oleh

Djarot: Politik Pecah Belah Makin Solidkan Kader PDIP Menangkan Eri-Armudji

-Berita Terkini-7 kali dibaca

SURABAYA – Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Syaiful Hidayat menegaskan, meski Cawali-cawawali Surabaya Eri Cahyadi-Armudji selalu dikepung, difitnah, dan lawan mencoba terapkan politik pemecah belah, politik sembako, dan anggaran kampanye yang begitu besar, hal itu justru menambah soliditas PDI Perjuangan dan semakin kuatnya dukungan masyarakat ke pasangan nomor urut 1 penerus Wali Kota Tri Rismaharini tersebut.

Djarot menyebut, jurus pemecah belah itu tidak akan efektif dan justru membuktikan rendahnya etika dan moralitas tim kampanye paslon nomor 2 MA-Mujiaman. Dia menegaskan, kader PDI Perjuangan Kota Surabaya makin solid.

Menurut Djarot, apa yang dilakukan tim paslon nomor 2 dengan merekrut Seno atau Jagad Hariseno (kakak Whisnu Sakti Buana), adalah langkah panik, karena memang tidak punya rekam jejak unggulan.

“MA-Mujiaman tidak punya narasi dan program yang membawa kemajuan Kota Surabaya. Maka mereka hanya bisa menjelekkan pihak Risma, Eri dan Armudji. Lihat saja Lagu Habisi Risma, yang terjadi malah arus balik dan menguatnya dukungan paslon No 1,” kata Djarot, Minggu (29/11/2020).

Senada, anggota DPR RI dari dapil Surabaya-Sidoarjo, Puti Guntur Soekarno pun tidak tinggal diam. Dia menyatakan tahu persis bagaimana Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengambil keputusan terkait rekomendasi pasangan calon Wali Kota-Wakil Wali Kota Surabaya dengan hati-hati dan penuh pertimbangan.

“Yang dikedepankan oleh Ibu Megawati adalah kepentingan rakyat Surabaya, kemajuan kotanya, dan Eri dinilai paling pantas melanjutkan kepemimpinan Risma-Wisnu. Ketika Mas Armudji sosok senior Partai ditetapkan sebagai calon wakil, maka di situlah kepentingan masyarakat Surabaya dikedepankan,” jelas Puti.

Cucu Presiden pertama RI Soekarno tersebut justru mengajak seluruh simpatisan, anggota, dan kader Partai untuk terus berjuang dengan penuh keyakinan bersama rakyat.

“Seluruh simpatisan, anggota, dan kader Partai jangan tolah-toleh. Tetap berjuang untuk menangkan Eri-Armudji. Lawan telah terapkan politik devide et impera. Jangan terengaruh. Mereka tidak percaya diri. Saya yakin, apa yang disampaikan saudara Seno tidak banyak pengaruhnya. Kita terus tegak lurus bersama Ibu Megawati untuk kehebatan Surabaya. Mari maju bersama PDI Perjuangan, galang kekuatan rakyat,” tegasnya.

Apa yang dilakukan Tim Kampanye MA-Mujiaman termasuk mendaur ulang wawancara Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Kusnadi pada bulan Juni yang lalu, semakin menambah deretan masalah etika dan moralitas kepemimpinan paslon No. 2 tersebut.

Kusnadi menyebut, politik segala cara telah dimainkan pihak lawan. Menurutnya, apa yang mereka lakukan telah merendahkan martabat rakyat Surabaya bahwa sepertinya pemimpin itu bisa dibeli dengan uang.

Baca juga: Berita Lawas Kembali Diterbitkan, Kusnadi: Berita Basi dan Penuh Nuansa Politik!

“Mereka lupa bahwa jurus adu domba, pamer mobil mewah, pamer logistik dan pamer lagu Habisi Risma adalah jurus dan strategi kampanye yang jauh dari etika dan moral politik. Jiwa kepahlawanan rakyat Surabaya, justru semakin kuat menyatu dengan kepemimpinan Risma, Eri dan Armudji,” kata politisi yang juga Ketua DPRD Jatim tersebut. (red)

rekening gotong royong