliki tingkat stress tinggi karena tuntutan kehidupan sehari-hari yang didominasi dari literasi media sosial dan kenyataan rendah diri. Ketiga, kurangnya relasi sosial (asosial), sehingga tim building dan interaksi sosialnya lemah.
“Kelemahan Gen Z juga terdapat pada literasi yang kurang, karena analog dan sudah terbiasa dengan media visual dalam mengakses informasi waktu cepat, tidak suka membaca, tidak suka ribet, sehingga mudah diprovokasi dan dimanfaatkan,” ungkapnya.
Meski demikian, generasi muda atau Gen Z memiliki kelebihan, yakni karakter yang terbuka, menerima masukan dan usulan, serta memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial dan gerakan sosial di sektor lingkungan, HAM, gender, keadilan dan lain-lain.
Dengan kelebihan yang dimiliki Gen Z, Erma mengajak mereka untuk menciptakan masa depan yang bersinar bagi mereka sendiri. Gen Z harus membangun rasa percaya diri dan kesadaran kritis.
“Masa depan tidak boleh hanya dinanti, tapi harus direbut. Jadi, Gen Z harus meningkatkan literasi, sehingga mempunyai kesadaran kritis dan konstruktif,” tuturnya.
Ia juga berharap, Gen Z meingkatkan kecintaan pada Indonesia dan memiliki perasaan bangga menjadi bangsa Indonesia. Dengan perasaan bangga ini, Gen Z akan punya kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Serta bangga Indonesia memiliki keberagaman kebudayaan yang menjadi kekayaan peradaban.
“Kalau Gen Z sadar tentang hal ini, maka otomatis akan bisa mengambil nilai dan bisa mengkreasikannya sebagai kekuatan ekonomi. Jepang berhasil melakukan itu. Industri kreatif adalah dunianya anak muda, dan tentunya berangkat dari kesadaran itu kemudian dikawinkan dengan teknologi,” paparnya.
Erma juga menegaskan, anak muda harus menjadi generasi yang kuat. Tidak hanya pandai dan kritis, tapi harus punya jati diri dan mental kuat seperti baja.
“Gen Z harus bijak dengan teknologi. Jangan sampai hanya jadi komoditas, misalnya pada produk-produk sampah di tiktok yang hanya menjadi pasar digital maupun pasar game online,” tegasnya.
Melalui “Ruang Muda”, Erma mengajak Gen Z merumuskan strategi untuk menjadikan teknologi sebagai alat dan memastikan masa depan dengan dasar kesadaran, skill, dan semangat kebangsaan.
“Saya hanya mengantarkan, karena menurut salah seorang filsuf COMTE bahwa generasi sekarang bertugas untuk menyiapkan generasi mendatang. Kalau tidak hancurkan bangsamu,” tandasnya. (sin/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













