JEMBER – Arus mudik Lebaran selalu menyimpan cerita. Di antara deru kendaraan dan panjangnya perjalanan, ada kisah tentang kebingungan, harapan, dan akhirnya kelegaan.
Itulah yang dialami Icham dan Aura, pasangan pemudik asal Sidoarjo yang tengah menuju Banyuwangi, Jumat (20/3/2026). Di tengah perjalanan, keduanya mendadak terpisah dari rombongan motor yang mereka ikuti.
Situasi menjadi semakin rumit ketika mereka tak bisa berkomunikasi. Telepon genggam yang seharusnya menjadi penghubung justru tertinggal bersama rombongan di depan.
Baca juga: PDIP Jember Siapkan Posko Mudik Strategis, Antisipasi Arus Lintasan Antar Kota
Sementara di belakang, arus lalu lintas padat membuat mereka tak mudah mengejar. Di titik itulah rasa cemas muncul.
Tak banyak pilihan, hingga akhirnya mereka memutuskan menepi dan mencari bantuan di Posko Gotong Royong PDI Perjuangan yang berada di Jalan Brawijaya 32, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi.
Di posko itu, mereka tidak hanya menemukan bantuan, tetapi juga ketenangan. Petugas yang berjaga segera merespons.
Icham dibantu menghubungi rombongannya, meski prosesnya tidak mudah. Sinyal komunikasi terhubung setelah menunggu hampir satu jam.
“Memang butuh waktu, tapi akhirnya bisa tersambung,” ujar Wakil Komandan Satgas PDI Perjuangan yang berjaga di Posko Mudik, Samsul.
Selama menunggu, Icham dan Aura dipersilakan beristirahat. Mereka disambut hangat, bahkan dijamu makanan oleh petugas yang saat itu berjaga. Suasana sederhana, namun cukup untuk meredakan kegelisahan.
Perlahan, rasa cemas berganti lega.
Setelah komunikasi berhasil terjalin, pasangan tersebut akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan, menyusul rombongan menuju Banyuwangi.
Kisah ini menjadi potret kecil dari pentingnya kehadiran posko mudik di jalur-jalur padat. Bukan sekadar tempat singgah, tetapi juga ruang pertolongan saat pemudik menghadapi situasi tak terduga.
DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember sendiri menyiagakan Posko Gotong Royong di titik strategis, tepat di depan rest area Jubung. Posko ini beroperasi hingga H+5 Lebaran, melayani pemudik selama 24 jam.
Di tengah panjangnya perjalanan mudik, kisah Icham dan Aura mengingatkan bahwa selalu ada tangan-tangan yang siap membantu.
Karena pada akhirnya, mudik bukan hanya soal sampai tujuan—tetapi juga tentang bagaimana setiap perjalanan dijaga agar tetap aman, hangat, dan penuh kepedulian. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









