KEDIRI – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri Murdi Hantoro bersama jajaran pengurus DPC, menjenguk salah seorang pendukung Banteng militan, Slamet Subagyo warga Desa Turus, Kecamatan Gampeng Rejo, Kabupaten Kediri, Sabtu (30/12/2023).
Simpatisan Banteng yang akrab disapa Bagio ini, sebelumnya mendapat musibah terjatuh dari pohon melinjo saat memasang bendera PDI Perjuangan di kampungnya.
Karena musibah jatuh dari ketinggian sekira 4 meter itu, Bagio sekarang hanya bisa terbaring di kasur. Kaki engkel sebelah kanannya terlihat bengkak, serta bahu tangan kanannya harus diperban menggunakan kain.
“Pak Bagio ini dikenal sebagai simpatisan yang sangat militan. Kita sangat prihatin dengan kejadian yang dia alami. Tadi kita beri bantuan, tali asih, semoga bisa meringankan beliau dan segera pulih seperti sediakala,” kata Murdi Hantoro, saat di rumah Bagio.
Tidak hanya Murdi Hantoro dan pengurus DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Kediri yang datang menjenguk.
Di rumah Bagio juga terlihat Sri Rahayu, koordinator relawan Siber (Sahabat Indonesia Bersatu) Kediri Raya pendukung Capres Cawapres Ganjar Mahfud. Menurutnya, apa yang sudah dilakukan oleh Subagyo patut mendapat apresiasi.

“Pak Subagyo itu relawan yang militan sekali, meski pun beliau bukan kader tapi sejak dari dulu bersangkutan sudah berkontribusi banyak untuk PDI Perjuangan. Semua relawan dan pengurus DPC ke sini itu berarti sudah mendapat perhatian,” ungkap Sri Rahayu.
Sementara itu, meski mengalami musibah, Bagio menyatakan enggan dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan dan perawatan. “Saya gak mau dibawa ke rumah sakit, saya jalani pengobatan tradsional (sangkal putung) saja,” ujarnya.
Subagyo selama ini dikenal sebagai relawan atau simpatisan PDI Perjuangan Kabupaten Kediri yang sangat militan. Bapak dua anak tersebut selalu aktif mengikuti segala kegiatan yang diselenggarakan DPC.
Dia secara sukarela merogoh kocek dari kantong pribadinya untuk membeli dua bendera partai berukuran besar seharga Rp 500 ribu di Jalan Dhoho. Bendera besar berukuran 2 meter x 3 meter itu dia pasang, sebelum akhirnya terjatuh.
“Bendera sudah saya ikat, tiba-tiba batang pohon patah. Saya sempat pegangan lalu terjatuh, blug, tingginya lebih dari 3 meter. Saat terjatuh sesaat saya tidak sadar. Tiba-tiba nafas saya sesak, saya nyebut Allahu Akbar,” ceritanya.
“Sebelumnya bendera partai sering hilang disitu, hingga beberapa kali. Yang besar hilang 6 sedangkan yang kecil hilang 20. Kalau di jembatan itu hilang 4 kali terus kita pasang sampai 5 kali. Kita pasang bendera itu awalnya sampai kita minta kepada para kader. Kita minta terus, jadi malu. Akhirnya kita beli bendera partai berukuran besar,” ujarnya. (putera/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










