TRENGGALEK – Bupati Trenggalek M. Nur Arifin menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk tetap hadir di tengah masyarakat, termasuk warga yang tinggal jauh dari pusat keramaian kota. Hal itu ditunjukkan dengan turun langsung menyapa warga Kecamatan Munjungan sekaligus membuka ruang untuk menampung aspirasi masyarakat.
Mas Ipin, sapaan akrab M. Nur Arifin, hadir dalam peringatan Hari Jadi ke-116 Desa Bendoroto, Kecamatan Munjungan, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut dikemas melalui tradisi bersih desa yang menjadi agenda tahunan masyarakat setempat.
“Kami akan selalu hadir di masyarakat. Momen ini juga menjadi ajang untuk nyambung dulur dan menyapa serta menampung aspirasi warga,” kata Mas Ipin.
Menurutnya, kegiatan hari jadi desa bukan hanya menjadi momentum melestarikan tradisi dan budaya lokal, tetapi juga mempererat silaturahmi serta gotong royong antarwarga.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Mas Ipin mengapresiasi masyarakat Desa Bendoroto yang terus menjaga tradisi tersebut. Terlebih, peringatan tahun ini juga diisi pengajian yang menghadirkan KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq.
Ia berharap semangat gotong royong dan kerukunan yang terbangun di tengah masyarakat terus dipertahankan. Menurutnya, kekuatan sosial tersebut menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan daerah.
“Dan selamat memperingati hari jadi desa. Semoga Desa Bendoroto lebih makmur dan sejahtera warganya,” ujar bupati muda yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek ini.
Sebelum pengajian, masyarakat Desa Bendoroto menggelar doa bersama untuk mengenang dan mendoakan para pendiri serta pendahulu desa.
Peringatan Hari Jadi Desa Bendoroto tahun ini mengusung tema “Ndadak Tunggak Bendo”. Tema tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk merefleksikan sejarah, perjuangan, dan jasa para pendahulu yang telah meletakkan fondasi bagi perkembangan desa.
Masyarakat juga meneguhkan komitmen untuk meneruskan cita-cita para pendahulu dengan membangun Desa Bendoroto agar semakin maju dan berkah.
Sementara itu, dalam ceramahnya, Gus Muwafiq menekankan pentingnya menjaga ingatan terhadap sejarah dan menghargai jasa orang-orang terdahulu.
Menurutnya, doa bersama dalam peringatan hari jadi desa merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada mereka yang telah lebih dahulu berjuang membangun kehidupan masyarakat.
“Acara doa bersama dan peringatan hari jadi desa seperti ini layaknya penghargaan kepada orang yang telah mendahului kita,” kata Gus Muwafiq.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan generasi terdahulu tidak hanya membutuhkan harta benda, tetapi juga pengorbanan jiwa dan raga. Sementara generasi saat ini memiliki tugas berbeda, yakni mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dan menjaga kehidupan masyarakat.
“Tugas kita saat ini tidak berjuang dengan berperang akan tetapi hanya mengisi kemerdekaan. Cuma itu saja. Tidak perlu perang lagi,” pungkasnya. (azz/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













