JEMBER – Pendidikan politik tidak harus berlangsung di ruang seminar atau melalui pidato politik. DPC PDI Perjuangan Jember mulai membangun pendekatan lain melalui literasi buku dan pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi.
Film Laut Bercerita menjadi salah satu medium untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah sekaligus menghubungkannya dengan kondisi politik saat ini.
Anggota Komisi A DPRD Jember, Tabroni, mengatakan gagasan menggelar nonton bareng (nobar) film tersebut berawal dari percakapan informal bersama sejumlah wartawan di ruang Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Jember.
Mereka yang pernah mengalami masa gerakan Reformasi 1998 kemudian berbagi cerita tentang film yang mengangkat sejarah penculikan dan penghilangan paksa aktivis pada masa Orde Baru.
“Mulanya dari ruang Banmus, saya dan teman-teman media yang pernah hidup di angkatan 1998 bercerita soal film Laut Bercerita. Daripada kita mengenang hanya dalam bentuk lisan, saya ajak teman-teman media menonton saja,” ujar Tabroni di Jember, Jumat (6/11/2026).
Menurut Tabroni, pengalaman menonton film tersebut memunculkan kembali ingatan sejarah yang kemudian berkembang menjadi diskusi. Peristiwa masa lalu itu dinilai memiliki relevansi untuk memahami kondisi politik saat ini.
Dia menilai masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang edukasi untuk memahami pentingnya politik dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan politik, kata dia, tidak cukup hanya disampaikan melalui kegiatan formal, tetapi juga dapat dibangun melalui kebudayaan dan karya kreatif.
Apresiasi terhadap pendekatan tersebut disampaikan Oryza A. Wirawan, salah satu jurnalis media daring di Jember. Menurut dia, DPC PDI Perjuangan Jember mulai membangun tradisi pendidikan politik dengan pendekatan yang berbeda, terutama melalui buku dan film.
“PDI DPC Perjuangan Jember keren. Mulai dari tradisi membagikan buku sebagai literasi untuk kalangan Gen Alpha dan Gen Z, kini membangun tradisi baru, yakni pendidikan politik melalui nobar,” ujarnya.
Tradisi literasi tersebut sebelumnya terlihat dalam sejumlah kegiatan Partai. Saat Soekarno Run, PDI Perjuangan menghadiahkan dua jilid buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno kepada para pemenang. Dalam kegiatan bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z karya Rocky Gerung dan Airlangga Pribadi Kusman, Partai juga membagikan buku secara gratis.
Pendekatan serupa dilakukan dalam kegiatan nobar film Bapak Paling Jujur di Kota Cinema Mall, Rabu malam, (28/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, DPC PDI Perjuangan Jember membagikan lima buku bertema nasionalisme dan demokrasi kepada penonton berusia 14–29 tahun.
Bendahara DPC PDI Perjuangan Jember, Candra Ary Fianto, mengatakan bahwa pembagian buku merupakan bagian dari konsistensi Partai dalam mendekatkan literasi kepada generasi muda.
“Ini bentuk konsistensi kami, bahwa dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan Gen Z, kami selalu memberikan buku, agar Gen Z bisa kembali kepada buku, di tengah literasi membaca yang semakin rendah,” kata Candra.
Lima buku bertema nasionalisme dan demokrasi tersebut dibagikan sebelum pemutaran film. Penerima buku juga diminta menyampaikan pandangan mengenai kondisi demokrasi Indonesia saat ini.
Di antara buku yang dibagikan adalah Nasional.is.Me karya Pandji Pragiwaksono, yang mengajak pembaca memaknai kecintaan terhadap Indonesia melalui tindakan nyata. Ada pula Generasi Kembali ke Akar karya Muhammad Faisal, yang mengulas perjalanan generasi muda Indonesia berdasarkan riset panjang tentang perubahan kultur anak muda.
Buku lainnya, Aldera: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993–1999, mendokumentasikan peran Aliansi Demokrasi Rakyat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Baru.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan upaya Partai memperluas ruang pendidikan politik melalui medium yang dekat dengan generasi muda. Buku dan film tidak hanya menjadi bahan konsumsi, tetapi juga pintu masuk untuk membicarakan nasionalisme, demokrasi, sejarah, dan partisipasi warga negara. (art/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













