Jumat
24 Juli 2026 | 4 : 03

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Segenggam Lumpur Lapindo untuk Komitmen Jokowi

jokowi dapat segenggam lumpur lapindoSIDOARJO — Capres Joko Widodo mendapat ‘hadiah’ segenggam lumpur, sesaat tiba di lokasi semburan lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, Kamis (29/5/2014) sore. Segenggam lumpur dari jutaan kubik yang meluap sejak 2006 lalu itu diterima Jokowi dari seorang warga setempat yang badannya tertutup lumpur.

Calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Partai Nasdem, PKB, Partai Hanura, dan PKPI itu menerima lumpur Lapindo dengan tangan kanannya tanpa ragu. Sontak, ribuan warga yang berjejer di tepi tanggul luapan lumpur tersebut bertepuk tangan sambil bersorak-sorai. Mereka juga meneriakkan yel-yel “Jokowi presiden” berkali-kali.

Setelah menyerahkan segenggam lumpur, korban Lapindo itu kembali ke sisi tiga warga lainnya yang juga penuh lumpur. Di belakang sisi kanan, seratus lebih patung korban lumpur Lapindo, berdiri seakan ‘menyaksikan’ prosesi penyerahan lumpur ke Jokowi

Warga korban luapan lumpur mengibaratkan lumpur di tangan Jokowi tersebut sebagai janji dan komitmennya akan keberpihakannya kepada korban lumpur PT Lapindo Brantas. Komitmen politisi yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta terhadap kaum miskin itu juga tertuang dalam kontrak politik yang diteken Jokowi.

Isi kontrak politik itu, pertama mewujudkan kartu Indonesia pintar, kedua kartu Indonesia sehat, ketiga bukan menggusur tapi menggeser dan menata, keempat beri dana talangan untuk korban lumpur Lapindo, kelima memberi lapangan pekerjaan.

Patung-patung yang Berduka

Ikhwal 110 patung manusia setinggi sekitar 2 meter di titik 21 tanggul lumpur, menurut seniman pembuatnya, Dadang Christanto, bisa ditafsirkan dari berbagai aspek, tergantung siapa yang memaknainya. “Patung berbaris menunjukkan korban lumpur yang kehidupannya dulu sangat bermasyarakat, tapi sekarang tercerai-berai,” kata Dadang.

Mereka berbaris dengan tangan menengadah sambil memegang rongsokan peralatan rumah tangga yang dilumuri lumpur. Kata Dadang, tangan menengadah ke atas pertanda berkabungnya korban lumpur Lapindo atas bencana yang mungkin tak ada duanya di dunia ini. “Dalam ilmu seni, tangan menengadah memberi kesaksian bahwa sedang berduka cita,” jelasnya.

Sedang alat-alat rumah tangga yang dibawa menunjukkan bahwa barang-barang serta rumah para korban lumpur sudah tenggelam. Oleh karena itu, peralatan rumah tangga itu sengaja dilumuri lumpur.

Idham Kholid Ali, salah satu penyintas asal Desa Jatirejo yang kehilangan rumah serta tanah kelahirannya berharap, peringatan delapan tahun lumpur Lapindo ini menjadi yang terakhir dengan segera diselesaikannya pembayaran ganti rugi. “Mudah-mudahan untuk (pemerintahan) yang akan datang ini bisa menyelesaikan dari korban lumpur ini, artinya bisa menyelesaikan uang-uangnya yang belum terlunasi. Pokoknya terselesaikan semua,” ujarnya. (pri)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pedagang Pasar Baru Magetan Cemas Tergusur Rencana Pembangunan Bioskop, DPRD Turun Tangan

MAGETAN – Kawasan Pasar Baru Magetan kembali menjadi sorotan. Belum usai persoalan penataan parkir, kini muncul ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Mulai Musran-Musanran, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memulai Musyawarah Ranting dan Musyawarah Anak Ranting dari Kecamatan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...