Senin
27 Juli 2026 | 2 : 58

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Jejak Luka yang Tak Selesai di Rumah Banteng Jember

PDIP-Jatim Yudha Jember 27072026

JEMBER – Sisa hujan masih menetes dari ujung tenda ketika para kader Partai mulai memenuhi halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember di Jalan Supriyadi Nomor 54, Minggu (26/7/2026) petang.

Aspal yang basah memantulkan cahaya lampu. Patung banteng di halaman kantor tampak berkilau setelah diguyur hujan sejak pukul 17.30 WIB. Di bawah tenda berhiaskan merah putih, kursi-kursi yang disusun menghadap panggung perlahan penuh oleh undangan berbaju hitam. Di layar besar yang berdiri di sisi panggung terpampang satu kalimat sederhana.”Jejak Luka Demokrasi Indonesia.”

Kalimat itu menjadi pembuka Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kudatuli, momentum yang dipilih DPC PDI Perjuangan Jember untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada (27/7/1996).

Malam itu, panggung tidak dipenuhi pidato seremonial. Panitia justru menyediakan mimbar bebas bagi mereka yang pernah mengalami langsung peristiwa tersebut. Para kader senior Partai diminta menceritakan pengalaman mereka kepada generasi muda yang selama ini hanya mengenal Kudatuli dari buku sejarah dan cerita para pendahulu.

Satu per satu mereka maju. Muhammad Asir menjadi orang pertama yang berdiri di depan podium berlambang banteng. Suara lelaki itu beberapa kali bergetar ketika berusaha mengingat kembali masa-masa ketika menjadi kader PDI pada era Orde Baru.

“Saya tidak ingat semuanya. Tetapi yang saya ingat, saya tidak pernah memilih partai lain. Bahkan membeli seragam Partai saja kami harus bergotong royong mengumpulkan uang,” katanya.

Tak lama kemudian, Sentot Sutarto atau Yongki mengambil alih mimbar. Berbeda dengan Asir yang lebih banyak mengenang, Yongki memilih membakar semangat peserta.

“Refleksi tanpa aksi adalah halusinasi. Halusinasi harus dibunuh. PDI Perjuangan memiliki modal besar: demokrasi dan Trisakti. Kudatuli boleh menghancurkan badan saya, tetapi tidak ideologi saya,” ujarnya, disambut tepuk tangan dan sorak para peserta.

Di antara para kader senior Partai itu, seorang anak muda ikut naik ke podium. Namanya Yudha Firmansyah. Mewakili generasi Z, ia mengaku mengenal sejarah PDI Perjuangan dari cerita ayahnya. Baginya, Partai tidak sekadar kendaraan politik, melainkan alat perjuangan bagi kaum marhaen.

Mimbar yang Berubah Menjadi Ruang Curhat

Refleksi malam itu tidak hanya berisi cerita tentang masa lalu. Mimbar yang semula disiapkan untuk mengenang Kudatuli berubah menjadi ruang bagi masyarakat menyampaikan persoalan sehari-hari.

Hasan Basri, pelaku usaha mikro asal Kecamatan Sumbersari, memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeluhkan menurunnya pendapatan sejak sekolah menerapkan kebijakan yang membatasi siswa membeli jajanan di luar program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Semenjak ada MBG, sekolah tempat saya berdagang melarang siswanya membeli jajanan. Kami berharap ada solusi agar usaha kecil seperti kami tetap bisa bertahan,” katanya di hadapan para legislator yang hadir.

Keluhan itu memperlihatkan bahwa tiga dekade setelah Kudatuli, ruang demokrasi tidak lagi hanya diisi perdebatan soal kekuasaan. Ia juga menjadi tempat warga menyampaikan kegelisahan atas dampak kebijakan publik terhadap kehidupan mereka.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Widarto, menilai forum refleksi memang sengaja dibuka sebagai ruang dialog antara masyarakat dan wakil rakyat. Menurut dia, berbagai kebijakan pemerintah yang berdampak pada ruang hidup masyarakat perlu dievaluasi melalui kritik yang disampaikan secara terbuka dan bertanggung jawab.

“Kami ingin masyarakat berani menyampaikan aspirasi. Kritik yang disampaikan untuk memperbaiki kebijakan bukan berarti anti terhadap pemerintah,” ujar Widarto.

Malam semakin larut. Hujan telah lama reda. Namun, di halaman kantor partai itu, yang tertinggal bukan hanya kisah tentang luka demokrasi tiga puluh tahun silam. Mimbar yang semula dibangun untuk mengenang sejarah berubah menjadi ruang tempat ingatan masa lalu bertemu dengan kegelisahan masyarakat hari ini mengingatkan bahwa demokrasi bukan sekadar peristiwa yang diperingati, melainkan keberanian untuk terus mendengar dan menyampaikan suara. (art/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Tak Lupa Kudatuli, Kader-Kader DPC Kota Pasuruan Nobar Film Dokumenter dan Sarasehan

KOTA PASURUAN – Tiga dekade berlalu sejak peristiwa Kuda Tuli (Kerusuhan 27 Juli 1996), ingatan akan momen kelam ...
KABAR CABANG

Jejak Luka yang Tak Selesai di Rumah Banteng Jember

JEMBER – Sisa hujan masih menetes dari ujung tenda ketika para kader Partai mulai memenuhi halaman Kantor DPC PDI ...
KABAR CABANG

Kudatuli dan Kompas Sejarah bagi Generasi Penerus

MADIUN – Tiga puluh tahun telah berlalu. Waktu bergerak, pemerintahan berganti, dan wajah politik Indonesia ...
KOLOM

Kudatuli dan Pelajaran Demokrasi

Oleh Djarot Saiful Hidayat* SETIAP 27 Juli, ingatan kolektif bangsa ini seharusnya berhenti sejenak. Bukan untuk ...
KABAR CABANG

Renungan Kudatuli, Fery Sudarsono: Kebebasan Politik Dibayar dengan Darah dan Nyawa

MADIUN – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Madiun menegaskan kebebasan politik dan demokrasi yang dinikmati masyarakat ...
KABAR CABANG

Peringati Kudatuli Bersama Seluruh PAC Tulungagung, Erma Tekankan Pentingnya Jas Merah

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar peringatan peristiwa ...