MAGETAN – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Magetan memastikan akan mengusung isu ketahanan lingkungan hidup pada rapat kerja nasional Partai beberapa pekan mendatang. Hal itu dilatarbelakngi kejadian musibah longsor di tambang galian C di Kecamatan Parang, Magetan beberapa waktu lalu.
Ketua DPC Magetan, Diana Sasa, mengatakan, pihaknya konsen pada persoalan lingkungan hidup. Sasa menyebut, beberapa kasus kerusakan lingkungan, mulai persoalan sampah, aktivitas tambang, hingga alih fungsi lahan, berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.
“Daerah seperti Magetan, lingkungan bukan isu masa depan. Ini persoalan hari ini,” katanya.
Ketika terjadi bencana akibat kerusakan lingkungan, lanjut Diana Sasa, yang pertama terdampak adalah rakyat kecil. Keberpihakan terhadap lingkungan harus menjadi sikap politik yang tegas, bukan sekadar urusan teknis atau administratif.
Longsor tambang galian C di Trosono Parang beberapa waktu lalu mengakibatkan satu korban sopir dum truk tewas tertimbun. Kejadian ini diindikasikan pengusaha tambang tidak mentaati kewajiban yang termaktub dalam dokumen perijinan.
Ia juga mendorong kader partai yang berada di eksekutif maupun legislatif untuk menjadikan aspek lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
“Kunci semua permasalahan ini adalah keberpihakan, pembangunan adalah sesuatu keniscayaan akan tetapi keberlangsungan lingkungan hidup adalah esensi dari masa depan,” ujar Diana Sasa.
Selain lingkungan hidup, DPC Magaten juga mengusung isu anak muda. Sejauh ini, jelas Diana Sasa, ada jarak yang semakin lebar antara politik dan generasi muda, sementara persoalan lingkungan justru semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
“Anak muda bukan tidak peduli politik, tetapi menginginkan politik yang masuk akal, jujur, dan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari,” ujar Diana Sasa.

Ia menilai, pendekatan politik yang masih bertumpu pada simbol-simbol lama, seperti perbalihoan dalam jumlah besar, sudah tidak lagi efektif menjangkau generasi muda. Selain membutuhkan biaya tinggi, baliho juga dinilai menciptakan sampah visual dan tidak membangun komunikasi dua arah.
Anak muda tidak membaca baliho. Mereka melihat konsistensi sikap dan kerja nyata. “Kami mendorong partai lebih serius membangun komunikasi politik di ruang digital dengan dialogis, bukan sekadar kampanye satu arah,” tegasnya.
Pendidikan politik lebih ditekankan, agar anak muda semakin sadar dalam membangun masa depan tidak dapat dilakukan secara instan, harus dimulai dari generasi hari ini. Partai politik tidak boleh gagap terhadap perubahan, melainkan harus bertransformasi menjadi sebuah organisasi yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Anak muda membutuhkan masa depan yang adil, dan masa depan itu tidak mungkin terwujud jika lingkungan rusak dan ekonomi rakyat terpinggirkan,” katanya.
Melalui usulan ini , DPC PDI Perjuangan Magetan berharap Rakernas dapat menghasilkan rekomendasi yang lebih membumi dan memberi ruang bagi daerah untuk menerjemahkan garis ideologi partai ke dalam kebijakan nyata.
“Kami di daerah siap bekerja. Yang kami perlukan adalah arah yang jelas dan keberpihakan yang konsisten. Itu yang akan kami perjuangkan di Rakernas,” pungkas Sasa.(rud/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













