Kamis
16 Juli 2026 | 10 : 11

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Petani Cabai Rawit di Ngawi Jual Rp 30.000/Kg, Harga di Pasaran Capai Rp 100.000/Kg, Ada Apa Ini?

IMG-20251211-WA0022_copy_766x517

NGAWI – Harga kebutuhan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru di Kabupaten Ngawi terus merangkak naik. Cabai rawit merah menjadi komoditas yang paling mencolok, dengan harga di tingkat pengecer kini mencapai Rp 100 ribu per kilogram.

Pemerintah Kabupaten Ngawi kembali menggelar operasi pasar murah untuk menjaga stabilitas harga agar tetap terjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Namun, di tengah lonjakan harga yang begitu tinggi, para petani justru menghadapi kenyataan pahit: harga jual cabai di tingkat petani jauh di bawah harga pasar.

“Di tengah fenomena harga cabai yang tembus Rp 100 ribu, kami mendapat laporan petani hanya menjual di kisaran Rp 25–30 ribu. Artinya ada spread margin yang luar biasa,” ujar Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, saat membuka operasi pasar, Kamis (11/12/2025).

Menurut Bupati Ony, perbedaan harga yang signifikan itu harus segera dicari penyebab dan solusinya. Ada kemungkinan cabai produksi petani Ngawi tidak terserap maksimal di pasar lokal.

“Rintangan-rintangan ini harus kita carikan solusinya,” katanya.

Temuan lain menunjukkan bahwa sebagian pedagang pasar justru mendapat pasokan cabai dari luar daerah, bahkan ada yang telah menjalin kontrak dengan pemasok luar. Kondisi ini membuat harga cabai di pasar tradisional mengikuti harga pasokan dari luar wilayah.

“Sehingga harga itu bukan ditentukan pedagang kita, tetapi mengikuti harga dari luar daerah,” ungkap Bupati Ony.

Selain itu, petani dan pedagang lokal masih terkendala akses permodalan. Mekanisme pembayaran yang tertunda dari pedagang kepada petani juga menjadi persoalan krusial. Bupati Ony mendorong perbankan untuk hadir sebagai jembatan penyelesaian persoalan tersebut.

“Peran perbankan penting untuk memfasilitasi gap ini. Misalnya petani dipertemukan dengan pedagang, ada kepastian beli, petani dibayar dulu oleh perbankan, sehingga pedagang tinggal beli putus. Ini bisa mengintervensi persoalan stabilisasi harga di lapangan,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa pengendalian harga tidak cukup hanya melalui operasi pasar murah. Intervensi harus menyentuh pasar tradisional secara langsung agar stabilisasi harga berjalan efektif.

“Kita menekan laju inflasi tetap di bawah, tapi yang lebih penting adalah strategi ke depan, bagaimana stabilisasi harga ini bisa langsung terintervensi ke pasar-pasar tradisional kita semuanya,” terangnya.

Dalam operasi pasar tersebut, sejumlah kebutuhan pokok dijual dengan harga lebih terjangkau, di antaranya gula Rp15.000/kg, minyak goreng Rp16.000/liter, daging ayam Rp34.000/kg, cabai rawit Rp81.000/kg, cabai keriting Rp61.000/kg, dan telur Rp26.500/kg. (amd/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Minta Birokrasi Proaktif, Aduan Warga Harus Tuntas Maksimal 1×24 Jam

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta seluruh jajaran Pemkot bekerja proaktif menyelesaikan persoalan masyarakat ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Dorong Digipay, Tutup Celah Mark-Up Anggaran

MALANG – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung penerapan sistem digital payment (digipay) di ...
KABAR CABANG

PDIP Kota Madiun Percepat Penataan Ranting, Perkuat Organisasi hingga Akar Rumput

MADIUN – DPC PDI Perjuangan Kota Madiun mempercepat penataan kepengurusan ranting di seluruh wilayah sebagai bagian ...
KRONIK

Raperda Minol Siap Ditetapkan, Ketua Bapemperda DPRD Tulungagung Beber Urgensinya

TULUNGAGUNG – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Tulungagung tentang Pengendalian dan Pengawasan ...
RUANG MERAH

Kesumat yang Dituntaskan di Menit ke-92

Oleh Diana Sasa* INGGRIS sudah merasa cukup. Mereka unggul 1–0. Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55. Waktu ...
LEGISLATIF

Promosikan Produk UMKM, Komisi B DPRD Magetan Terima Kunker di Rumah Promosi

MAGETAN — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magetan melakukan terobosan baru dalam memanfaatkan ...