NGAWI – Kesuksesan tidak melulu diukur dari gelimang harta yang melimpah ruah. Menemukan kepuasan batin dalam menekuni hobi yang dibarengi rasa syukur, juga bentuk kesuksesan dalam definisi yang lain.
Hal inilah yang tecermin dari kisah Warsito, seorang pengurus ranting PDI Perjuangan di Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Pria bersahaja ini sukses mengejawantahkan hobinya menjadi sebuah usaha rintisan yang menjanjikan.
Pertemuan dengan Warsito bukanlah sebuah kebetulan. Berawal dari informasi seorang pengurus PAC PDI Perjuangan Kecamatan Jogorogo yang menyebut ada sosok kader yang layak diberi “panggung” karena mentalitas dan etos kerjanya patut ditularkan.
Kesan pertama saat menemuinya langsung menegaskan kesederhanaan tersebut. Tiba di kediamannya, Warsito menyambut hangat dengan suguhan kopi hitam dan jajanan pasar. Sosoknya begitu rendah hati.
Obrolan di ruang tamu tak berlangsung lama, tak lebih dari menghabiskan sebatang rokok. Ia langsung mengajak beranjak menuju kebun anggur yang berada tepat di pekarangan belakang rumahnya.
“Baru dua tahun ini merintis, Mas. Saya mulai sekitar tahun 2024 lalu,” ungkap Warsito, Rabu (15/4/2026).
Berawal dari coba-coba
Kebun anggur miliknya sudah sangat layak disebut greenhouse. Di dalam bangunan khusus pelindung tanaman tersebut, tumbuh subur sedikitnya 24 batang pohon anggur.
Meski saat kunjungan belum memasuki puncak panen raya dan hanya beberapa pohon yang berbuah lebat, sisa tanaman lainnya tampak sehat dan bersiap memasuki fase pembuahan.
“Awalnya cuma coba-coba karena melihat tanaman anggur milik teman. Keinginan itu kemudian saya realisasikan di kebun belakang rumah ini,” ceritanya.
Bermula dari satu petak kecil, progres pertumbuhannya yang meyakinkan mendorong Warsito memperluas greenhouse miliknya.
Dari puluhan batang yang ditanam, terdapat berbagai varietas unggulan, di antaranya Jupiter, Dixon, dan beberapa jenis anggur meja berkualitas premium yang biasa dijumpai di swalayan buah.
Hasilnya lumayan
Selama dua tahun ditekuni secara konsisten dan dirawat sepenuh hati layaknya anak sendiri, kebun ini mulai memberikan hasil. Setiap masa panen, Warsito berhasil meraup puluhan dompol anggur segar.
Ia mengakui, perawatan pohon anggur memang membutuhkan ketelatenan ekstra dibandingkan tanaman biasa, mulai dari proses pemupukan khusus hingga perlindungan dari hama penyakit.
“Karena volume produksinya masih skala kecil, buahnya saya titipkan ke pedagang sayur keliling. Hasilnya ya lumayan, Mas. Biasanya dijual Rp 80.000 per kilogram,” ujarnya.
Meski terhitung baru menggeluti usaha ini, Warsito sama sekali tidak pelit ilmu. Ia mengaku sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar atau sekadar berbagi pengalaman seputar dunia peng-anggur-an.
“Saya terbuka dengan siapa pun. Kalau ada yang mau belajar, sebisa mungkin saya tularkan ilmunya semampu saya,” tandasnya. (amd/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













