Jumat
24 Juli 2026 | 3 : 21

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Aktif Kampanyekan No 2, Kirun: Carilah Pemimpin yang Bibitnya Jelas dan Berkualitas

pdip-jatim-puti-kirun-ponorogo1

SURABAYA – Pelawak kondang Kirun terus mengampanyekan pasangan Cagub-cawagub Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno kepada masyarakat Jawa Timur. Seniman asli Madiun yang nama aslinya H Syakirun itu mengajak masyarakat memilih dan memenangkan pasangan nomor urut 2 di Pilkada Jatim2018.

Di beberapa kesempatan bertemu masyarakat, Kirun tidak lupa memperkenalkan Gus Ipul-Mbak Puti, baik saat pentas, maupun di luar acara pementasan.

Seperti saat mengisi acara pengajian yang dihadiri ribuan warga Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, Kamis (7/6/2018) malam lalu, Kirun bahkan mengajak Puti Guntur yang juga hadir di acara itu, untuk naik panggung.

Saat itu, Kirun yang sekarang juga aktif menjadi pendakwah menerangkan bahwa dirinya tidak berkampanye karena memang bukan waktunya. Namun hanya sebatas mengajak kepada hadirin untuk melihat bibit, bebet, bobot dalam hal memilih pemimpin, khususnya calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur.

“Carilah pemimpin yang memiliki bibit yang jelas serta berkualitas tinggi. Itulah yang kita pilih menjadi pemimpin,” kata Kirun, di acara yang juga dihadiri Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistyono, anggota DPRD Jawa Timur Bambang Juwono, serta jajaran pengurus DPC PDIP Ponorogo tersebut.

Menurut dia, Mbak Puti ini jelas, cucunya Bung Karno yang merupakan proklamator kemerdekaan Republik Indonesia sehingga berideologi nasionalis. Sedangkan Gus Ipul adalah cicit KH Hasim Asyari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama.

“Apabila bibitnya jelas dan baik maka akan ada bebet dan bobot yang juga baik. Ini semua adalah upaya untuk menjaga Jawa Timur dan Indonesia tetap kondusif dengan bersatunya nasionalis dan religius,” ujarnya.

Saat menggelar acara mangayu bagyo di peringatan ulang tahun ke-32 Padepokan Seni Kirun (PadSKi), pada Rabu (5/4/2018) malam lalu, Kirun juga mengampanyekan Gus Ipul dan Mbak Puti kepada ribuan masyarakat Desa Bagi, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun.

Di acara bertabur seniman panggung tradisional Jawa tersebut, Puti ikut berbaur dan menari dengan para maestro bintang panggung kesenian Jawa yang rata-rata telah berusia di atas 60 tahun, menari di atas panggung.

Bahkan Kirun juga minta Gus Ipul naik panggung. Tak pelak, tampilnya Gus Ipul dan Mbak Puti disambut aplaus meriah dari undangan dan penonton yang hadir di gedung pentas seni yang cukup luas tersebut.

Kirun mengatakan, dirinya telah lama mengenal Gus Ipul-Puti Guntur. Khusus Mbak Puti, sebutnya, yang memperkenalkan adalah Bupati Ngawi Budi Sulistyono yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

“Saya yakin, jika keduanya terpilih, kesenian di Jawa Timur akan maju dan terus berkembang,” ucap Kirun. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pedagang Pasar Baru Magetan Cemas Tergusur Rencana Pembangunan Bioskop, DPRD Turun Tangan

MAGETAN – Kawasan Pasar Baru Magetan kembali menjadi sorotan. Belum usai persoalan penataan parkir, kini muncul ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Mulai Musran-Musanran, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memulai Musyawarah Ranting dan Musyawarah Anak Ranting dari Kecamatan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...