PONOROGO – Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, punya cara tersendiri dalam meningkatkan ekosistem ekonomi kreatif melalui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Ponorogo.
Sebelumnya, ia meluruskan, selama ini masyarakat mengartikan UMKM itu hanya sebatas menjual produk makanan. Padahal, UMKM mencakup beragam sektor, mulai dari kuliner, fashion, kerajinan, agribisnis hingga jasa.
“Siapa yang mengurusi jasa properti? Apa itu bukan UMKM? Kita salah kaprah. UMKM jangan dipahami makanan hanya jualan keripik tempe. UMKM itu usaha mikro apapun, dari jasa sampai produk,” ujar Sugiri, Kamis (16/10/2025).
Untuk memasarkan hasil UMKM tersebut, Sugiri selama ini telah memfasilitasi pelaku UMKM melalui berbagai event yang digelar pemkab.
Bahkan, pemkab juga mendirikan galeri UMKM yaitu “Gadung Melati”, tempat yang secara khusus menjual aneka produk UMKM.
“Cara kami dengan menciptakan pasarnya dengan melalui event. Otomatis banyak yang datang sekaligus membeli produk UMKM,” ujar Kang Giri, sapaan akrabnya.
Selain itu, pihaknya juga telah melakukan berbagai pelatihan digital marketing, pembuatan nomor induk berusaha (NIB), hingga jaminan produk halal untuk membantu pelaku UMKM.
Kang Giri pun juga bermimpi produk lokal bisa bersanding dengan produk pabrikan di supermarket/minimarket. Namun, menurutnya masih bertahap dan memerlukan proses yang panjang.
“Usulan teman-teman UMKM minta gerai di waralaba nasional. Kadang-kadang kami juga melihat kalau modalnya kecil, mereka konsinyasi. Konsinyasi ini kalau nggak laku, nggak dibayar. Bayangkan kalau UMKM harus dijejer di etalase, mereka butuh modal besar,” jelasnya.
“Kami persiapan menuju ke kesetaraan itu. Saya nggak rela UMKM diremehkan dengan disandingkan dengan pabrikan. Biar jadi pembeda, kita menyiapkan market tapi berbeda konsep biar berjalan dengan baik. Hanya suatu ketika akan tiba saatnya di sana masanya,” lanjut politisi PDI Perjuangan itu.
Sugiri juga mengungkapkan, UMKM sejatinya tidak hanya menumbuhkan kincir ekonomi dan pendapatan asli daerah (PAD). Ia bahkan membuat program dengan memberikan bantuan ayam petelur bagi keluarga kurang mampu. Program ini dilakukan Pemkab Ponorogo untuk mengentaskan kemiskinan dan stunting.
“Kalau kita berikan 25 ekor ayam petelur dan produktif, itu juga UMKM. Bergizi, atasi kemiskinan. Ini tidak bisa diremehkan. Menanam bawang merah di polybag, ada yang dimakan, sisanya dijual. Kecil-kecil tapi sederhana dan ‘nendang’. Kita nggak muluk-muluk go international. Mimpi kita iya ke sana, step by step harus kita tapaki,” tandasnya. (jrs/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













