oleh

Jokowi dan Pesantren

-Ruang Merah-177 kali dibaca

“Satu Muharram menjadi Hari Santri Nasional saya sanggupi. Itu wajib diperjuangkan”-Jokowi.

Ketika janji hari santri itu disampaikan Pak Jokowi di hadapan ribuan santri di Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Malang, Jawa Timur (2014), sebagian dari tokoh politik kita menganggap janji itu sekadar manuver elektoral. Pak Jokowi sekadar mencari dukungan kaum santri untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2014. Bahkan, seorang politisi menyebut janji kampanye Pak Jokowi itu sebagai janji sinting.

Tapi anggapan itu ternyata meleset. Pada 15 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta, Pak Jokowi yang sudah resmi menjadi Presiden RI, menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional. Ada satu catatan menarik yang perlu kita perhatikan. Pada mulanya, Hari Santri Nasional jatuh pada 1 Muharram. Akan tetapi atas pertimbangan sejarah dan saran beberapa tokoh, Hari Santri Nasional digeser pada 22 Oktober. Kenapa? Karena pada tanggal 22 Oktober itulah, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Lalu, siapakah santri itu? Bagaimana sepakterjangnya bagi negeri ini? Bagaimana peran yang dimainkannya untuk Indonesia hari ini? Santri tentunya tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Martin van Bruinessen (2015) meraba-raba, sekira abad ke-16 atau 17, pesantren muncul sebagai pusat pendidikan dan penyebaran Islam yang penting kedua, selain masjid. Tradisi pesantren menampilkan perpaduan antara khasanah lokal dan keagamaan (Islam) yang kuat. Pada perkembangannya, pesantren juga memainkan peran penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh-tokoh pesantren seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH. Wahab Hasbullah, dan lainnya, memainkan peran penting dalam gerak-bangun bangsa ini menuju jembatan emas kemerdekaan. Kehadiran Muhammadiyah, NU dan ormas Islam lainnya, menjadi pertanda spirit kebangsaan kita memang berakar dari nilai-nilai lokal dan keagamaan. Maka tak heranlah, dalam merumuskan nasionalisme Indonesia, Bung Karno (2005) pernah mengingatkan, orang Islam yang sungguh-sungguh menjalankan keislamannya, akan bekerja untuk keselamatan Indonesia.

Nasionalisme yang lahir dan tumbuh dari perpaduan lokalitas dan religiusitas tersebut dapat kita lihat dalam babakan penting sejarah Indonesia. Salah satu puncaknya, adalah resolusi jihad yang dikumdangkan KH Hasyiam Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang ternyata mampu mengobarkan semangat juang arek-arek Surabaya melawan sekutu.

Akan tetapi, catatan emas yang ditorehkan kaum pesantren, ternyata belum sepenuhnya mendapatkan ‘ganjaran’ yang setimpal dari negara. Bahkan tidak jarang, pesantren ‘dikucilkan’ sebagai lembaga pendidikan keagamaan semata. Padahal, lulusan pesantren, sebut saja K.H. Hasyim Wahid, Subhan SE, Mahbub Djunaidi, KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), K.H. Maimoen Zubair, K.H. Maruf Amin, dan lainnya, mampu memainkan peran penting dalam perpolitikan dan pemerintahan negeri ini.

Meski begitu, pesantren tidak lekang oleh panas dan hujan. Ia tetap menjadi benteng terakhir bagi keutuhan NKRI, terutama di tengah ancaman radikalisme, intoleransi, dan karut-marut lainnya.

Karena itu, bisa kita pahami, keputusan Pak Jokowi tentang penetapan Hari Santri Nasional bukan sekadar pemenuhan janji politik. Lebih dari itu, Hari Santri Nasional merupakan afirmasi negara terhadap peran penting kaum santri.

Tidak hanya itu, komitmen Pak Jokowi dalam mendukung kemajuan dan kemandirian pesantren juga ditunjukkan melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2019 Tentang Pesantren, kemudian ditindak lanjuti dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2021 Tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren. Dengan kata lain, baik secara de facto maupun de jure, Pak Jokowi menempatkan pesantren sebagai entitas yang berhak dan berkewajiban secara bersama-sama dengan entitas lainnya untuk menjaga, mengawal, dan mengisi serta menikmati hasil dari kemerdekaan.

Subjek Peradaban

Komitmen Pak Jokowi pada dunia pesantren mengafirmasikan peran penting pesantren bagi kemajuan negara-bangsa ini. Pesantren tidak lagi dianggap sekadar lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren merupakan subjek peradaban di tengah isu-isu kekinian. Ada empat peran penting pesantren dalam membangun dan mengawal peradaban bangsa di era revolusi 4.0 (era digital). Pertama, deradikaliasi agama. Orang-orang pesantren (kiai, ustadz, santri) memiliki pandangan moderat dalam menafsirkan dan menempatkan agama dalam berbangsa dan bernegara. Agama disampaikan dan ditafsirkan secara inklusif. Orang-orang pesantren mampu menerjemahkan prinsip-prinsip keagamaan seperti keadilan, musyawarah, kejujuran, kesejahteraan, toleransi, dan kebersamaan, menjadi pondasi yang kokoh dalam membangun masyarakat yang harmoni.

Pemahaman agama yang moderat ala orang-orang pesantren menjadi modal penting kita melakukan penetrasi terhadap radikalisme yang didoktrinkan atas nama agama; mengurai kerumitan fanatisme golongan atas nama agama. Seperti kita lihat, fanatisme menjadi ancaman serius bagi harmoni dan kebersamaan kita sebagai satu bangsa, satu komunitas.

Kedua, perajut nilai-nilai kebangsaan. Komitmen kebangsaan orang-orang pesantren tidak perlu diragukan lagi. Mereka memainkan peran penting sebagai perajut nasionalisme dalam berbagai babakan sejarah Indonesia. Di era perjuangan kemerdekaan, tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, untuk menyebut beberapa nama, telah menjadi garda depan perjuangan melawan penjajah. Begitu pula di era kemerdekaan sampai hari ini, tokoh-tokoh pesantren hadir sebagai sosok yang memegang teguh prinsip kebangsaan, kebhinekaan, dan pluralisme. Gus Dur, satu dari sekian tokoh pesantren yang konsisten menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Kemanusiaan menjadi ruh perjuangan Gus Dur dalam membela mereka yang tertindas, terdiskriminasi.     

Ketiga, pemberdayaan masyarakat. Komunitas alumni pesantren memiliki jejaring yang begitu luas. Selain membawa narasi keagamaan, mereka juga mengaktualisasikan nilai-nilai kekeluargaan, pesaudaraan, kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakatnya. Koperasi pesantren (kopontren) merupakan salah satu upaya nyata orang-orang pesantren untuk lebih berdaya sebagai komunitas. Seperti kita tahu, koperasi merupakan lembaga ekonomi yang bertumpu pada kesadaran dan partisipasi anggotanya. Para anggota dilatih dan dididik untuk menggerakkan roda perekonomian secara bersama-sama dan gotong royong. Di koperasi pula, para anggota dilatih untuk berdaulat dan mandiri dalam menentukan nasib organisasinya.

Keempat, pencerah di era post-truth. Tak bisa dipungkiri, era digital atau era informasi membuat kita terasa gagap menerima dan memahami kebenaran. Kebenaran tidak lagi bertumpu pada norma dan kaidah rasionalitas. Kebenaran diterima atas pertemanan, fanatisme, dan atau bahkan kebencian. Kita tentunya masih ingat, cerita seorang ibu tua yang selesai melakukan operasi plastik, tapi diberitakan mengalami penganiayaan. Ramai-ramai orang mengecam dan mengutuk pelaku penganiayaan. Ramai-ramai orang memuji tentang keteguhan dan ketangguhan ibu tua tersebut. Akan tetapi, ketika kebenaran terungkap: ibu tua itu ternyata tidak mengalami penganiayaan, akan tapi baru selesai operasi plastik, sejenak orang-orang yang memuji mingkem. Beberapa waktu kemudian, mereka pun menyampaikan kabar dan berita yang lain tanpa disaring terlebih dahulu. Pola seperti itu terus berulang terjadi.  

Kita pantas khawatir dengan kondisi masyarakat yang menerima kabar tanpa bertanya, atau klarifikasi: benarkah kabar itu? Seperti apa kejadian sebenarnya? Di tengah kegelisahan di era pos-truth itu, kaum santri menjadi sosok yang membawa narasi pencerah. Metode ‘ngaji’ dalam belajar agama dan bahtsul masail dalam memecahkan persoalan, merupakan cara sederhana dalam menangkal kabar palsu atau tidak benar.

Tampilnya kaum santri di jagad media sosial, sebut saja Gus Baha, Gus Miftah, Gus Muwafiq, dan kiai muda lainnya, menunjukkan pendulum peradaban terus berayun di gerbang pesantren. Dan tentunya, kita berharap, peran kaum santri dapat membawa negara-bangsa ini pada platform tamaddun, yaitu negara-bangsa yang bergerak menuju pada satu peradaban adi luhung. Selamat Hari Santri Nasional! (*)