Oleh Diana Sasa*
RENCANA saya sederhana: nobar di warkop. Di Magetan. Bareng warga. Gagal. Senin pagi ini ada rapat. Jam 10. Tidak bisa ditawar. Magetan-Surabaya itu jauh. Apalagi untuk orang yang begadang sampai subuh.
Maka saya putar haluan: berangkat ke Surabaya lebih awal. Nontonnya di Grahadi. Kediaman gubernur. Layar lebar. Bersama Bu Gubernur, jajarannya, kawan-kawan Sekwan, dan warga Surabaya yang datang berduyun-duyun.
Surabaya. Kota yang saya gumuli 15 tahun lebih. Kota yang sampai sekarang masih saya rindukan degub jantungnya. Menonton final Piala Dunia di kota ini rasanya seperti pulang. Sebentar.
Hasilnya Anda sudah tahu: Argentina kalah. 0-1. Saya jagokan Argentina sejak awal. Sejak fase grup. Sejak mereka comeback lawan Inggris di semifinal. Maka dini hari tadi saya duduk di halaman Grahadi dengan tegang. Mencengkeram gelas kopi. Seperti mencengkeram nasib. Ternyata nasib berkata lain.
Tapi tunggu. Jangan buru-buru bicara kalah-menang. Lihat dulu jalannya pertandingan. Spanyol menguasai bola 68 persen. Operan mereka 803, akurasi 90 persen. Tembakan 20, sebelas tepat sasaran.
Argentina? Tiga tembakan. Dalam 120 menit. Yang tepat sasaran: nol. Nol. Ini bukan pertandingan. Ini pengepungan.
Lalu musibah datang bertubi-tubi. Menit 44: Lisandro Martinez cedera paha. Keluar. Menit 67: Cristian Romero menyusul. Keluar juga. Dua bek tengah utama Argentina habis sebelum perang selesai.
Belum cukup. Menit 90+3: Enzo Fernandez dapat kartu kuning kedua. Merah. Keluar. Pelanggaran Argentina 24. Pelanggaran Spanyol 21. Selisih tiga. Tapi kartunya? Argentina lima kuning plus satu merah. Spanyol: nol. Nol kartu dari 21 pelanggaran.
Saya tidak sedang menyalahkan wasit. Menyalahkan wasit itu kebiasaan tim kalah. Saya cuma mencatat: tim yang tidak diberi bola terpaksa bertarung dengan badan. Dan benturan badan selalu lebih gampang dihukum daripada operan yang mencekik pelan-pelan.
Begitulah kalau melawan sistem. Cara melawannya pun kelihatan lebih kasar.
Argentina main dengan 10 orang. Selama 30 menit perpanjangan waktu. Melawan tim yang tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan. Rekor dunia.
Di sebelah saya, seorang bapak berkaus Argentina berbisik: “Wis, tamat iki.”
Ternyata belum. Argentina bertahan. Terus bertahan. Seperti serdadu kehabisan peluru yang menolak angkat bendera putih.
Sampai menit 106. Nico Williams melepas umpan tarik. Ferran Torres menyundul. Gol. Satu-satunya gol. Spanyol juara dunia. Yang kedua setelah 2010. Halaman Grahadi mendesah serempak. Panjang sekali desahan itu.
Sekarang saya ajak Anda lihat seseorang. Bukan pencetak gol. Bukan Messi. Bukan Yamal.
Kiper. Namanya Emiliano Martinez. Panggilannya Dibu.
Menit 5, Yamal lolos. Peluang emas. Dibu tepis. Halaman Grahadi tepuk tangan. Termasuk yang dukung Spanyol. Menit 17, umpan silang berbahaya. Dibu potong. Menit 39, Oyarzabal menembak keras. Dibu tangkap. Dipeluknya bola itu seperti memeluk anak sendiri. Menit 66, Ferran Torres menyundul dari jarak dekat. Dibu mentahkan lagi.
Hitung: sebelas tembakan tepat sasaran Spanyol. Sepuluh diselamatkan Dibu. Yang lolos cuma satu. Itu pun butuh 106 menit, keunggulan satu pemain, plus tumbangnya dua bek. Sepuluh penyelamatan. Di final Piala Dunia.
Kita ini sering lupa pada kiper. Yang dicatat sejarah selalu pencetak gol. Padahal kiper itu profesi paling berat di lapangan: kemenangannya dirayakan orang lain, kekalahannya ditanggung sendirian.
Dibu kalah dini hari tadi. Tapi kalahnya seperti pahlawan wayang: gugur di ujung perang, kehormatan masih melekat di badan.
Lalu kenapa Argentina bisa kalah? Jawabannya bukan soal semangat. Soal sistem. Spanyol sepanjang turnamen ini hanya kebobolan satu gol. Satu. Dari delapan pertandingan. Mereka juga tidak pernah tertinggal. Tidak satu menit pun. Sejak laga pertama sampai trofi diangkat. Itu bukan keberuntungan. Itu hasil pabrik.
Akademi mereka memproduksi pemain dengan cara main yang sama sejak umur 10 tahun. Yamal, Cubarsi, Pedri, semua keluaran satu sekolah pikiran.
Argentina mengandalkan mental juara dan magis Messi. Spanyol mengandalkan sistem yang jalan sendiri, siapa pun pemainnya. Lihat gol penentu itu: Nico Williams yang mengumpan masuk menit 74. Ferran Torres yang menyundul masuk menit 61. Dua-duanya pemain cadangan. Umpan dari cadangan. Gol dari cadangan. Ferran Torres itu pemain cadangan. Masuk dari bangku. Cetak gol penentu. Cadangannya saja setajam itu.
Dini hari tadi kita menyaksikan dua zaman bertukar tempat. Messi 39 tahun. Yamal 19 tahun. Yang satu menutup buku. Yang satu baru membuka halaman pertama. Ternyata keteguhan mental bisa menahan sistem selama 106 menit. Tapi tidak selamanya.
Bagaimana dengan Messi? Usianya 39. Dini hari tadi dia berlari lebih sedikit, berpikir lebih banyak. Trofi lepas. Tapi dia membawa negaranya ke dua final Piala Dunia berturut-turut. Kariernya sudah selesai ditulis. Tidak ada paragraf yang perlu direvisi.
Usai peluit panjang, saya menoleh ke sekeliling. Warga bergegas pulang. Anak-anak yang tertidur digendong bapaknya. Kawan-kawan pegawai pemprov saling pandang: tiga jam lagi masuk kantor. Yang menarik: tidak ada yang bertengkar. Pendukung Argentina dan pendukung Spanyol pulang lewat gerbang yang sama.
Politik mestinya juga begitu. Bertarung habis-habisan 90 menit plus perpanjangan waktu. Lalu pulang lewat gerbang yang sama.
Untuk warga Magetan yang gagal saya temani nobar: maafkan. Anggap tulisan ini pengganti kopi yang batal kita seruput bersama.
Pesan saya satu saja. Ingatlah Dibu Martinez setiap kali hidup mengepung Anda dari segala arah. Berdirilah di bawah mistar masing-masing. Tepis yang bisa ditepis. Kalaupun akhirnya kebobolan juga, pastikan satu hal: Anda tidak pernah meninggalkan gawang itu.
Fajar sudah naik di langit Surabaya. Jam 10 nanti ada rapat. Piala Dunia usai. Pelajarannya baru mulai.
Surabaya, 20 Juli 2026
*Diana Sasa, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dan Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













