Jumat
28 Agustus 2026 | 3 : 13

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Setengah Jam di Posko Baguna, Tempat Para Penggembira Muktamar Melepas Lelah

pdip jatim 260828 posko baguna muktamar 5

JOMBANG – Matahari sedang terik-teriknya ketika jarum jam menunjuk pukul 13.30 WIB, Kamis (27/8/2026). Sinar matahari siang membuat udara di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, terasa gerah.

Namun panas itu tak menyurutkan semangat ribuan penggembira yang datang untuk ikut memeriahkan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Di antara kerumunan itu, tiga perempuan perlahan berjalan menuju sebuah posko yang berdiri sekitar dua kilometer dari lokasi pembukaan Muktamar.

Langkah mereka tampak sedikit berat. Wajah mereka menyiratkan lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Pekanbaru, Riau.

Tujuan mereka sederhana. Ingin duduk sebentar. Melepas penat. Sekaligus memastikan kondisi tubuh tetap baik di tengah padatnya suasana Muktamar.

Posko itu adalah Posko Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan Jawa Timur.

Begitu ketiganya tiba, para relawan dengan ramah mempersilakan mereka masuk. Tidak banyak pertanyaan. Tidak ada prosedur yang rumit. Mereka dipersilakan duduk, mengambil minuman dan makanan ringan yang tersedia.

Beberapa saat kemudian, relawan kesehatan mulai memeriksa kondisi mereka.

Tekanan darah diperiksa. Keluhan ditanyakan. Kondisi tubuh diperhatikan.

Tidak ditemukan persoalan kesehatan yang berarti. Hanya keluhan ringan yang lazim muncul setelah perjalanan jauh dan aktivitas seharian.

Vitamin dan obat-obatan ringan diberikan untuk membantu mengatasi keluhan tersebut.

Setelah beberapa saat beristirahat, wajah mereka terlihat lebih segar.

“Terima kasih ya mas-mas Baguna dan Ibu dokter. Saya merasa lebih segar sekarang,” ujar Bu Sri, 51 tahun, salah seorang dari tiga perempuan asal Pekanbaru itu.

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa.

Namun bagi sebuah posko pelayanan, ucapan tersebut menjadi tanda bahwa keberadaan mereka tidak sia-sia.

Tiga perempuan itu kemudian kembali melangkah meninggalkan posko. Wajah yang semula terlihat lelah kini tampak lebih ringan.

***

Tak lama berselang, seorang perempuan dari Kota Batu juga datang.

Ia bukan hendak mengeluhkan sakit. Tidak pula membutuhkan obat.

Ia hanya ingin memeriksa tekanan darah.

“Mumpung ada posko kesehatan Baguna. Saya hanya minta tensi,” katanya sambil tersenyum.

Permintaannya sederhana dan langsung dilayani.

Setelah pemeriksaan selesai, ia pun mendapat bingkisan makanan dan minuman yang memang disediakan gratis untuk siapa saja yang datang.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebuah gelas minuman, makanan ringan, atau pemeriksaan tekanan darah.

Tetapi di tengah panas, keramaian dan kelelahan perjalanan, hal-hal kecil semacam itu bisa terasa berarti.

Hingga pagi di hari kedua Muktamar, sudah 24 orang yang mampir dan memanfaatkan layanan kesehatan di posko tersebut.

“Alhamdulillah, setelah diperiksa tim kesehatan, tidak ada keluhan berarti. Mereka hanya merasa pusing-pusing, kelelahan, dan ingin beristirahat sejenak di Posko Baguna,” ungkap Araful, koordinator Posko Baguna.

Rata-rata para pengunjung menghabiskan waktu sekitar setengah jam di posko.

Tidak terlalu lama.

Cukup untuk duduk, minum, memeriksakan kesehatan, mengobati keluhan ringan dan mengembalikan tenaga sebelum kembali mengikuti kemeriahan Muktamar.

Setelah itu mereka kembali ke arena. Ada yang hendak mengikuti rangkaian kegiatan, ada pula yang sekadar ingin menikmati suasana Muktamar dan bertemu sesama Nahdliyin dari berbagai daerah.

***

Posko itu memang tidak dibangun dengan kemewahan.

Fungsinya pun tidak muluk-muluk.

Tempat singgah bagi mereka yang lelah. Tempat mendapatkan minuman dan makanan ringan. Tempat memeriksakan kesehatan. Dan, barangkali, tempat menemukan keramahan ketika seseorang sedang berada jauh dari rumah.

Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Rudi Afianto mengatakan, pelayanan tersebut memang disiapkan untuk para muktamirin dan warga Nahdliyin yang datang ke Jombang.

Posko menyediakan tempat beristirahat, makanan ringan, minuman, kopi serta layanan kesehatan ringan.

Para muktamirin yang datang dari berbagai daerah dan menempuh perjalanan panjang dipersilakan mampir kapan saja selama posko beroperasi.

“Posko ini kami buka sampai penutupan Muktamar. Semua saja, baik muktamirin maupun warga Nahdliyin lainnya yang datang, kami persilakan mampir,” ujar Rudi.

Bagi Rudi, pelayanan tersebut merupakan bagian dari semangat gotong royong yang selama ini menjadi karakter kerja PDI Perjuangan, termasuk melalui Baguna.

Semangat itu pula yang membuat posko sederhana tersebut hadir di tengah perhelatan besar Muktamar NU.

Tidak untuk menjadi pusat perhatian.

Tidak pula untuk membuat sesuatu yang besar.

Hanya ingin memastikan, ketika ada orang yang lelah setelah perjalanan jauh, ada tempat untuk berhenti sebentar.

Ketika ada yang merasa kurang enak badan, ada tenaga kesehatan yang bisa membantu.

Dan ketika seseorang ingin sekadar duduk sambil menikmati secangkir kopi, ada ruang yang terbuka untuk mereka.

***

Siang terus bergerak menuju sore.

Kerumunan di sekitar arena Muktamar belum juga surut.

Para penggembira datang dan pergi. Sebagian membawa bendera, sebagian mengenakan atribut daerah, sebagian lainnya hanya datang bersama keluarga dan kawan-kawan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Posko Baguna tetap menjadi ruang kecil untuk berhenti sejenak.

Setengah jam mungkin bukan waktu yang panjang.

Tetapi bagi Bu Sri dan dua rekannya dari Pekanbaru, setengah jam itu cukup untuk mengembalikan tenaga.

Bagi perempuan dari Batu, cukup untuk memastikan tekanan darahnya baik.

Dan bagi 24 orang yang telah mampir hingga siang itu, mungkin posko tersebut meninggalkan satu kesan sederhana: bahwa di tengah keramaian sebuah hajatan besar, selalu ada orang-orang yang bersedia berhenti sejenak untuk melayani.

Sebab terkadang, memuliakan tamu memang tidak membutuhkan sesuatu yang mewah.

Cukup menyediakan tempat untuk duduk, segelas minuman, pemeriksaan kesehatan, dan keramahan.

Lalu membiarkan mereka pulang dengan tubuh yang sedikit lebih ringan dan hati yang sedikit lebih hangat. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Setengah Jam di Posko Baguna, Tempat Para Penggembira Muktamar Melepas Lelah

JOMBANG – Matahari sedang terik-teriknya ketika jarum jam menunjuk pukul 13.30 WIB, Kamis (27/8/2026). Sinar ...
EKSEKUTIF

Bupati Malang Ingin Purna PMI Tak Kembali Jadi Pencari Kerja, tapi Penggerak Ekonomi Daerah

Bupati Malang HM Sanusi ingin purna PMI tak kembali menjadi pencari kerja, tetapi mampu memanfaatkan modal dan ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP Soroti APBD Perubahan Kota Madiun, Bansos Turun hingga BTT Melonjak

MADIUN — Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Madiun menyoroti sejumlah perubahan komposisi anggaran dalam Raperda ...
KRONIK

Soroti Anggaran Pemeliharaan Aplikasi Rp310 Juta, Alfan PDIP Jember: Belum Sebanding Kualitas Layanan

JEMBER – Anggaran pemeliharaan aset tidak berwujud dan aplikasi layanan masyarakat sebesar Rp310,3 juta di Dinas ...
KRONIK

Soroti 903 KK Minta Update Data, Agung Priyanto: Jangan Sampai Rakyat Kehilangan Hak Gara-Gara Desil

PONOROGO – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Ponorogo, Agung Priyanto, menyoroti penggunaan desil ...
SEMENTARA ITU...

Ribuan Warga Padati Siraman Gong Kyai Pradah, Tradisi Leluhur Blitar Tetap Lestari di Tengah Efisiensi

Ribuan warga memadati Alun-alun Lodoyo menyaksikan Siraman Gong Kyai Pradah. Tradisi leluhur Blitar tetap ...