NGANJUK – Menjelang senja di bulan Ramadan, Pendopo KRT Sosro Koesoemo Nganjuk tampak berbeda dari biasanya. Jika pada hari-hari biasa tempat ini menjadi ruang resmi pemerintahan, Minggu (8/3/2026) sore itu pendopo berubah menjadi ruang kebersamaan rakyat.
Sejak sekitar pukul 16.30 WIB, ribuan warga mulai memadati kawasan pendopo hingga area Alun-Alun Nganjuk. Mereka datang dari berbagai kecamatan untuk mengikuti buka puasa bersama yang digelar Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi.
Di atas hamparan tikar panjang, warga duduk bersila berdampingan tanpa sekat. Pedagang kecil, tokoh masyarakat, aparat pemerintah hingga pejabat daerah berada dalam satu ruang yang sama, menunggu waktu berbuka.
Pemerintah Kabupaten Nganjuk menyiapkan ribuan porsi hidangan berbuka yang dibagikan gratis kepada masyarakat. Suasana terasa hangat dan akrab. Percakapan ringan terdengar di antara warga yang duduk berdampingan sambil menunggu azan Maghrib.
Ketika azan Maghrib berkumandang sekitar pukul 17.50 WIB, ribuan warga pun serentak menikmati hidangan berbuka. Sederhana, namun penuh kebersamaan.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi hadir bersama Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro. Turut hadir jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di antaranya Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, Dandim 0810 Nganjuk, Kajari Nganjuk, Ketua Pengadilan Negeri Nganjuk, serta para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Bagi Kang Marhaen—sapaan akrab Marhaen Djumadi—kegiatan ini bukan sekadar buka puasa bersama. Lebih dari itu, momen Ramadan dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.
“Kami mohon doa masyarakat agar bisa menjalankan amanah dengan baik dan membawa kebaikan bagi Kabupaten Nganjuk,” ujar Kang Marhaen dalam sambutannya.
Tak hanya berbuka puasa bersama, dalam kesempatan tersebut Pemerintah Kabupaten Nganjuk juga membuka sejumlah layanan publik bagi masyarakat. Mulai dari pelayanan administrasi kependudukan seperti pencetakan KTP dan kartu keluarga, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga santunan kepada anak yatim.
Di balik suasana sederhana itu terselip pesan tentang kepemimpinan yang dekat dengan rakyat. Ketika pemimpin daerah dan masyarakat duduk dalam hamparan tikar yang sama, jarak antara pemerintah dan rakyat seakan mencair.
Pendopo yang biasanya menjadi simbol kekuasaan, sore itu menjelma menjadi ruang kebersamaan—tempat di mana pemimpin dan masyarakat berbagi waktu, doa, dan harapan di bulan Ramadan.
Semangat kebersamaan itu juga sejalan dengan nilai-nilai kerakyatan yang diwariskan Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, serta amanat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar para kader yang mendapat amanah memimpin daerah selalu hadir dan bekerja di tengah rakyat. (yosua/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










