SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya tengah mengkaji pengembangan sistem transportasi publik baru, mulai dari pembangunan jalur transportasi massal yang menghubungkan wilayah timur hingga barat kota, juga perluasan layanan ke kawasan kampus.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, kajian pembangunan transportasi massal tersebut dilakukan bersama konsultan dari Inggris untuk memastikan proyek yang direncanakan benar-benar layak secara finansial dan tidak membebani masyarakat.
Menurut Eri, konsep transportasi urban yang sedang dikaji tidak hanya mencakup wilayah Surabaya, tetapi juga berpotensi terhubung dengan daerah penyangga seperti Sidoarjo dan Gresik.
“Jadi kita sudah ada perencanaan dari Inggris, yang kota urban itu menggabungkan tidak hanya Surabaya saja, tetapi juga ada kontak dengan wilayah Sidoarjo dan Gresik,” ujar Eri, Kamis (12/3/2026).
Meski demikian, fokus utama yang saat ini dikaji adalah pembangunan jalur transportasi massal yang melintasi Surabaya dari timur ke barat. Pemkot Surabaya ingin memastikan seluruh perhitungan biaya, termasuk potensi penggunaan layanan oleh masyarakat, dilakukan secara matang sebelum proyek tersebut dijalankan.
Eri menegaskan pihaknya tidak ingin pembangunan transportasi massal berakhir tidak optimal seperti yang terjadi di beberapa daerah lain. “Perhitungannya harus jelas, termasuk biaya dan jumlah penumpang. Jangan sampai seperti di daerah lain yang sudah membangun MRT atau LRT tetapi akhirnya tidak berjalan maksimal,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga mempertimbangkan secara cermat skema pembiayaan proyek transportasi massal tersebut.
Eri menjelaskan, berbeda dengan kota seperti Jakarta yang mendapat dukungan APBN, pembangunan transportasi massal di Surabaya kemungkinan besar akan menggunakan APBD.
Karena itu, pemerintah kota akan menghitung secara detail biaya operasional serta besaran tarif agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Nanti kita lihat berapa biaya operasional dan ongkos per orangnya. Kalau tidak memberatkan masyarakat, maka proyek itu akan kita jalankan,” ujarnya.
Selain mengkaji pembangunan jalur transportasi massal baru, Pemkot Surabaya juga membuka peluang kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk memperluas layanan transportasi publik, khususnya di kawasan kampus.
Menurut Eri, salah satu rencana yang tengah dipertimbangkan adalah pembangunan halte transportasi publik yang terintegrasi dengan area kampus guna mempermudah mobilitas mahasiswa. “Peminatnya cukup tinggi. Karena itu kami juga melihat kemungkinan kerja sama dengan kampus-kampus, misalnya dalam pembangunan halte,” katanya.
Uji coba layanan transportasi yang menjangkau kawasan pendidikan sebenarnya telah dilakukan, salah satunya pada rute yang menghubungkan kawasan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dengan sejumlah titik di Surabaya.
Namun cakupan rute tersebut dinilai belum menjangkau seluruh kawasan kampus sehingga masih perlu dilakukan evaluasi. Pemkot Surabaya saat ini masih mengkaji pengaturan rute yang paling efektif agar layanan transportasi publik tersebut benar-benar dimanfaatkan masyarakat, termasuk mahasiswa.
“Kalau rutenya tidak dilewati tentu percuma. Jadi saat ini kami masih mendiskusikan pengaturan rute yang paling tepat,” ujar wali kota yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu. (gio/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










