Sabtu
02 Mei 2026 | 10 : 42

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ruang Kelas yang Luas dan Merdeka

Hidayat Raharja

Setiap berada di ruang kelas, kita sering merasa dalam sebuah ruang yang dibatasi tembok dan beberapa jendela untuk sirkulasi udara. Deretan bangku dan kursi yang kaku semua siswa menghadap ke satu arah (papan tulis). Di sudut depan ada meja dan kursi mengawasi siswa. Siswa di ruang kelas seperti seorang pesakitan yang tengah belajar dan diawasi seorang sipir yang akan memantau setiap gerak-geriknya. Sepanjang pelajaran berlangsung, siswa hanya gelisah dan berharap pembelajaran segera berakhir. Ruang kelas seperti penjara dan guru laksana sipir yang mengawasi seluruh siswa dalam kelas. Suasana kelas sebagaimana digambarkan Paulo Freire.

Mengelola kelas bagai mempersiapkan sebuah konser musik  semua elemen dalam kelas harus berfungsi penguatan pemahaman konsep yang tengah dipelajari. Ini yang dikemukakan oleh Bobbi dePorter (2000) mengenai QuantumTeaching dengan asas “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.” Belajar dengan memanfaatkan pengalaman peserta didik sebagai pintu masuk pada materi pembelajaran, sehingga apa yang dipelajari terkait dengan pengalamannya secara konstruktif bisa merangkai pengalamannya dengan pengetahuan baru yang dipelajarinya.

Semua berbicara, elemen yang mengisi ruang kelas bisa jadi komponen yang akan saling mendukung dan menguatkan pembelajaran. Semua menjadi berarti bagi pengalaman belajar siswa. Poster, pamflet yang tertempel di dinding kelas bisa menjadi penguat konsep yang tengah dipelajari. Setiap siswa adalah musisi yang turut serta memainkan peran yang telah ditentukan sang guru dirigen yang mengarahkan pertunjukan, sehingga konser menjadi harmoni dan enak dinikmati.

Suatu ketika seorang guru mengeluh karena siswanya tidak  menerima materi pembelajaran yang diberikan. Materi yang paling dasar diberikan kepada siswa SMA. Mereka tidak bisa memahami materi yang telah disampaikan. Di waktu yang lain seorang guru menuturkan bahwa, sebenarnya siswa-siswinya tidak ada yang tuntas mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kompetensi dasar yang dia berikan, tetapi dia menuntaskannya dengan memberi tugas terhadap kompetensi yang belum dikuasainya. Kenapa siswa selalu tidak benar?

Siswa datang dengan berbagai kemampuan dan latar belakang yang heterogen. Maka pengenalan guru terhadap kondisi setiap siswa amat penting sehingga bisa menempatkan peran dalam pembelajaran. Mampukah guru untuk melayani semua kebutuhan siswa yang berbeda? Guru perlu memberikan motivasi yang mendorong siswa untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Guru mendampinginya belajar, sehingga dicapai hasil belajar yang optimal.

Pengalaman mengajar bersama di SMA Negeri 4 Sampang, berada di antara siswa yang kurang beruntung secara ekonomi dengan fasilitas belajar yang sangat terbatas, bukan hal mudah untuk mengajak siswa belajar. Tetapi perlu bersiasat dan mengelola kelas secara luas dan terbuka. Kelas secara luas, adalah ruang belajar yang tidak dibatasi tembok ruangan, tetapi melihat ruang yang lebih luas sebagai ruang belajar. Belajar dengan memanfaatkan luar ruangan sebagai ruang dan atau sumber belajar. Pembelajaran yang lebih longgar dan leluasa untuk melihat sesuatu di sekitar sebagai objek yang dijadikan sebagai materi atau analog terhadap pengetahuan baru yang tengah dipelajari.

Apa yang dilakukan kawan guru sangat menakjubkan, baik secara persuasif mau pun secara aplikatif. Bagaimana mereka merawat hubungan peserta didik yang kurang semangat belajar datang ke sekolah. Mereka dengan berbagai latar belakang persoalan keluarga yang rumit. Ada guru yang selalu gelisah ketika siswanya tidak hadir di sekolah. Setiap pagi di group kelas yang dibinanya si guru mengumumkan lewat pesan whatsapp, dan tak jarang menyusul siswanya ke rumah. Si guru memainkan peran dan tanggung jawabnya sebagai pengganti orang tua di sekolah.

HP android bagi siswa di sini masih jadi barang mahal. Jika mereka memiliki biasanya digunakan bersama anggota keluarga yang lain. Sehingga pembelajaran daring lebih sering dilakukan dengan memberi tugas lewat Whatsapp dan kemudian dikirimkan kembali, bagkan ada yang kemudian tugas diantar ke rumah guru, karena tidak memiliki paket data untuk mengirim lewat internet.

Di tengah kendornya semangat belajar ibu Purnamawati, guru fisika memberikan tugas resume yang dibuat siswa terhadap suatu konsep atau kompetensi dasar fisika disampaikan melalui aplikasi tiktok. Mereka senang mengerjakannya dan menyampaikan konsep sambil membaca dan menggerakkan tubuhnya. Jalan alternatif untuk menumbuhkan semangat belajar dengan cara yang menyenangkan.

Lain pula guru biologi, dalam suatu tatap muka terbatas di ruang kelas, ibu Fauziyah  Wahyuni membawa beberapa tanaman Ptetidophyta (Paku-pakuan) ke dalam kelas. Struktur tubuh yang lengkap (akar, batang, daun dan sporanya) untuk mempelajari struktur, fungsi dan peranan tumbuhan Pteridohyta. Upaya untuk menjadikan kelas hidup dan belajar jadi interaktif. Jalan lain belajar mengatasi fasilitas belajar di sekolah yang sangat terbatas.

Pada saat pelajaran Pendidikan Kewirausahaan (PKWU) mengenai pengolahan pasca panen, ibu Musdalifah mengajak siswanya ke kebun mini sekolah untuk menanam benih, menumbuhkan, dan merawatnya hingga tanaman berbuah dan sayur siap dipanen.Mereka bukan hanya belajar menanam, tetapi juga belajar merawat dan memahami makna hidup yang tumbuh. Sebuah proses yang diawali dari biji, berkecambah dan terbentuknya organ akar, batang dan daun serta berinteraksi dengan lingkungannya. Hidup yang berbeda bagi setiap individu. Perbedaan-perbedaan pasti ada, tumbuh bersama, bukan saling meniadakan tetapi saling memberi sehingga hidup jadi berseri. Untuk sampai tanaman berbuah, butuh waktu dan perawatan yang sungguh.

Ada pula ibu Debby Eka Wulandari mengajak murid ke luar dari kelas untuk belajar di situs sejarah lokal sebagai sumber pengetahuan. Mereka sadar ruang kelas begitu luas tidak dibatasi tembok yang kaku. Kelas yang meluas ke tengah kampung dan aktivitas masyarakat. Kelas yang memanfaatkan sesuatu di sekitar sebagai sumber atau media belajar. Pembelajaran luar kelas dengan metode discovery learning mengajak siswa menelusuri hubungan antara Rato Ebhu dengan perkembangan agama Islam di Madura. Sebuah kesadaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan memberikan pembelajaran secara kontekstual.

Kelas luas dan merdeka. Luas karena tanpa dibatasi tembok ruangan sehingga leluasa memilih dan menentukan cara belajar. Memanfaatkan lingkungan di sekitar sekolah untuk bahan atau sumber belajar, sehingga ruangan kelas jadi ruang belajar yang kondusif. Siswa merasa senang dan antusias untuk belajar. Menghubungkan hal yang dipelajari dengan konteks kenyataan di masyarakat menjadikan pembelajaran kontekstual dan bermakna bagi siswa.

Tidak ada siswa yang bodoh, hanya mereka membutuhkan waktu belajar lebih lama. Kelas bagi mereka adalah ruang untuk menimba pengetahuan dengan rasa senang hati, bukan tempat yang menakutkan dan penuh intimidasi. Betapa luas ruang kelas kita, materi pelajaran dalam kehidupan yang bisa kita ambil bukan sekadar berpatok pada kurikulum dalam buku. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Sonny Tinjau Pantai Bimo Banyuwangi, Soroti Sampah Pesisir dan Dorong Wisata Fishing Center

BANYUWANGI – Anggota DPR RI Komisi IV, Sonny T. Danaparamita, melakukan kunjungan serap aspirasi ke kawasan pesisir ...
LEGISLATIF

Untari Dorong Kejar Paket A, B, C untuk Tingkatkan Lama Sekolah di Jatim

Sri Untari dorong program kejar paket A, B, C untuk tingkatkan lama sekolah di Jawa Timur yang masih 13,44 tahun. ...
EKSEKUTIF

Bupati Rijanto Apresiasi Peran Pesantren Al Ma’arif Udanawu Cetak Generasi Berkarakter

Bupati Blitar Rijanto apresiasi MA Ma’arif Udanawu dan Ponpes Al Ma’arif dalam mencetak generasi berkarakter dan ...
HEADLINE

Hardiknas 2026, Deni Wicaksono Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Tantangan Digital di Jatim

Deni Wicaksono soroti ketimpangan pendidikan dan tantangan digital di Jawa Timur pada Hardiknas 2026. SURABAYA — ...
KABAR CABANG

Dialog Dengan KPU, DPC Tulungagung Tekankan Pendidikan Demokrasi bagi Gen Z dan Pemilu Bersih

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menekan pentingnya pendidikan ...
LEGISLATIF

Hardiknas 2026, Untari Tegaskan Pendidikan Harus Lahirkan Generasi Peka Masalah Sosial

Sri Untari tegaskan pendidikan harus lahirkan generasi peka sosial di Hardiknas 2026, bukan sekadar unggul ...