Kamis
08 Oktober 2026 | 5 : 10

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Eksploitasi SARA Bertentangan dengan Pancasila

seminar pancasila

seminar pancasilaSURABAYA – Munculnya kampanye hitam dengan membawa unsur SARA dalam proses pilpres 2014 dianggap sebagai gejala degradasi pemahaman nilai-nilai Pancasila. Guru besar Universitas Airlangga (Unair) Tjuk K Sukiadi mengatakan, eksploitasi SARA bertentangan dengan Pancasila yang menjunjung tinggi pluralisme, toleransi, dan gotong royong.

Saat menjadi pembicara seminar nasional yang digelar Lembaga Pengkajian Pancasila dan Kearifan Lokal dalam rangka peringatan hari lahirnya Pancasila di aula Graha Widya, Universitas 17 Agustus Surabaya, Jumat (6/6/2014), Tjuk mengimbau masyarakat tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan isu SARA dalam kampanyenya.

“Pemimpin yang menjauh dari Pancasila tentu bukan pemimpin yang kita harapkan, kita jangan memilih pemimpin yang memunculkan perpecahan dengan konflik dengan sentimen SARA. Tugas kita bagaimana menanamkan Pancasila pada anak-anak muda kita, Pancasila adalah kita. Tanpa Pancasila jangan mimpi NKRI akan terjaga,” tegasnya.

Sementara pengamat politik Dr.Yudi Latief yang juga menjadi pembicara, mengungkapkan, Bung Karno pernah mengatakan, untuk mencapai masyarakat adil dan makmur kita harus menjaga tiga hal. Yakni investasi material, investasi nilai, dan terakhir adalah investasi mental.

“Jadi pemimpin Indonesia ke depan harus memiliki terobosan revolusi mental. Modal pembangunan tak boleh lagi hanya modal nature, tapi harus modal culture. Tidak hanya menguras alam, tapi juga mempertimbangkan kearifan lokalnya. Itu amanah Pancasila,” urainya.

Sakti tidak saktinya Pancasila, lanjut Yudi, tergantung dari terwujudnya keadilan sosial itu.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bambang DH yang menjadi keynot speaker dalam seminar bertajuk “Pancasila dan Masa Depan Indonesia” ini mengatakan bahwa keadilan sosial bisa tercapai bila Indonesia memiliki sumber daya manusia yang juga memadai. Sumberdaya manusia itu dibentuk dari pendidikan yang baik dan kesehatan yang baik.

“Maka pemimpin Indonesia masa depan harus memiliki pemahaman ideologi yang benar mengenai pentingnya peran negara menjamin kebutuhan dasar rakyat di bidang pendidikan dan kesehatan. Ini sudah diamanahkan oleh konstitusi, dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Maka sifatnya wajib bagi negara, ” tegasnya. (sa)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

MILANGKORI

Doding Rahmadi: Pendidikan Agama Jadi Benteng Hadapi Hoaks dan Perubahan Zaman

TRENGGALEK – Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi mengingatkan pentingnya pendidikan agama sebagai salah ...
LEGISLATIF

Novita Minta Calon Dewas RRI Perhatikan Nasib Kontributor, Honorer, dan PPPK

JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini meminta calon Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik ...
KRONIK

Gandeng BSI, Bupati Ipuk Perkuat Upaya Pengentasan Kemiskinan

BANYUWANGI – Upaya pengentasan kemiskinan di Banyuwangi terus diperkuat melalui kolaborasi banyak pihak. Kali ini, ...
EKSEKUTIF

Eri Ungkap Alasan 13 Kepala PD Surabaya Diganti: Bukan Soal Suka atau Tidak Suka

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan alasan pergantian 13 kepala perangkat daerah dalam setahun. Evaluasi ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Minta Kompetensi Guru di Kabupaten Kediri Ditingkatkan

KEDIRI – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meminta kompetensi guru di Kabupaten Kediri terus ditingkatkan ...
KRONIK

Bupati Lukman Resmikan Pengaktifan Pompa P2AT Tragah, Harap Tingkatkan Intensitas Tanam

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten Bangkalan mengaktifkan kembali pompa P2AT (Proyek Pengembangan Air Tanah) di ...