Kamis
23 Juli 2026 | 9 : 30

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Rekam Jejak Jokowi Tepis ‘Capres Boneka’

Jokowi Nongkrong di Sawah

Jokowi Nongkrong di SawahJAKARTA – Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Tomagola menegaskan, kinerja Joko Widodo (Jokowi) selama menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta saat ini, sudah membuktikan yang bersangkutan bukan pejabat yang bisa dikendalikan partainya. Karena itu, dia berpendapat, tidak benar jika Jokowi disebut “Capres Boneka”.

Selama menjadi wali kota, jelas Thamrin, Jokowi berhasil membenahi Solo dengan caranya sendiri. Menurutnya, itu jelas berbeda dari kepala daerah pada umumnya yang condong menurut kepada partai atau kepala daerah yang jabatannya lebih tinggi.

“Seorang politisi hanya bisa kita hakimi berdasarkan rekam jejak. Kita lihat rekam jejak dia saat di Solo, dia tidak dikendalikan atau didikte oleh pimpinan PDI-P solo. Dia juga tidak bisa dikendalikan Gubernur Jawa Tengah,” jelas Thamrin, dalam acara diskusi bertema “Capres Boneka” di Media Centre JKW4P, Jakarta, Kamis (8/5/2014).

Sementara, pengamat politik Yudi Latief mengatakan, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri punya alasan tersendiri menunjuk Jokowi sebagai bakal capres. Menurut Yudi Latief, Jokowi merupakan sosok cerminan Soekarno dan Hatta.

“Jokowi perpaduan Soekarno dan Hatta. Jadi bagi saya, konteks pemberian kekuasaan Megawati ke Jokowi bukan karena Jokowi ingin dijadikan sebagai capres boneka, tapi justru untuk menyelamatkan idelogi Soekarno-Hatta,” terang Yudi.

Jokowi, tambah dia, memiliki sebuah ideologi yang matang, sangat mirip dengan ideologi Soekano yang membawa Indonesia merdeka. Sementara, sifat Jokowi yang merakyat dan mau langsung turun kebawah, sangat mirip dengan Hatta.

“Saat pasca kemerdekaan itu kan, urusan rakyat yang lapar tidak bisa diselesaikan dengan ideologi saja. Itu dilakukan Bung Hatta dengan melayani rakyat,” urainya.

Soal Jokowi yang kerap bertemu duta besar negara luar, menurut dia, juga tidak membuat Jokowi lantas melawan sikap nasionalisme Bung Karno dengan menjadi boneka asing. Di era demokrasi seperti ini, terang Yudi, setiap negara tidak bisa dilepaskan dari pengaruh bangsa-bangsa lainnya. (pri/*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...
KRONIK

Hari Anak Nasional 2026, PDI Perjuangan Tegaskan Komitmen Wujudkan Generasi Emas

JAKARTA — PDI Perjuangan menyampaikan pesan penting dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Partai ...
KRONIK

Banyuwangi Asri, Ribuan Warga Bergerak Bersihkan Pantai Ancol Plengsengan

BANYUWANGI – Lebih dari seribu orang bergerak membersihkan pantai di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) ...