SURABAYA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut program penanganan masalah anak di Kota Surabaya layak jadi percontohan nasional.
Program yang diapresiasi adalah Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS). Menurut Ketua KPAI Ai Maryati Solihah, RIAS layak jadi percontohan kota-kota lain karena dinilai menuntaskan akar permasalahan anak.
“Program ini dapat menjadi role model untuk kota-kota lain, karena RIAS atau Rumah Ilmu Arek Suroboyo menjadi rumah yang sesungguhnya bagi anak-anak. Sehingga penanaman kedisiplinan di sini mampu menjawab masalah hingga ke akarnya,” kata Ai Maryati saat rapat koordinasi dengan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Selasa (27/5/2025).
RIAS juga dinilai mampu menciptakan ruang ramah anak yang melibatkan partisipasi berbagai sektor.
“Saya melihat di sini banyak ruang keterpaduan yang memang ramah anak. Tadi disampaikan bahwa hal ini terwujud atas peran-peran pemerintah daerah, lalu juga ada peran swasta yang turut mendorong supaya anak memiliki karakteristik pengembangan diri dan pemenuhan haknya,” tuturnya.
Sementara Eri Cahyadi menyebut, RIAS kelanjutan dari pengalamannya menangani permasalahan perilaku anak sejak 2022.
Evaluasinya, akar permasalahan anak sering bersumber dari kondisi keluarga yang kurang harmonis atau minimnya perhatian dan kasih sayang orang tua.
“Saya mengumpulkan semua data, anak-anak yang bermasalah itu 99 persen karena orang tuanya tidak dalam kondisi baik-baik saja,” ungkapnya.
Lalu RIAS dibentuk tahun 2023 dengan mengusung konsep “Satu Keluarga, Satu Sarjana”.
Program ini untuk keluarga-keluarga yang memang tidak mampu membiayai sekolah anaknya. Sehingga pihaknya mengambil alih tanggung jawab pendidikan di sekolah ini.
“Karena apa? Di dalam Undang-undang Dasar dan Pancasila, negara wajib hadir untuk warga-warga yang membutuhkan, sehingga anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang dikeluarkan juga dialokasikan untuk kebutuhan tersebut,” paparnya.
Anak yang tinggal di asrama RIAS mendapat pendidikan akademik juga pembekalan keterampilan hidup dan penanaman kedisiplinan.
“Mengenai jam malam, kewajiban beribadah dan waktu belajar sudah disepakati bersama orang tua. Kami betul-betul ingin menciptakan anak-anak yang berakhlak. Karena kekuatan segalanya ternyata berasal dari akhlak, dari ucapan yang baik, tidak saling memfitnah, tidak saling menjatuhkan, namun saling menguatkan,” tegas Eri.
Politisi PDI Perjuangan ini berkomitmen terus berkolaborasi dalam pengembangan program pemenuhan hak anak.
“Saya akan terus berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk KPAI untuk mewujudkan pendidikan yang terintegrasi dengan pendekatan humanis di Surabaya,” tutupnya. (nia/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










