Sabtu
31 Oktober 2026 | 7 : 13

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Cegah Perkawinan Usia Anak, Mbak Nia Ajak Masyarakat Gotong Royong

PDIP-Jatim Nia Kurnia Fauzi 18102022

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep bekerja sama dengan United States Agency for International Development(USAID) menggelar Lokakarya dan Awareness Building Daerah Rawan Perkawinan Usia Anak. Lokakarya tersebut merupakan upaya untuk mencegah perkawinan usia ana/perkawinan dini.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sumenep, Nia Kurnia Fauzi, mengungkapkan, Sumenep termasuk nomor 5 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dengan kasus pernikahan usia anak dan stunting tertinggi. Karena itu, pemerintah daerah konsentrasi untuk mengurangi pernikahan usia anak dan stunting melalui berbagai sosialisasi dan lokakarya.

“Masalah pernikahan anak menjadi persoalan klasik yang butuh keterlibatan semua sektor dan elemen masyarakat, untuk bersama-sama mencegah pernikahan usia anak,” ujar Mbak Nia, sapaan akrab Nia Kurnia Fauzi, pada pembukaan lokakarya, Senin (17/10/2022).

Istri Bupati Sumenep itu juga mengakui, pernikahan dini memberi dampak pada kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Politisi PDI Perjuangan itu juga menjelaskan, untuk menyelesaikan persoalan tersebut, pemerintah membutuhkan gotong-royong dalam seluruh elemen masyarakat.

“Seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat memberikan sumbangsih menanggulangi persoalan stunting dan perkawinan usia anak ini,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator USAID ERAT Provinsi Jawa Timur, Dina Limanto, mengatakan, USAID ERAT bersama Pemkab Sumenep memiliki komitmen untuk menanggulangi stunting dan pernikahan usia anak. 

“Tidak hanya pemerintah, tapi semua pihak harus memiliki komitmen dan bergandengan tangan membentuk generasi mendatang yang lebih baik,” terangnya.

Dina juga menegaskan, melalui lokakarya dan awareness building daerah rawan perkawinan usia anak ini, pihaknya berharap masyarakat paham akan dampak-dampak stunting dan pernikahan usia anak.

“Yang mungkin selama ini masyarakat, khususnya anak-anak generasi muda sebaya, semakin bebas dan menganggap menikah dini menyenangkan. Tanpa mengetahui dampaknya yang juga luar biasa. Tidak hanya bagi kesehatan ibu dan bayi, juga dampak lainnya,” jelasnya.

Ia juga meyakini, melalui lokakarya, yang diikuti berbagai organisasi masyarakat, perwakilan desa, dan OPD terkait, Kabupaten Sumenep akan mampu mengatasi berbagai persoalan, terutama pernikahan usia anak dan stunting. (set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Pemkot Surabaya Kembangkan Taman Hutan Kota Jeruk, Warga Desil 1 hingga 3 Diprioritaskan Kelola Usaha

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan pengembangan Taman Hutan Kota Jeruk di Kecamatan ...
LEGISLATIF

Bangun Ekonomi Berbasis Zero Waste, Sri Untari Gandeng Warga Empat Desa di Kabupaten Malang

MALANG – Empat desa di Kabupaten Malang disiapkan menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis zero waste ...
EKSEKUTIF

Museum Penataran Expo 2026 Angkat Warisan Budaya Takbenda, Pemkab Blitar Luncurkan Reservasi Online

BLITAR – Museum Penataran Expo 2026 menjadi upaya Pemerintah Kabupaten Blitar mengenalkan kekayaan warisan budaya ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Larang Pungutan Perpisahan Siswa SD-SMP Negeri Surabaya, Dispendik Tegur Kasek

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melarang sekolah negeri membebani orang tua murid dengan pungutan ...
KRONIK

Wabup Ngawi Pastikan Bantu Perbaikan Rumah Rusak Terdampak Angin Kencang

NGAWI – Hujan disertai angin kencang menerjang Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) petang. Cuaca ...
KRONIK

Peternak Ayam Terpuruk, Sonny Desak Pemerintah Kendalikan Harga Telur dan Pakan

BANYUWANGI – Kondisi peternak ayam petelur yang terus merugi akibat rendahnya harga telur dan tingginya biaya pakan ...