Rabu
03 Juni 2026 | 8 : 23

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Dari Istana Gebang hingga Makam Bung Karno, Pelajaran yang Tak Ditemukan di Buku

pdip jatim 260603 belajar sejarah bk 3

Puluhan siswa SD Bangle 02 Blitar mengikuti outing class sejarah ke Istana Gebang, Perpustakaan Bung Karno, dan Makam Bung Karno. Kegiatan ini menjadi cara mengenalkan sejarah dan menanamkan semangat kebangsaan kepada generasi muda melalui pengalaman belajar langsung.

BLITAR – Pagi itu, Selasa (2/6/2026), suara riang anak-anak memenuhi halaman SD Bangle 02.

Bukan karena jam istirahat lebih cepat datang. Bukan pula karena ada lomba atau perayaan sekolah. Hari itu mereka akan melakukan perjalanan yang berbeda: meninggalkan ruang kelas untuk menemui sejarah secara langsung.

Satu per satu siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 menaiki kereta kelinci yang telah menunggu. Wajah-wajah kecil itu tampak penuh antusias. Sebagian membawa bekal, sebagian lain sibuk bertanya ke mana tujuan pertama perjalanan mereka.

Tujuan mereka bukan taman bermain.

Bukan pusat perbelanjaan.

Mereka sedang menuju tempat yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran: jejak kehidupan Bung Karno.

Dalam rangka memperingati Haul Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, para siswa diajak mengikuti outing class sejarah ke Istana Gebang, Perpustakaan Bung Karno, hingga Makam Bung Karno.

Kegiatan itu diprakarsai Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Blitar, Fatatoh Hironi Ulya, bersama paguyuban wali murid dan dewan guru SD Bangle 02.

Bagi Fatatoh, sejarah tidak cukup hanya dibaca dari lembar buku. Sejarah perlu disentuh, dilihat, dan dirasakan secara langsung agar lebih mudah melekat dalam ingatan anak-anak.

“Anak-anak perlu dikenalkan dengan sejarah sejak dini. Bung Karno lahir dan dimakamkan di Blitar. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab kita untuk terus mengenalkan perjuangan beliau kepada generasi penerus,” ujarnya.

Perjalanan dimulai dari Istana Gebang.

Di rumah yang menjadi bagian penting kehidupan Bung Karno itu, anak-anak mendengarkan berbagai cerita tentang masa kecil sang proklamator. Mereka berjalan menyusuri ruangan demi ruangan, membayangkan bagaimana seorang anak bernama Soekarno tumbuh hingga kelak menjadi tokoh besar yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sesekali tangan-tangan kecil terangkat.

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur.

Rasa penasaran mereka tumbuh di setiap sudut bangunan tua yang menyimpan begitu banyak cerita.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Perpustakaan Bung Karno.

Di sana, mereka melihat berbagai koleksi buku, foto, dan dokumentasi sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui gambar di buku sekolah.

Namun momen yang paling membekas mungkin terjadi ketika rombongan tiba di Makam Bung Karno.

Suasana yang semula riuh perlahan berubah lebih tenang.

Anak-anak berjalan beriringan memasuki kompleks makam, mendengarkan penjelasan para pendamping tentang perjuangan dan warisan pemikiran Bung Karno bagi bangsa Indonesia.

Bagi Raka, siswa kelas 5 SD Bangle 02, pengalaman itu terasa istimewa.

“Biasanya saya hanya melihat foto Bung Karno di buku pelajaran. Hari ini saya bisa melihat langsung rumahnya dan makamnya. Saya jadi lebih tahu perjuangan beliau dan bangga karena Bung Karno berasal dari Blitar,” katanya penuh semangat.

Perasaan serupa dirasakan Nabila, siswi kelas 4.

Baginya, belajar sejarah di luar kelas jauh lebih menyenangkan.

“Seru sekali karena bisa jalan-jalan sambil belajar. Saya jadi tahu banyak cerita tentang Bung Karno dan ingin lebih rajin belajar supaya bisa membanggakan orang tua dan sekolah,” ujarnya.

Sepanjang perjalanan, tawa, pertanyaan, dan rasa ingin tahu terus mengiringi langkah mereka.

Mungkin bagi orang dewasa, Istana Gebang, Perpustakaan Bung Karno, atau Makam Bung Karno adalah tempat yang sudah sering dikunjungi.

Namun bagi anak-anak itu, tempat-tempat tersebut adalah pintu masuk menuju pemahaman baru tentang bangsa, tentang sejarah, dan tentang tokoh besar yang lahir dari tanah yang sama dengan mereka.

Di akhir perjalanan, mereka pulang membawa lebih dari sekadar foto kenangan.

Mereka membawa cerita.

Membawa kebanggaan.

Dan mungkin, membawa mimpi.

Sebab seperti harapan yang disampaikan Fatatoh, siapa tahu dari rombongan kecil yang hari itu berjalan menyusuri jejak Bung Karno, kelak akan lahir anak-anak yang juga berani bermimpi besar untuk bangsa dan daerahnya.

Karena sejarah, pada akhirnya, bukan hanya tentang masa lalu.

Ia adalah cara sebuah bangsa menyiapkan masa depannya. (arif/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

DPD PDI Perjuangan Jatim akan Tutup Musancab dengan Tanam Ribuan Pohon di Lumajang

SURABAYA – DPD PDI Perjuangan Jawa Timur akan mengisi rangkaian peringatan “Bulan Bung Karno” dengan aksi penanaman ...
SEMENTARA ITU...

Dari Istana Gebang hingga Makam Bung Karno, Pelajaran yang Tak Ditemukan di Buku

Puluhan siswa SD Bangle 02 Blitar mengikuti outing class sejarah ke Istana Gebang, Perpustakaan Bung Karno, dan ...
KABAR CABANG

Erma PDIP Tegaskan Pancasila Sebagai Penuntun Kebijakan dan Kontrol Pemerintahan

TULUNGAGUNG – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung, Erma Susanti, menegaskan bahwa seluruh kader Partai ...
SEMENTARA ITU...

Saat Rombong Es Teh Bantuan Bupati Kediri Datang, Harapan Baru Mbah Mari Ikut Tiba

Mbah Mari, warga Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kediri, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya setelah menerima ...
KRONIK

Antipasi Krisis Pangan, PDI Perjuangan Jatim Instruksikan Kader Tanam Pohon Sukun

SURABAYA – DPD PDI Perjuangan Jawa Timur mengambil langkah nyata memperkuat kedaulatan pangan dengan ...
KRONIK

KNPI Sumenep Gelar Doa Bersama untuk Bung Karno, Bupati Fauzi: Harus Menjadi Energi Positif

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mengapresiasi langkah DPD KNPI Sumenep menggelar penghormatan ...